Berita

Ilustrasi

Politik

Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Kepercayaan Pasar Mulai Goyah?

KAMIS, 02 JULI 2026 | 16:48 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada penutupan perdagangan Kamis, 2 Juli 2026 sore.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 49 poin atau 0,87 persen ke posisi 5.744,55.

Pada perdagangan hari ini, indeks terus bergerak di zona hijau ke rentang tertinggi di posisi 5.806 dan terendah di level 5.704.


Volume transaksi tercatat mencapai 20 miliar saham dengan nilai Rp10,9 triliun, dengan frekuensi transaksi mencapai 1,5 juta kali.

Sebanyak 395 saham tercatat menguat, 219 saham melemah, sementara 169 saham lainnya stagnan.

Sementara itu di pasar valuta asing, Rupiah terus melanjutkan tren pelemahan. 

Mengutip data Bloomberg, mata uang Garuda turun 43 poin atau 0,24 persen ke level Rp17.995 per Dolar AS dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan tersebut membuat Rupiah semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per Dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap Rupiah terjadi karena menurunnya kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah berbagai sentimen negatif.

"Mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan Indonesia bulan Mei defisit, inflasi melonjak hingga penundaan pengumuman tentang pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI," kata Ibrahim dalam risetnya.

Selain itu, Ibrahim juga menyoroti data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global. Menurutnya, PMI manufaktur Indonesia berada di level 46,9 pada Juni 2026, yang menjadi penurunan terdalam dalam setahun. 

Kondisi tersebut menunjukkan pesanan baru kembali menyusut sehingga mendorong penurunan output manufaktur terbesar sejak April 2025.

Ibrahim menambahkan, sentimen negatif lainnya datang dari laporan lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan, seperti impor dan utang pemerintah.

"Menurut Fitch, penyusutan cadangan devisa terutama dipicu oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi BI di pasar valuta asing untuk menopang Rupiah, serta pembayaran utang luar negeri," pungkasnya.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara 2026 Digelar di JCC, Dorong UMKM Naik Kelas

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:25

Jaksa Agung Rotasi 29 Jaksa Termasuk Dirdik Jampidsus

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:05

Bawaslu Mulai Susun Indeks Kerawanan Pemilu 2029

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:00

Refly Harun Kawal Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:45

Max Blumenthal Soroti Ancaman Kebebasan Pers akibat Kemitraan AS-Israel

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:43

OPM Pimpinan Kopitua Heluka Diduga Dalang Pembunuhan Tiga Warga Sipil di Yahukimo

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:39

Pemuda Jabar Peduli Gelar Santunan untuk Korban Pesta Rakyat Garut

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:36

Gus Yahya Siap Bertarung Lagi Pertahankan Kursi Ketum PBNU

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:32

Pakta Integritas Perempuan Bangsa Wujud Totalitas Besarkan PKB

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:30

Wakapolri Ingatkan Perwira Remaja: Satu Tindakan Menyimpang Rusak Kepercayaan Polri

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:21

Selengkapnya