Berita

Presiden ke-7 RI, Joko Widodo saat safari politik di Lampung beberapa waktu lalu. (Foto: Dok. Tim PSI)

Politik

Jokowi Pilih Lampung sebagai Awal Safari karena Dianggap Tanah Tak Bertuan

MINGGU, 05 JULI 2026 | 17:41 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Keputusan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadikan Lampung sebagai titik pertama safari politik ke berbagai daerah di Indonesia dinilai bukan tanpa perhitungan.

Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia (ASI), Ali Rif'an menilai, pemilihan Lampung sarat dengan pertimbangan sejarah, budaya, hingga kalkulasi politik.

"Lampung dipilih karena beberapa alasan. Selain memang punya simbol gajah yang kebetulan menjadi logo baru PSI, Lampung juga secara basis adalah Jawa," ujar Ali dalam podcast Siber, dikutip Minggu, 5 Juli 2026.


Alumni Magister Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) itu tak setuju anggapan bahwa pemilihan Lampung hanya sebuah kebetulan.

"Di dalam politik itu semuanya berbasis agenda. Politik tidak berjalan di ruang kosong. Selalu ada agenda politik di balik setiap langkah," tegasnya.

Dari sisi demografi, Lampung punya karakter berbeda dibanding provinsi lain di Pulau Sumatera. Mayoritas penduduknya merupakan keturunan transmigran, terutama dari Pulau Jawa.

"Banyak transmigran asal Jawa yang kini menjadi orang Lampung. Ada asosiasi sosiologis yang bisa dibangun di sana, mengingat Jokowi adalah presiden ketujuh yang berasal dari Jawa," jelasnya.

Tak hanya itu, Lampung juga wilayah menarik secara elektoral karena memiliki tingkat volatilitas pemilih yang tinggi.

"Kalau saya cek datanya, Lampung secara elektoral memiliki volatilitas yang tinggi. Artinya, tidak ada tuannya," ungkap Ali.

Lebih jauh, peta kemenangan partai politik di Lampung terus berubah pada setiap pemilu sejak sistem proporsional terbuka diterapkan. Pada 2004, Lampung dimenangkan oleh Partai Golkar. Kemudian tahun 2009 Demokrat, 2014 dan 2019 PDIP. Baru di tahun 2024 lalu dimenangkan oleh Gerindra.

Karena itu, Ali menilai karakter pemilih Lampung sangat cair dan tidak memiliki loyalitas permanen terhadap satu partai politik.

"Corak pemilihnya cair, mirip Jawa Barat. Tidak ada partai yang konsisten menjadi pemenang," pungkasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Siswa Sekolah Rakyat akan Dilatih 1.000 Taruna Akmil

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:21

Jokowi Pilih Lampung sebagai Awal Safari karena Tanah Tak Bertuan

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:41

OTT Bupati Langkat Temukan 55 Keping Platinum Senilai Rp40 Miliar Lebih

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:16

Hampir 3.000 Orang Tewas, Venezuela Mulai Hentikan Operasi Pencarian Korban Gempa

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:07

Komedian Narji Bikin Khitanan Massal PSI Diserbu Anak-Anak

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:52

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman Ayahnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:26

Sudah Ada Perpres, Pakar: Promosi LGBT di Medsos Bisa Berujung Pengadilan

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:13

PM Singapura Dijadwalkan Bertemu Presiden Prabowo Besok

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:08

Pemerintah Perkuat Literasi Siber Antisipasi Ancaman AI dan Hoaks

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:01

Daftar Lengkap 16 Negara yang Lolos ke Babak 16 Besar

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:55

Selengkapnya