Berita

Ilustrasi (Tangkapan layar RMOL dari siaran channel YouTube Raymond Chins)

Bisnis

IPO RANS Jual Ekspektasi, Bukan Track Record

SABTU, 04 JULI 2026 | 13:27 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Menjelang pencatatan saham perdana PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Juli 2026, perhatian investor tertuju pada prospek dan valuasi perusahaan. Selama masa penawaran umum yang berlangsung pada 2-8 Juli 2026, saham RANS ditawarkan dengan harga Rp170 per saham. 

Di tengah proses tersebut, analis bisnis Raymond Chin mengulas sejumlah peluang sekaligus risiko yang perlu diperhatikan calon investor.

Menurutnya, rencana IPO RANS menawarkan prospek menarik, namun juga menyimpan sejumlah risiko yang wajib dipahami investor. Laporan keuangan menunjukkan pendapatan perusahaan justru mengalami tren penurunan dalam tiga tahun terakhir.


"Pendapatannya Rp437 miliar, Rp410 miliar, lalu Rp353 miliar. Jadi trennya sebenarnya lagi turun dan turunnya menurut gua enggak tipis," ujar Raymond, dalam podcast-nya yang dikutip redaksi Sabtu 4 Juki 2026.

Ia menjelaskan salah satu penyebab utama berasal dari penurunan bisnis brand deal dan talent management yang anjlok sekitar 51 persen, dari sekitar Rp100 miliar menjadi Rp51 miliar.

"Brand deal sama talent management itu bisnis yang paling align sama jalan tol traffic mereka. Kalau bisnis utamanya kena, itu sinyal yang harus diperhatikan," katanya.

Di sisi lain, Raymond mengakui kondisi perusahaan belum dapat dikatakan mengkhawatirkan. Posisi kas meningkat menjadi sekitar Rp100 miliar, total utang turun sekitar 23 persen, sementara margin laba kotor justru membaik hingga sekitar 43 persen.

"Apakah perusahaan mereka darurat? Enggak juga. Mereka masih doing well. Cuma sebagai investor kita harus lihat bakal grow lagi atau enggak," ujarnya.

Menurut Raymond, tantangan terbesar justru berasal dari model bisnis perusahaan yang sangat bergantung pada figur Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.

Ia mengatakan risiko tersebut bahkan diakui sendiri oleh perusahaan dalam dokumen IPO.

"RANS secara eksplisit menulis bahwa risiko utama perusahaan adalah ketergantungan terhadap figur Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Gua harus appreciate karena mereka jujur," kata Raymond.

Ia menilai persoalan reputasi atau berkurangnya aktivitas pasangan tersebut di dunia hiburan berpotensi langsung memengaruhi bisnis utama perusahaan, khususnya pendapatan dari kerja sama merek dan talent management.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap figur pendiri, Raymond melihat perusahaan mulai melakukan diversifikasi bisnis.

Sebagian dana hasil IPO akan dialokasikan untuk membentuk perusahaan patungan di bidang kecerdasan buatan (AI) bersama PT Fitloop Global Technology. Selain itu, dana juga digunakan untuk mengembangkan Cipungland serta penyelenggaraan konser.

"Secara strategi memang masuk akal. Mereka tahu kelemahan mereka dan mereka coba diversifikasi," ujarnya.

Namun, Raymond mempertanyakan apakah dana IPO sekitar Rp430 miliar cukup untuk membiayai transformasi tersebut hingga menghasilkan sumber pendapatan baru yang stabil.

Dari sisi valuasi, Raymond menilai saham RANS ditawarkan dengan price to earnings ratio (PER) sekitar 30 hingga 38 kali, jauh di atas rata-rata PER IHSG yang berada di kisaran 9,9 kali.

Menurutnya, valuasi premium tersebut menunjukkan investor bukan sedang membeli kinerja perusahaan saat ini, melainkan harapan terhadap pertumbuhan bisnis di masa mendatang.

"Kalau berdasarkan track record menurut gua no go. Tapi kalau kalian percaya, ya itu keputusan kalian juga. Karena yang kalian beli itu ekspektasi, bukan track record," ujar Raymond.

Ia menambahkan, keberhasilan IPO nantinya akan sangat ditentukan oleh kemampuan RANS membuktikan bahwa bisnis baru seperti AI, taman hiburan, konser, maupun pengembangan intellectual property mampu menghasilkan pendapatan yang berkelanjutan.

"Attention economy memang besar. Tapi attention tanpa fondasi bisnis yang bagus, apalagi kalau perhatian publik itu hilang atau kepercayaan menurun, risikonya juga besar," tutup Raymond.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

DJP Blokir Rekening 57 Penunggak Pajak, Nilainya Tembus Rp80 Miliar

Sabtu, 04 Juli 2026 | 12:08

Rakernas Haji Bahas Dua PR Besar: Kesehatan Jemaah dan Layanan Mina

Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:58

MUI: LGBT dan Koruptor Itu Pelanggar HAM Berat!

Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:51

Komisi XIII DPR Dukung Prabowo Terbitkan Perpres Tata Kelola Koperasi Merah Putih

Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:32

Kondisi Korban Penyekapan Mau Print Membaik, Namun Trauma Masih Membekas

Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:13

Komisi XIII DPR Soroti Dugaan Tambang Tanpa AMDAL: Ini Negara Apa?

Sabtu, 04 Juli 2026 | 10:57

Harga Emas Antam Terbang Rp19.000 di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Rp2,67 Juta

Sabtu, 04 Juli 2026 | 10:35

IHSG Sepekan Melemah, Nilai Transaksi Anjlok Hampir 36 Persen

Sabtu, 04 Juli 2026 | 10:33

Skema Modal BPR Lebih Fleksibel, OJK Tegaskan Sanksi bagi Pelanggar

Sabtu, 04 Juli 2026 | 09:57

Kapolda Metro Jaya Bentuk Tim Terpadu Tangani Kasus Penyekapan Karyawan Mau Print

Sabtu, 04 Juli 2026 | 09:42

Selengkapnya