Berita

Ilustrasi. (Foto:iStock)

Bisnis

Pengusaha Batu Bara Bidik Bisnis Terukur di Tengah Kestabilan Harga

SELASA, 07 JULI 2026 | 00:52 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Stabilnya harga batu bara di tengah gejolak pasar global dinilai memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menyusun strategi bisnis dengan lebih terukur.

Pada periode pertama Mei 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batu bara Acuan (HBA) untuk batu bara 6.322 GAR sebesar 106,57 Dolar AS (Rp1,92 juta) per ton melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 179.K/MB.01/MEM.B/2026. 

Merespons harga tersebut, Komisaris PT Arkara Prathama Energi, Ivan Victor Salim mengatakan stabilitas harga memberikan kepastian bagi perusahaan dalam menyusun rencana kerja, mulai dari target produksi, pengelolaan biaya hingga kontrak penjualan.


"Stabilitas harga memberi ruang bagi perusahaan untuk menyusun rencana kerja lebih rapi. Namun, ruang itu hanya berguna jika biaya produksi, jadwal pengiriman, dan ketersediaan alat bisa dijaga," kata Ivan dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 6 Juli 2026.

Ia menilai, harga acuan yang relatif stabil tidak membuat operasional pertambangan menjadi lebih ringan.

Menurutnya, perusahaan tetap dituntut untuk menjaga efisiensi di lapangan, mulai dari perawatan jalan tambang, kesiapan alat berat, hingga kelancaran proses pengangkutan.

Karena itu, menurut Ivan, perusahaan tambang semakin membutuhkan mitra jasa pertambangan yang mampu bekerja secara presisi dan efisien, bukan sekadar mengejar volume pekerjaan.

Di sisi lain, pemerintah sendiri mulai mengarahkan industri batubara ke produksi yang lebih selektif. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan produksi batubara nasional akan diturunkan guna menjaga harga sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan cadangan sumber daya.

Realisasi produksi batu bara nasional pada 2025 tercatat mencapai sekitar 790 juta ton dan ditargetkan turun menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026. 

Sementara itu, data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu bara mencatat produksi batubara tahun lalu mencapai 817,48 juta ton, dengan pemenuhan kebutuhan pasar domestik sebesar 246,88 juta ton. Dua angka tersebut menunjukkan bahwa batubara masih beroperasi dalam volume besar, meskipun arah produksi mulai ditata ulang.

Dalam kondisi tersebut, Ivan mendorong perusahaan tambang untuk lebih selektif dalam menentukan prioritas operasional.

"Dalam kondisi harga yang memberi kepastian awal, perusahaan tambang biasanya menata ulang prioritas operasi. Mereka akan memilih pekerjaan yang langsung menurunkan biaya, mempercepat pengiriman, atau menjaga keselamatan," ujarnya.

Ia menambahkan, peluang bagi perusahaan jasa pertambangan kini semakin terbuka pada pekerjaan yang mampu meningkatkan efisiensi operasional, seperti mempercepat waktu kerja alat berat, memperbaiki jalan angkut, meningkatkan produktivitas hauling, hingga menekan risiko kecelakaan kerja.

“Di tengah target produksi yang turun, keunggulan teknis dan efisiensi operasional akan menjadi faktor utama dalam menjaga daya saing industri pertambangan batu bara,” pungkasnya.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya