Ilustrasi Candi Prambanan yang Jadi Proyek Strategis Indonesia-India (Sumber: Gemini Generated Image)
Presiden Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi meresmikan dimulainya proyek revitalisasi dan konservasi Kompleks Candi Prambanan di Yogyakarta, Rabu (8/7/2026). Proyek tersebut menjadi salah satu tonggak baru kerja sama budaya antara Indonesia dan India.
Mengutip laman resmi Kementerian Sekretariat Negara, Prabowo mengatakan peresmian proyek tersebut memiliki makna khusus karena Candi Prambanan bukan hanya warisan budaya Indonesia, tetapi juga menjadi simbol hubungan panjang kedua negara yang telah terjalin selama lebih dari 1.000 tahun. Kerja sama ini diharapkan semakin memperkuat hubungan kedua negara melalui pelestarian peninggalan budaya yang memiliki nilai sejarah, arsitektur, dan peradaban tinggi.
Lalu, apa yang membuat Candi Prambanan begitu istimewa hingga menjadi bagian dari proyek strategis kerja sama Indonesia-India?
Sejarah Candi PrambananSejarah mencatat bahwa Prambanan merupakan mahakarya Kerajaan Mataram Kuno yang dibangun melalui proses panjang dan penuh perencanaan. Candi Prambanan mulai dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, raja Kerajaan Medang atau Mataram Kuno, sekitar tahun 850 Masehi.
Informasi tersebut diperkuat oleh Prasasti Siwagrha bertahun 778 Saka atau 856 Masehi yang menjadi sumber tertulis terpenting mengenai pembangunan kompleks percandian ini. Prasasti tersebut diterbitkan oleh penerus Rakai Pikatan, yakni Dyah Lokapala (Rakai Kayuwangi), untuk memperingati peresmian kompleks candi.
Pembangunan kemudian diteruskan dan diperluas pada masa pemerintahan Dyah Lokapala (Rakai Kayuwangi) hingga Rakai Balitung. Seluruh proses pembangunan berlangsung dalam waktu yang panjang dengan melibatkan perencanaan matang, kemampuan teknik bangunan, tenaga kerja, serta penyediaan material.
Dengan demikian, Prambanan bukanlah bangunan yang selesai dalam satu malam sebagaimana dikisahkan dalam legenda. Keberadaan Prasasti Siwagrha sekaligus menjadi bukti paling kuat mengenai asal-usul berdirinya Candi Prambanan serta menegaskan fungsinya sebagai pusat pemujaan agama Hindu pada masa kejayaan Kerajaan Mataram Kuno.
Jauh sebelum dikenal dengan nama Prambanan, kompleks percandian ini bernama Siwagrha. Istilah yang berasal dari bahasa Sanskerta. Kata Siwa merujuk kepada Dewa Siwa, sedangkan grha berarti rumah atau kediaman.
Nama tersebut mencerminkan fungsi utama kompleks candi sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa, dewa tertinggi dalam tradisi Hindu aliran Siwaisme. Makna itu tampak jelas pada susunan kompleks percandian. Candi Siwa berdiri sebagai bangunan tertinggi sekaligus menjadi pusat seluruh kawasan.
Di ruang utamanya terdapat arca Dewa Siwa Mahadewa yang menjadi pusat pemujaan sekaligus simbol kekuasaan spiritual Kerajaan Mataram Kuno. Keberadaan Candi Prambanan tidak hanya dimaksudkan sebagai tempat ibadah.
Kompleks ini juga menjadi penanda kebesaran Kerajaan Mataram Kuno setelah berlangsungnya pergantian dinasti dan perubahan pemerintahan. Kemegahan arsitekturnya memperlihatkan tingginya kemampuan masyarakat Jawa abad ke-9 dalam bidang teknik bangunan, seni pahat, hingga penataan ruang keagamaan.
Secara keseluruhan, Kompleks Prambanan terdiri atas 240 bangunan candi. Tiga di antaranya merupakan Candi Trimurti sebagai candi utama, yaitu Candi Siwa, Candi Brahma, dan Candi Wisnu, yang dikelilingi ratusan candi pendamping atau perwara.
Susunan bangunan tersebut mengikuti konsep Mandala, sementara menara-menara yang menjulang tinggi melambangkan Gunung Mahameru, gunung suci dalam kosmologi Hindu yang dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa. Keistimewaan Prambanan tidak berhenti pada kemegahan bangunannya.
Dinding-dinding candi dipenuhi relief yang mengisahkan epos Ramayana dan Kresnayana. Meski mengangkat cerita yang berasal dari India, para pemahat Jawa Kuno tidak sekadar menyalinnya.
Mereka menghadirkan berbagai unsur budaya lokal sehingga kisah tersebut terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Relief-relief itu juga merekam berbagai gambaran kehidupan saat itu, mulai dari bentuk rumah, pakaian, flora, fauna, hingga nilai-nilai sosial masyarakat Jawa Kuno.
Hal tersebut menunjukkan bahwa Prambanan merupakan hasil akulturasi antara budaya Hindu dengan tradisi Nusantara, bukan sekadar tiruan dari kebudayaan India.