Berita

Ilustrasi Syarat Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan agar Tak Kena Pajak (Sumber: Gemini Generated Image)

Bisnis

Syarat Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan agar Tak Kena Pajak, Simak Aturannya

SABTU, 04 JULI 2026 | 16:58 WIB | OLEH: TIFANI

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan bahwa tidak semua pencairan manfaat Jaminan Hari Tua (JHT) BPJS Ketenagakerjaan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh). Besaran pajak yang harus dibayar peserta bergantung pada cara pencairan, waktu pencairan, serta jumlah manfaat JHT yang diterima.

Melalui akun Instagram resminya, DJP menjelaskan bahwa ketentuan perpajakan atas pencairan JHT telah berlaku sejak 2009 dan hingga kini masih menjadi acuan bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

"Benarkah saat JHT dicairkan pasti kena PPh? Tidak selalu. Perlakuan pajak atas pencairan JHT bergantung pada cara dan waktu pencairannya, sesuai ketentuan yang telah berlaku sejak tahun 2009," tulis Instagram resmi @ditjenpajakri.


Ketentuan tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 68 Tahun 2009 serta Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 16 Tahun 2010.

Syarat agar Pencairan JHT Tidak Kena Pajak


Peserta BPJS Ketenagakerjaan dapat menikmati pencairan JHT tanpa dikenakan pajak apabila memenuhi syarat berikut:


Apabila jumlah manfaat JHT melebihi Rp50 juta, maka hanya nilai yang melebihi batas tersebut yang dikenakan PPh Pasal 21 Final sebesar 5 persen.

Pajak Jika Pencairan JHT Dilakukan Sebagian

Aturan berbeda berlaku bagi peserta yang mencairkan sebagian saldo JHT saat masih aktif bekerja. Dalam kondisi ini, pencairan dikenakan pemotongan PPh Pasal 21 menggunakan tarif progresif sebagaimana diatur dalam Pasal 17 Undang-Undang Pajak Penghasilan dan bersifat tidak final.

Artinya, pajak yang telah dipotong masih harus diperhitungkan kembali dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan sehingga berpotensi menimbulkan status kurang bayar apabila terdapat kekurangan pajak. Sebagai ilustrasi, apabila pekerja mencairkan sebagian saldo JHT sebesar Rp10 juta saat masih aktif bekerja, maka pajak yang dipotong adalah:

Tarif PPh Pasal 17: 5 persen × Rp10 juta
PPh Pasal 21 terutang: Rp500 ribu

Pemotongan tersebut bersifat tidak final.

Contoh Perhitungan Pajak Pencairan JHT Saat Pensiun

Misalnya, seorang peserta telah mencairkan sebagian saldo JHT saat masih bekerja, kemudian mencairkan sisa manfaat sebesar Rp120 juta ketika memasuki masa pensiun dalam jangka waktu kurang dari dua tahun. Perhitungan pajaknya adalah:

Rp50 juta pertama dikenakan tarif 0 persen
Sisa Rp70 juta dikenakan tarif PPh Final 5 persen

Sehingga pajak yang harus dibayar sebesar:

0% × Rp50 juta = Rp0
5% × Rp70 juta = Rp3,5 juta

Total PPh Pasal 21 Final yang dipotong sebesar Rp3,5 juta.

Pencairan JHT Setelah Dua Tahun Pensiun


Ketentuan berbeda berlaku apabila peserta baru mencairkan manfaat JHT pada tahun ketiga atau setelahnya sejak memasuki masa pensiun. Dalam kondisi tersebut, PPh Pasal 21 tidak lagi bersifat final. 

Pajak dihitung menggunakan tarif progresif sesuai Pasal 17 Undang-Undang Pajak Penghasilan sehingga besaran pajak yang harus dibayar dapat lebih tinggi, tergantung total penghasilan wajib pajak pada tahun tersebut. Oleh karena itu, peserta BPJS Ketenagakerjaan yang ingin mengoptimalkan manfaat JHT perlu memahami ketentuan perpajakan sebelum mengajukan pencairan. 

Dengan mengetahui syarat dan waktu pencairan yang tepat, peserta dapat meminimalkan beban pajak sesuai aturan yang berlaku.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya