Berita

Foto-foto delegasi asing dan para pejabat yang menghadiri upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, 3 Juli 2026 (Foto: Kantor Pemimpin Tertinggi Iran)

Global

AS Diduga Ancam Sejumlah Negara agar Tidak Hadir ke Pemakaman Khamenei

MINGGU, 05 JULI 2026 | 09:11 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Amerika Serikat diduga melancarkan tekanan diplomatik terhadap sejumlah negara agar tidak mengirimkan delegasi ke prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. 

Tuduhan itu mencuat dalam laporan Kantor Berita Tasnim yang mengutip seorang sumber senior dan menyebut Washington berupaya membatasi partisipasi internasional dalam rangkaian upacara berkabung tersebut.

Menurut laporan itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menginstruksikan seluruh kedutaan besar dan misi diplomatik Amerika untuk menggunakan seluruh saluran yang tersedia guna membujuk pemerintah negara tuan rumah agar tidak menghadiri prosesi pemakaman. 


Tasnim juga menyebut para diplomat AS diminta menyampaikan bahwa kehadiran dalam acara tersebut akan dipandang sebagai “tindakan tidak ramah” dari perspektif Washington.

"Amerika Serikat telah melancarkan kampanye diplomatik besar-besaran dalam beberapa hari terakhir yang bertujuan untuk mencegah negara-negara berpartisipasi dalam upacara peringatan untuk pemimpin yang gugur, Sayyed Ali Khamenei," ungkap laporan tersebut, dikutip Minggu, 5 Juli 2026.

Tasnim lebih lanjut melaporkan, berdasarkan keterangan sejumlah diplomat Arab, Rubio secara pribadi telah mengangkat isu tersebut kepada para menteri luar negeri di sedikitnya lima negara Arab. 

Selain itu, para duta besar AS di sejumlah negara Afrika disebut memperingatkan bahwa keikutsertaan dalam upacara pemakaman dapat berujung pada pengurangan bantuan Amerika kepada negara-negara tersebut.

Akibat tekanan tersebut, Tasnim mengklaim sedikitnya 13 negara memutuskan membatalkan partisipasi mereka dalam prosesi pemakaman, terdiri atas tiga negara Eropa Timur, lima negara Afrika, dua negara Teluk, dan dua negara Asia Timur. 

Sebuah negara besar di Afrika Utara bahkan dilaporkan mengurangi delegasinya karena khawatir terhadap dampak yang mungkin timbul pada hubungan bilateral dengan Amerika Serikat. 

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Washington mengenai tuduhan tersebut.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya