Berita

Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni. (Foto: Istimewa)

Hukum

Pengakuan Raja Juli Terima Amplop Jadi Petunjuk Baru KPK di Kasus Kuansing

JUMAT, 03 JULI 2026 | 20:16 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan informasi mengenai pengakuan Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni yang menerima amplop dari Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) periode 2025-2030, Suhardiman Amby (SA), akan menjadi bahan pendalaman penyidik dalam mengusut dugaan penerimaan lain terkait pelepasan kawasan hutan.

Jurubicara KPK, Budi Prasetyo mengatakan, informasi tersebut akan menjadi pengayaan bagi penyidik untuk menelusuri apakah pemberian amplop tersebut memiliki keterkaitan dengan proses pengurusan pelepasan izin kawasan hutan.

"Apa yang disampaikan tersebut tentu menjadi pengayaan informasi bagi penyidik. Apakah uang dalam amplop yang diberikan oleh bupati, berkaitan dengan proses pelepasan izin kawasan hutan," kata Budi kepada wartawan, Jumat malam, 3 Juli 2026.


Budi menjelaskan, sejauh ini penyidik telah lebih dahulu memperoleh keterangan mengenai dugaan pengumpulan uang yang dilakukan oleh Suhardiman Amby dari sejumlah koperasi unit desa (KUD) di Kabupaten Kuansing. Temuan tersebut kini menjadi salah satu fokus pendalaman dalam penyidikan.

"Hal ini sebagaimana keterangan awal yang didapatkan KPK adanya pengumpulan uang oleh bupati dari sejumlah KUD di wilayah Kuansing," terang Budi.

Karena itu, KPK membuka peluang memeriksa pihak-pihak yang dinilai mengetahui atau dapat menjelaskan rangkaian peristiwa tersebut, termasuk memeriksa Raja Juli.

"Sehingga penyidik tentu terbuka untuk melakukan permintaan keterangan kepada pihak-pihak yang dapat menjelaskan hal tersebut," pungkas Budi.

Sebelumnya, Menhut Raja Juli Antoni mengakui Suhardiman Amby meninggalkan sebuah amplop saat melakukan audiensi resmi di Kantor Kemenhut pada 2 Juni 2026.

"Dalam audiensi itu, ternyata Bapak Bupati Kuansing meninggalkan amplop yang ditutup dengan map. Ketika beliau pergi, saya baru sadar, dan saya langsung meminta ajudan saya untuk mengembalikan amplop tersebut. Saya tidak tahu isinya apa, tapi saya merasa tidak memiliki hak terhadap amplop tersebut," ujar Raja Juli kepada wartawan di Kantor Kemenhut, Jumat siang, 3 Juli 2026.

Raja Juli menjelaskan, amplop tersebut kemudian dikembalikan oleh ajudannya kepada Suhardiman Amby pada 12 Juni 2026, atau 17 hari sebelum KPK menggelar operasi tangkap tangan (OTT) di Kabupaten Kuansing.

Menurut dia, pengembalian itu disertai tanda terima, dokumentasi foto, dan difasilitasi oleh Polda Riau.

"12 Juni, 17 hari sebelum OTT itu, sebagai tanggung jawab moral saya, sebagai komitmen untuk memberantas korupsi, saya kembalikan amplop yang saya sebenarnya tidak tahu apa isinya dan saya merasa itu bukan hak saya," kata Raja Juli.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu juga menegaskan selama menjabat Menhut dirinya belum pernah menerbitkan persetujuan pelepasan kawasan hutan di Kabupaten Kuansing.

"Tidak ada satu surat pun, tidak ada satu SK pun yang saya keluarkan untuk pelepasan kawasan hutan di Kuantan Singingi. Jadi tidak ada sejengkal kawasan hutan pun yang dalam otoritas saya saya keluarkan menjadi non-kawasan hutan atau APL," tegasnya.

KPK menggelar OTT di Kabupaten Kuansing pada 29 Juni 2026 setelah menerima laporan masyarakat mengenai dugaan suap jabatan di lingkungan Pemkab Kuansing.

Dari operasi tersebut, KPK menetapkan tiga tersangka, yakni Bupati Kuansing periode 2025-2030 Suhardiman Amby (SA), Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Kuansing Zulkarnain (ZKN), dan Direktur Utama PT Mitra Ideal Consultant (MIC) Ardiles (ARD).

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya