Berita

Lionel Messi. (Foto: @FIFAcom)

Publika

Misi Argentina Menggagalkan Dominasi Eropa

RABU, 08 JULI 2026 | 19:03 WIB | OLEH: AGUNG NUGROHO*

SEJAK Piala Dunia pertama digelar pada 1930, perebutan trofi dunia hampir selalu menjadi duel dua kekuatan besar sepak bola: Eropa dan Amerika Selatan. 

Dalam hampir satu abad sejarah turnamen ini, tidak ada konfederasi lain yang mampu mematahkan dominasi keduanya sebagai kampiun dunia.

Piala Dunia 2026 kembali memperlihatkan rivalitas klasik tersebut, tetapi dengan komposisi yang berbeda.


Babak perempat final dikuasai enam negara Eropa: Spanyol, Belgia, Prancis, Swiss, Inggris, dan Norwegia. Afrika masih memiliki Maroko. Sementara Amerika Selatan kini hanya menyisakan satu nama.

Argentina bukan sekadar peserta, bukan sekadar juara bertahan. Melainkan benteng terakhir sebuah benua.

Seluruh harapan Amerika Selatan kini bertumpu pada satu bendera biru-putih. Jika Argentina tersingkir, maka untuk pertama kalinya di Piala Dunia 2026, perebutan gelar akan sepenuhnya didominasi negara-negara Eropa dan Maroko.

Di atas kertas, situasi ini memang tampak berat. Namun jika ada satu tim yang sudah berkali-kali membuktikan mampu hidup di bawah tekanan, jawabannya hampir selalu sama: La Albiceleste.

Perjalanan Argentina menuju delapan besar sama sekali tidak mudah. Mereka dipaksa bekerja keras menghadapi Tanjung Verde, lalu bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menundukkan Mesir 3-2 dalam salah satu laga paling dramatis di babak 16 besar.

Bagi tim lain, situasi seperti itu bisa menjadi awal kepanikan. Bagi Argentina, itu justru seperti alarm untuk menunjukkan karakter mereka yang sesungguhnya.

Pendukung Argentina mungkin sudah hafal polanya. Mendukung tim ini sering kali lebih menegangkan daripada menunggu hasil ujian atau melihat saldo rekening menjelang akhir bulan.

Tetapi ada satu pola yang terus berulang. Semakin besar tekanannya. Semakin berbahaya Argentina. Di sinilah sejarah memberikan perspektif yang menarik.

Dalam hubungan internasional dikenal konsep Balance of Power, yang berkembang di Eropa sejak Perdamaian Westphalia pada 1648. Intinya sederhana: ketika satu kekuatan tampak terlalu dominan, akan selalu muncul pihak lain yang berusaha mengembalikan keseimbangan.

Tentu saja sepak bola bukan peperangan. Namun olahraga ini berulang kali memperlihatkan pola yang serupa. Dominasi sering kali memunculkan penantang, dan penantang itulah yang kerap mengubah jalan cerita.

Argentina sudah beberapa kali memainkan peran tersebut. Mereka menjadi juara pada 1978. Diego Maradona mengantar mereka ke puncak dunia pada 1986.

Lalu pada 2022, mereka bangkit dari kekalahan di laga pembuka hingga kembali mengangkat trofi dunia. Tidak satu pun gelar itu lahir dari jalan yang mudah. Tekanan justru menjadi habitat yang paling akrab bagi Argentina.

Kini Swiss berdiri sebagai penghalang berikutnya. Tim yang mungkin tidak seramai Spanyol atau Prancis dalam pemberitaan, tetapi terkenal disiplin, rapi, dan sangat sulit ditaklukkan. 

Jika mampu melewati Swiss, kemungkinan besar Inggris atau Norwegia sudah menunggu di semifinal. Artinya, setiap langkah Argentina menuju final harus melewati tembok-tembok Eropa satu demi satu.

Ironisnya, tekanan terbesar justru mungkin berada di pihak Eropa. Dengan enam wakil tersisa, publik mereka tentu berharap trofi tetap berada di Benua Biru. Ekspektasi itu bisa menjadi beban yang tidak ringan.

Sementara Argentina datang dengan peran yang berbeda. Mereka bukan mayoritas. Mereka adalah penantang. Dan sejarah—baik sejarah dunia maupun sejarah Piala Dunia -- berulang kali menunjukkan bahwa perubahan sering lahir dari keberanian para penantang.

Maka laga melawan Swiss bukan sekadar perebutan tiket semifinal. Ia adalah ujian bagi benteng terakhir Amerika Selatan. Karena pada akhirnya, sejarah tidak selalu berpihak kepada mereka yang jumlahnya paling banyak.

Sering kali, sejarah justru dikenang karena keberanian satu pihak yang menolak menyerah. Dan di Piala Dunia 2026, pihak itu bernama Argentina.

*Pemain Bola Kampung

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

Momen Haru, Teddy Kenang Perjalanan Gubernur Pramono di Kantor Setkab

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:16

Fondasi Membangun Ekosistem Informasi yang Sehat di Era Digital

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:14

Jangan Sampai Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Gejolak Pasar

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:11

PDIP Soroti Kasus Febrie: Penegakan Hukum Tidak Boleh Tebang Pilih

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:07

Kuasa Hukum Nadiem Laporkan Dugaan Pelanggaran Etik dan Intimidasi Saksi ke KY

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:04

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KDKMP Diklaim Bisa Tambah Pendapatan Petani hingga Rp263 Triliun

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:59

Transformasi Digital BRI Pacu Pertumbuhan Bisnis Merchant dan Transaksi QRIS

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:51

Chad Ikuti Jejak Burkina Faso, Mali, dan Niger Keluar dari ICC

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:49

Hasto Ogah Tanggapi Kaesang Maju Nyaleg di Jateng

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:36

Selengkapnya