Berita

Pengamat Ekonomi dari CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. (Foto: Dok PKS)

Politik

Daerah Menjerit Gegara Anggaran Dipangkas

Dipo Ramli: Jakarta Jangan Lempar Beban ke Pemda

JUMAT, 17 JULI 2026 | 20:31 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Gelombang krisis fiskal yang melanda puluhan pemerintah daerah dinilai bukan sekadar persoalan salah kelola anggaran. Peneliti CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, menilai kondisi itu merupakan dampak langsung dari kebijakan sentralisasi fiskal pemerintah pusat yang memangkas transfer ke daerah, tetapi tetap membebankan berbagai program dan kewajiban kepada pemerintah daerah.

Dalam artikel opininya di The Jakarta Post edisi 17 Juli 2026 berjudul The Price of Centralization: Inside the Regional Budget Crisis, Dipo menyebut berbagai gejolak di daerah menjadi bukti bahwa fondasi keuangan pemerintah daerah tengah berada di titik kritis.

Ia mencontohkan bentrokan ratusan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Tidore, Maluku Utara, yang memprotes rencana pemutusan kontrak sekitar 2.000 pegawai. Di Lhokseumawe, Aceh, sekitar 3.000 tenaga kontrak belum menerima gaji Juli maupun gaji ke-13 karena kas daerah kosong.


Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Cirebon. Bupati bahkan meminta pemerintah pusat kembali mengambil alih beban pembayaran gaji pegawai. Sementara di Nusa Tenggara Timur, sekitar 9.000 tenaga honorer terancam kehilangan pekerjaan akibat keterbatasan anggaran.

Menurut Dipo, akar persoalan terletak pada pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD). Dalam APBN 2026, pemerintah hanya mengalokasikan Rp693 triliun untuk TKD, turun sekitar 20 persen dibandingkan alokasi Rp869 triliun pada 2025. Penurunan itu disebut sebagai tingkat pendanaan nominal terendah bagi pemerintah daerah dalam hampir dua dekade.

Ironisnya, kata Dipo, pengurangan transfer tersebut tidak dibarengi dengan penghematan belanja pemerintah pusat. Sebaliknya, berbagai program nasional tetap diperluas sehingga beban fiskal justru bergeser ke daerah.

"Pemerintah pusat memaksa provinsi dan kabupaten membiayai program-program prioritas Jakarta, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih, melalui pengurangan dana yang seharusnya menopang pelayanan dasar daerah," tulisnya.

Dipo juga menyoroti kebijakan perekrutan besar-besaran PPPK yang sebelumnya diwajibkan pemerintah pusat. Setelah rekrutmen dilakukan, kewajiban pembayaran gaji justru dialihkan kepada pemerintah daerah, sementara transfer anggaran dipangkas. Kondisi itu, menurutnya, menciptakan mandat tanpa pendanaan (unfunded mandate).

Di sisi lain, pemerintah daerah juga tidak memiliki ruang untuk melakukan efisiensi lebih jauh. Sebab, belanja modal dan pembangunan infrastruktur di banyak daerah sudah lama dipangkas. Bahkan pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri melarang kepala daerah melakukan PHK massal terhadap PPPK agar angka pengangguran tidak melonjak.

Akibatnya, sejumlah daerah harus mencari jalan keluar sendiri. Pemerintah Kota Tidore, misalnya, membatalkan rencana pemutusan kontrak pegawai dan memilih memangkas tunjangan aparatur sipil negara serta tenaga kontrak sebesar 30 persen untuk menutup defisit sekitar Rp50 miliar.

Dipo mengingatkan percepatan pencairan Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar Rp132 triliun yang diusulkan Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah hanya akan menjadi solusi sementara. Menurutnya, pemerintah harus segera membenahi sistem transfer fiskal secara menyeluruh.

"Program kesejahteraan nasional tidak bisa dibiayai dengan mengosongkan fondasi keuangan pemerintah daerah. Jika Jakarta terus mensentralisasi sumber daya fiskal sambil mendesentralisasikan beban keuangan, pemerintah justru berisiko melemahkan institusi daerah yang menjadi ujung tombak pelayanan publik," tegas Dipo.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

AMMN Cetak Laba Bersih Rp15,9 Triliun hingga September 2026

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:24

Hasto Ingatkan Kader PDIP Tak Boleh Takut Bela Rakyat

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:01

Kapolres Jakbar Obrak-abrik Kampung Boncos, Tiga Orang Dicokok

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:16

Respons Ijazah Gibran, PDIP: Tidak Ada Kebohongan yang Abadi

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:01

Fahira Idris Apresiasi Kepastian Ujian Ulang Siswa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:36

Prajurit Marinir Perbaiki Jembatan di Distrik Aradide

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:11

Diduga Terjerat Kasus Korupsi, AKBP Edy Songkel Dicopot

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:00

Prabowo Didorong Percepat Reformasi Energi Nasional

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:31

Komunitas Pengawas WNA Desak Dirjen Pajak Telaah Dumas PT BCI

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:14

Jogja Cultural Wellness Festival 2026 Usung Wisata Kebugaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:00

Selengkapnya