Berita

Yudhi Hertanto. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Dalam Kepungan Multikrisis Global

MINGGU, 05 JULI 2026 | 22:20 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

RINGKIH! Ketika ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum mereda, kerapuhan tatanan ekonomi global terlihat, ditandai inflasi, pelebaran jurang kemiskinan, serta polarisasi sosial yang kian akut. Berbagai krisis ini, tidak datang secara terpisah, saling berkelindan membentuk polikrisis global.

Untuk mengetahui kemana badai membawa, perlu memahami determinisme lanskap fisik, benturan identitas, jebakan kapitalisme domestik, hingga siklus finansial makro.

Panggung geopolitik kontemporer, konflik antarnegara sering diklaim sebagai perebutan pengaruh ideologi atau supremasi politik. Realitanya jauh lebih membumi. Geografi menjadi faktor pembatas permanen, yang mendikte ketakutan dan ambisi terbesar para pemimpin dunia (Marshall, 2015).


Rusia, misalnya, secara historis dihantui ketiadaan benteng alami di Dataran Eropa Utara, membuatnya rentan diinvasi dari barat.

Hanya saja, keberadaan ruang geografis strategis tidak berdiri sendiri, melainkan digerakkan oleh manusia yang terikat memori kolektif dan identitas budaya. Pasca-Perang Dingin, garis pemisah global tidak ditentukan pada batas politik abstrak, melainkan garis patahan peradaban (Huntington, 1996). Konflik abad ke-21 terjadi, karena penegasan identitas kultural dan religius yang menolak dominasi universalisme Barat.

Modernisasi teknologi, ternyata tidak otomatis menghasilkan westernisasi budaya. Sebaliknya, kemajuan ekonomi, justru memberikan rasa percaya diri bagi peradaban non-Barat untuk menuntut kembali ruang pengaruh geografisnya. Di balik benturan fisik dan budaya tersebut, terdapat mesin finansial global yang selalu berhadapan dengan tekanan struktural yang hebat.

Kebangkrutan negara adidaya, bukanlah peristiwa acak, melainkan ujung dari mekanika sejarah yang disebut siklus besar (Dalio, 2021). Ketika kekuatan hegemonik mencapai puncak kejayaan, cenderung mengakumulasi utang berlebihan, dan mulai mencetak uang untuk menutupi defisit.

Proses devaluasi mata uang fiat, tidak hanya menghancurkan daya beli secara global, tetapi juga mempercepat runtuhnya tatanan moneter lama, untuk digantikan oleh kekuatan baru.

Krisis moneter pada tingkat makro, secara langsung memperparah ketimpangan struktural tingkat domestik. Di dalam negeri negara modern, kesenjangan kekayaan yang ekstrem, dipelihara melalui kebijakan yang didesain elite penguasa untuk mengonsentrasikan aset dan kekuasaan (Chomsky, 2017).

Melalui finansialisasi ekonomi dan penghancuran sistem jaminan sosial, beban negara digeser kepada kelas pekerja. Akibatnya, lahir masyarakat frustasi secara ekonomi, pada gilirannya menjadi bahan bakar bagi polarisasi politik dan populisme radikal.

Dampak tragis, dari kombinasi siklus utang dan konsentrasi kekayaan oligarkis adalah kelumpuhan solidaritas, untuk menyelesaikan kemanusiaan mendasar yakni kemiskinan ekstrem. Pengentasan kemiskinan, bukanlah masalah takdir (Sachs, 2005), melainkan persoalan teknis-ekonomis yang membutuhkan diagnosis spesifik, melalui pendekatan ekonomi klinis.

Setiap negara memiliki problematika berbeda, mulai dari jebakan geografis terisolasi, hingga beban penyakit endemik, yang bisa diredakan melalui suntikan modal publik global pada sektor infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan dasar. Sayangnya, negara kaya tengah sibuk menyelamatkan sistem keuangan korosif akibat utang dan konflik internal, membuat komitmen bantuan global sering kali menguap.

Pelajaran penting pada level internasional membawa kesimpulan penting: potret dunia saat ini adalah hasil dari lingkaran setan saling mengunci. Krisis ekonomi domestik melahirkan polarisasi sosial, lantas polarisasi sosial melumpuhkan kebijakan luar negeri, pada akhirnya kelemahan tersebut membuka peluang benturan peradaban untuk memperebutkan ruang geografis tersisa.

Menghadapi tatanan dunia multipolar yang baru, pendekatan tunggal tidak lagi memadai. Kita tidak bisa menyelesaikan konflik global, tanpa memahami determinisme tempat berpijak dan sentimen budaya yang membakar semangatnya.

Di saat yang sama, stabilitas global tidak akan tercapai, selama aturan main ekonomi dunia didikte ketamakan finansial, yang mengabaikan keadilan distributif bagi bangsa-bangsa yang terjebak di dasar tangga ekonomi.

Dunia sedang memformat ulang relasi, dalam struktur yang belum terbayangkan, dan hanya bangsa yang mampu membaca keterpaduan situasi itulah, berpotensi menjadi aktor penting sejarah berikutnya. Kita perlu berupaya!

Penulis sedang Menempuh Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya