Berita

Ilustrasi/Net

Otomotif

Jangan Asal Campur BBM, Mengapa Pertalite dan Pertamax Turbo Tidak Boleh Disatukan?

KAMIS, 09 JULI 2026 | 13:52 WIB | OLEH: ANANDA GABRIEL

Belakangan ini, muncul fenomena di kalangan pengendara yang mencoba mencampur Pertalite dengan Pertamax Turbo.

Tujuannya sederhana: agar biaya bahan bakar lebih irit dengan menggunakan takaran 3:1.

Namun, jangan tertipu dengan asumsi penghematan ini, karena tindakan tersebut sebenarnya sangat tidak dianjurkan dan justru berisiko merusak mesin kendaraan Anda.


Banyak pengguna beranggapan bahwa mencampur 75 persen Pertalite dan 25 persen Pertamax Turbo akan menghasilkan bahan bakar dengan RON 92 yang stabil. Anggapan ini adalah kekeliruan besar.

Secara teknis, kedua jenis BBM ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda.

Pertalite dirancang untuk mesin dengan rasio kompresi 9:1 hingga 10:1, sementara Pertamax Turbo diformulasikan khusus untuk mesin dengan rasio kompresi tinggi, yakni 12:1 hingga 13:1.

Selain perbedaan rasio kompresi, standar emisi keduanya juga kontras. Pertalite memiliki kandungan sulfur maksimal 500 ppm, jauh lebih tinggi dibandingkan Pertamax Turbo yang kandungannya di bawah 50 ppm.

Akibat pencampuran ini, teknologi Ignition Boost Formula yang menjadi keunggulan Pertamax Turbo akan mengalami penurunan drastis hingga kehilangan fungsinya sama sekali.

Dampak bagi kendaraan sangat nyata dan merugikan. Mencampur kedua bahan bakar ini justru membuat mesin rentan mengalami knocking atau "ngelitik".

Akibatnya, sistem ECU kendaraan harus bekerja jauh lebih keras untuk beradaptasi. Hal ini memicu penurunan tenaga mesin, konsumsi bahan bakar yang justru menjadi lebih boros, serta mempercepat penumpukan kerak yang membuat injektor lebih cepat kotor.

Alih-alih menghemat pengeluaran, praktik ini justru mengancam kesehatan komponen mesin Anda.

Demi menjaga performa dan keawetan kendaraan dalam jangka panjang, sebaiknya hindari mencampur bahan bakar dan gunakanlah BBM yang sesuai dengan spesifikasi mesin pabrikan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya