Berita

Timnas Jerman tersingkir dari babak 32 besar Piala Dunia usai dikalahkan Paraguay lewat drama adu penalti. (Foto: Istimewa)

Publika

Der Panzer Rontok, Bangsa yang Pernah Hampir Punah Justru Melaju

RABU, 01 JULI 2026 | 02:34 WIB | OLEH: AGUNG NUGROHO*

KALAU ada yang bilang sejarah itu cuma pelajaran hafalan di sekolah, mungkin mereka belum nonton laga Jerman kontra Paraguay di babak 32 besar Piala Dunia 2026.

Soalnya, yang terjadi di lapangan bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ini seperti duel dua bangsa yang sama-sama ditempa sejarah, tetapi dengan akhir cerita yang bikin banyak orang melongo.

Der Panzer datang dengan modal mentereng. Bangsa yang pernah menyatukan kerajaan-kerajaan Germanik, melahirkan revolusi industri, dan mengoleksi empat trofi Piala Dunia. Nama besarnya saja sudah cukup bikin lawan berpikir dua kali sebelum menekan.


Sementara Paraguay? Jangan salah.

Bangsa kecil dari Amerika Selatan ini pernah nyaris "dihapus dari peta" setelah Perang Tiga Aliansi pada abad ke-19. 

Penduduknya habis-habisan, wilayahnya menyusut, ekonominya porak-poranda. Tetapi sejak dulu, Paraguay punya satu kebiasaan yang sulit dihilangkan: susah mati.

Mental itulah yang mereka bawa ke Boston.

Jerman memang lebih banyak menguasai bola. Operan rapi, serangan bertubi-tubi, gaya main khas bangsa yang kalau bikin mesin saja presisinya bikin negara lain minder.

Tapi Paraguay cuek.

Mereka bertahan, menggigit, lalu... jleb!

Julio Enciso menyundul bola ke gawang Jerman dan membawa Paraguay unggul 1-0. Stadion langsung riuh, sementara pendukung Der Panzer mulai sibuk mengecek apakah remote TV masih bergaransi.

Babak kedua, Kai Havertz menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Pendukung Jerman pun kembali bernapas lega. "Nah, ini baru Jerman," pikir mereka.

Eh, tunggu dulu...

Perpanjangan waktu datang. Jerman kembali bersorak ketika Jonathan Tah menanduk bola ke gawang Paraguay pada menit ke-102. Para pemain sudah merayakan gol, suporter pun bersiap menyanyikan lagu kemenangan.

Namun, VAR punya rencana lain.

Wasit dipanggil ke monitor. Setelah tayangan diulang, gol Jonathan Tah resmi dianulir karena Waldemar Anton dinilai melakukan pelanggaran terhadap kiper Paraguay, Orlando Gill, sebelum bola bersarang di gawang.

Dalam hitungan detik, euforia berubah menjadi keheningan. Pendukung Jerman yang tadi sudah siap pesta mendadak cuma bisa garuk-garuk kepala. Rasanya seperti sudah mencium aroma sate, eh ternyata tetangga yang lagi bakar.

Laga pun berlanjut ke adu penalti.

Di sinilah mental baja Paraguay benar-benar diuji. Dan seperti sejarah bangsanya yang berkali-kali berhasil bangkit dari keterpurukan, mereka kembali menunjukkan ketenangan ketika tekanan berada di titik tertinggi.

Kiper Orlando Gill menjelma menjadi mimpi buruk bagi Jerman. Ia berhasil menggagalkan eksekusi Kai Havertz dan Nick Woltemade. 

Belum cukup sampai di situ, Jonathan Tah -- yang sebelumnya sudah dibuat frustrasi karena golnya dianulir VAR—kembali mengalami malam yang pahit setelah tendangannya melambung jauh di atas mistar gawang.

Jerman pun mulai merasakan bahwa malam itu memang bukan malam mereka.

Paraguay sebenarnya tidak sepenuhnya mulus. Antonio Sanabria gagal mencetak gol setelah tendangannya melenceng, sementara eksekusi Fabian Balbuena berhasil ditepis Manuel Neuer. Namun bedanya, Paraguay tidak panik. Mereka tetap tenang, tetap fokus, dan tetap percaya diri.

Hasilnya, Paraguay memenangkan adu penalti dengan skor 4-3.

Begitu bola penentu bersarang di gawang, para pemain Paraguay berhamburan merayakan kemenangan. 

Sementara para pemain Jerman hanya bisa berdiri terpaku, seolah masih berusaha memahami bagaimana sebuah pertandingan yang nyaris mereka menangkan bisa berakhir begitu menyakitkan.

Ironisnya, bangsa yang dalam sejarah pernah beberapa kali bangkit setelah kehancuran justru tumbang karena kehilangan ketenangan di momen paling krusial. 

Sebaliknya, bangsa yang pernah nyaris musnah malah menunjukkan bahwa mereka memang sudah terbiasa hidup dalam tekanan.

Sepak bola memang lucu.

Kadang tim yang punya sejarah paling gemilang malah tersandung di babak awal.

Sedangkan tim yang sejarah bangsanya dipenuhi cerita bertahan hidup justru melangkah lebih jauh.

Mungkin benar, trofi bisa diwariskan, statistik bisa dicatat, tetapi mental bertahan hidup tidak bisa dibeli.

Dan malam itu, Paraguay kembali mengajarkan satu pelajaran sederhana kepada dunia.

Jangan pernah meremehkan bangsa yang sudah berkali-kali selamat dari sejarah. Karena bagi mereka, tekanan bukanlah musuh. Tekanan adalah rumah yang sudah lama mereka kenal.

*Pemain Bola Kampung

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya