Berita

Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Dr. Muhammad Aras Prabowo (Dokumen pribadi)

Politik

Akademisi NU: Negara Kehabisan Narasi Akuntabilitas

SELASA, 30 JUNI 2026 | 10:00 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Sejumlah pernyataan pejabat publik belakangan ini dinilai mencerminkan persoalan yang lebih mendasar dalam tata kelola pemerintahan, yakni lemahnya disiplin komunikasi publik serta munculnya persepsi menurunnya akuntabilitas pengelolaan keuangan negara.

Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Dr. Muhammad Aras Prabowo, menilai negara modern tidak hanya dituntut menjalankan berbagai program, tetapi juga menjelaskan secara terbuka sumber pembiayaan, skema pelaksanaan, dan ukuran keberhasilan setiap program kepada masyarakat. Menurutnya, pernyataan pejabat yang membuka ruang tafsir luas berpotensi menggerus kepercayaan publik.

"Setelah Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dengan 'pokoknya ada' pada festival rakyat di Monas dan 'Presiden pakai dana pribadi' pada kunjungan ke luar negeri, sekarang Ketua DPD RI meminta masyarakat menyumbang dana untuk program MBG dengan alasan anggarannya menipis. Ini ironi yang dipertontonkan eksekutif dan DPD RI dalam mengelola keuangan negara," tegas Aras kepada wartawan, Selasa, 30 Juni 2026.


Aras menjelaskan, pelibatan masyarakat melalui semangat gotong royong pada dasarnya merupakan nilai yang hidup dalam tradisi Indonesia. Namun, ketika gagasan tersebut dikaitkan dengan pembiayaan program strategis nasional yang telah menjadi bagian dari agenda pemerintah dan dibiayai melalui APBN, komunikasi publik harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan persepsi bahwa negara melepaskan tanggung jawab fiskalnya.

"Untuk apa narik pajak rakyat, kalau ujungnya minta nalangin lagi oleh rakyat. Baik eksekutif maupun legislatif terlalu membebani rakyat. Lupa tugasnya, untuk memastikan dan mensejahterakan rakyat," kata Aras.

Lebih lanjut, Aras menilai pemerintah dan lembaga negara perlu memperkuat transparansi anggaran melalui publikasi data yang mudah dipahami, proyeksi kebutuhan pendanaan yang realistis, serta penyampaian informasi yang konsisten antarpenjabat.

Menurutnya, kepercayaan publik tidak hanya dibangun melalui besarnya program yang dijalankan, tetapi juga melalui kemampuan negara menunjukkan bahwa setiap kebijakan memiliki dasar anggaran yang jelas, mekanisme pengawasan yang kuat, serta pertanggungjawaban yang dapat diuji secara terbuka.

"Ketika komunikasi publik tidak presisi dan akuntabilitas fiskal dipersepsikan lemah, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi pejabat, tetapi legitimasi institusi negara," demikian Aras.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya