Salah satu siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan. (Foto: Dok. Kemensos)
Di usianya yang baru menginjak 12 tahun, Muhammad Risky Pratama
harus membuang jauh-jauh masa kecilnya yang manja. Demi menyambung hidup
keluarga, bocah asal Bagan Deli, Kota Medan ini saban hari mengayuh
sepeda puluhan kilometer demi menjajakan ikan segar hasil tangkapan
laut.
Langkah kaki Risky terpaksa menjadi penopang keluarga
setelah ibunya merantau ke luar daerah, sementara sang ayah pergi
membangun lembaran baru bersama keluarga lainnya. Kini, Risky hanya
hidup bersama kakeknya, Salamuddin (63) dan sang nenek, Masitah (55).
"Kadang
sehari dapat Rp30 ribu, paling banyak dikasih Rp90 ribu kalau habis
semua ikannya," cerita Risky dengan tegar, dikutip dari siaran pers
Kementerian Sosial (Kemensos), Jumat, 3 Juli 2026.
Anak sulung
dari empat bersaudara ini mengaku tergerak turun ke jalan atas kemauan
sendiri sejak duduk di kelas 6 SD. Ia tak tega melihat kakeknya yang
bekerja mencari kerang harus menghidupi 13 anggota keluarga sendirian
dengan penghasilan Rp30 ribu hingga Rp50 ribu sehari.
"Hasil jualan dibagi nenek. Habis itu nenek beli beras dan pampers adek," ketus Risky polos.
Asa
dan mimpi Risky yang nyaris karam kini kembali membubung tinggi setelah
dirinya diterima di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan.
Kehadiran lembaga pendidikan ini tidak hanya menyelamatkan masa depan
Risky dari putus sekolah, tetapi juga mengukir senyum haru di wajah sang
nenek.
Masitah mengaku sangat bersyukur dengan adanya program
Sekolah Rakyat gagasan Presiden Prabowo Subianto ini. Baginya, program
ini adalah mukjizat yang dikirim Tuhan untuk cucunya.
"Dulu saya
menangis karena tak akan mampu menyekolahkan dia. Cita-cita dia tinggi,
tapi uang tak ada. Sekarang saya menangis lagi, tapi menangis bahagia,"
ujar Masitah.
Semenjak masuk asrama Sekolah Rakyat, Masitah
melihat perubahan drastis pada diri Risky yang kini tumbuh menjadi bocah
mandiri, percaya diri, dan makin taat beribadah.
"Perubahannya
jauh kali. Kalau pulang ke rumah, sekarang keluyurannya bukan main-main
lagi, tapi jalannya ke musala atau masjid," ungkap sang nenek bangga.
Sang
kakek, Salamuddin, juga memuji inisiatif cucunya yang berjiwa petarung,
namun ia menegaskan bahwa pendidikan Risky tetap menjadi harga mati.
"Kita
kan sayang sekolahnya. Kami semangatkan dia untuk sekolah di sini
supaya dia terdidik, menjadi orang sukses nanti," tegas Salamuddin.
Di
balik ketegarannya mengayuh sepeda dan menempa diri di sekolah, Risky
menyimpan kerinduan mendalam pada sang ibu yang terakhir kali ia temui
saat kelas 4 SD.
"Kangen mamak, mau jumpa kaya dulu. Dulu mamak
nyuruh nyuci piring, sekarang nggak lagi. Dulu mamak nyuruh jaga adik,
sekarang nggak lagi," ucap Risky dengan mata berkaca-kaca.
Beruntung,
lingkungan asrama Sekolah Rakyat melatih mentalnya menjadi baja.
Fasilitas lengkap di sekolah asrama tersebut kian memantapkan tekad
Risky untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang prajurit TNI.
"Dulu
saya enggak pandai baca pak, jadi pandai diajarin guru dan wali asrama.
Nggak pandai niat salat dan wudu, sekarang sudah bisa semua," tuturnya
penuh semangat.
Sembari terus mengayuh mimpinya menjadi tentara
di Sekolah Rakyat, bocah tangguh ini menyelipkan pesan menyentuh untuk
sang ibu nun jauh di sana.
"Mamak biar bagus-bagus kerjanya,
jangan terpikir kami dulu di sini agar mamak konsen bekerja. Terima
kasih mamak sudah menjaga kami dari kecil," pungkas Risky.