Presiden ke-7 RI Joko Widodo. (Foto: Dok PSI)
Ritual Presiden ke-7 RI Joko Widodo menginjak kepala kerbau saat menghadiri kegiatan adat di Lampung memunculkan anggapan bahwa Partai Solidaritas Indonesia yang kini dibina Jokowi tengah menyiapkan diri untuk menantang dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Pengamat politik Andi Yusran menilai ada dua faktor yang membuat PSI terlihat semakin menantang PDIP.
“Ada dua hal yang membuat mengapa PSI terlihat sangat anti dengan PDIP. Pertama, ada dendam antara Jokowi dan keluarganya dengan PDIP, terutama setelah Jokowi dan keluarganya dipecat oleh PDIP,” ujar Andi Yusran kepada RMOL, Selasa, 30 Juni 2026.
Faktor kedua, kata dia, berkaitan dengan perebutan basis pemilih yang relatif sama antara kedua partai.
“Kedua, captive market yang sama antara PDIP dan PSI. Sama-sama mengharap pemilih sekuler dan kelas menengah ke bawah,” lanjutnya.
Menurut Andi Yusran, masuknya Jokowi dan keluarganya ke PSI telah mengubah arah dan platform politik partai tersebut secara signifikan.
Sebelumnya, PSI dikenal sebagai partai sekuler perkotaan yang menyasar pemilih pemula dan generasi muda, khususnya Gen Z. Namun kini, kata dia, orientasi partai mulai bergeser ke pemilih pedesaan, wong cilik, dan pemilih pragmatis.
“Masuknya Jokowi dan keluarganya ke PSI setidaknya telah mengubah secara total platform ideologi partai dari yang sebelumnya sekuler perkotaan yang menyasar pemilih pemula dan Gen Z, kini mulai bergeser ke pasar pedesaan, wong cilik, dan pemilih pragmatis,” jelasnya.
Perubahan platform tersebut, lanjut Andi Yusran, membuat PSI berpotensi bertarung langsung di wilayah elektoral yang selama ini menjadi basis kuat PDIP.
“Perubahan platform tersebut menjadikan PSI akan bertarung di wilayah yang selama ini dikuasai oleh PDIP,” pungkasnya.
Ia menilai, jika pergeseran itu berlangsung konsisten, maka persaingan PSI dan PDIP pada pemilu mendatang akan semakin terbuka, terutama dalam memperebutkan pemilih kelas menengah bawah dan wong cilik.