Berita

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah. (Foto: RMOL/Faisal Aristama)

Politik

BPKH Dituntut Putar Otak soal Potensi Biaya Haji 2027 Naik

RABU, 08 JULI 2026 | 17:03 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) diminta untuk lebih kreatif dalam mengoptimalkan pengelolaan dana jemaah guna mengantisipasi potensi lonjakan biaya haji pada tahun 2027 mendatang. 

Langkah itu dinilai jauh lebih tepat ketimbang mengandalkan sokongan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Begitu disampaikan Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah, kepada wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu 8 Juli 2026.


Said secara tegas menolak wacana penggunaan dana APBN untuk menambal kenaikan biaya haji. Menurutnya, ibadah haji pada hakikatnya merupakan ibadah yang diwajibkan bagi mereka yang memiliki kemampuan secara finansial maupun fisik.

"Ya itulah repotnya orang naik haji itu bagi orang yang mampu," kata Said.

Politikus PDIP itu menilai penggunaan APBN untuk membantu biaya haji bagi masyarakat yang tergolong mampu berpotensi menimbulkan persoalan, termasuk dari sisi syariat.

“Lahir dan batin kalau orang yang mampu kemudian pemerintah diminta turun tangan, itu akan jadi problem dari sisi syar'i,” kata Said.

Karena itu, Said meminta BPKH meningkatkan kinerja investasi agar nilai manfaat dana haji semakin besar dan dapat digunakan untuk menahan kenaikan biaya yang harus ditanggung calon jemaah.

Ia berharap keuntungan dari hasil pengelolaan dana haji dapat dimanfaatkan untuk menutup kenaikan biaya penyelenggaraan ibadah haji.

"Dari sisa hasil, dari keuntungan hasil usaha untuk menambal kekurangan atau kenaikan ongkos haji," kata Said.

Said juga mengingatkan APBN seharusnya diprioritaskan untuk mengatasi kemiskinan dan membantu masyarakat yang benar-benar membutuhkan, bukan untuk mensubsidi kelompok masyarakat yang secara syariat telah memenuhi syarat mampu berhaji.

Sebelumnya, Kementerian Haji dan Umrah mengusulkan BPIH 2027 sebesar Rp107.340.172,02 per jemaah atau naik Rp19.930.806 dibandingkan tahun 2026.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya