Berita

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengganti lambang partainya dari bunga mawar menjadi gajah berkepala merah. (Foto: Istimewa)

Publika

Simbol Gajah Pertanda Kekuasaan Tidak Abadi

SELASA, 30 JUNI 2026 | 02:07 WIB | OLEH: AGUNG NUGROHO*

DALAM sejarah Nusantara, gajah kerap hadir sebagai simbol kebesaran, kekuatan, kewibawaan, dan kemegahan sebuah kekuasaan. 

Tidak sedikit kerajaan maupun tokoh besar yang menjadikan gajah sebagai bagian penting dari simbol politik dan legitimasi kekuasaan mereka. 

Menariknya, sejumlah kekuatan besar yang identik dengan simbol gajah memang pernah mencapai puncak kejayaan, tetapi pada akhirnya mengalami kemunduran dan keruntuhan. 


Dari sini muncul sebuah refleksi historis bahwa simbol gajah tidak hanya melambangkan kejayaan, tetapi juga mengingatkan bahwa tidak ada kekuasaan yang bersifat abadi.

Salah satu contoh paling jelas dapat ditemukan pada Kesultanan Aceh Darussalam. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, gajah menjadi simbol kebesaran negara sekaligus instrumen penting dalam kekuatan militer Aceh. 

Pada periode ini, Aceh tampil sebagai salah satu kekuatan politik dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Pengaruhnya meluas, baik di kawasan Selat Malaka maupun dalam hubungan diplomatik internasional. 

Namun, kejayaan tersebut tidak berlangsung selamanya. Konflik internal di lingkungan istana, persaingan antarelite, perubahan geopolitik kawasan, serta penetrasi kolonialisme Eropa secara perlahan melemahkan posisi Aceh hingga kehilangan supremasinya.

Pola serupa juga dapat ditemukan dalam sejarah Majapahit. Nama Mahapatih Gajah Mada tidak hanya melekat sebagai tokoh sentral, tetapi juga menjadi simbol ekspansi dan kejayaan imperium terbesar dalam sejarah Nusantara. 

Di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai puncak kekuasaan politiknya. Akan tetapi, setelah era tersebut berlalu, kerajaan mulai menghadapi berbagai persoalan internal.
 
Perang suksesi, konflik antarelite, melemahnya otoritas pusat, serta perubahan jaringan perdagangan regional secara bertahap membawa Majapahit menuju masa kemunduran hingga akhirnya runtuh.

Fenomena yang tidak jauh berbeda juga terlihat pada masa pemerintahan Raja Airlangga. 

Dalam berbagai prasasti dan representasi kekuasaan, simbol gajah memiliki posisi penting dalam legitimasi politik kerajaan. 

Airlangga berhasil memulihkan stabilitas politik di Jawa Timur setelah periode kekacauan dan berhasil membangun kembali kekuatan kerajaan. 

Namun, menjelang akhir pemerintahannya, kerajaan dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Janggala dan Panjalu. 

Pembagian tersebut memunculkan fragmentasi politik yang mengakhiri era kekuasaan yang terpusat dan mengubah peta politik di Jawa.

Apabila dicermati secara lebih mendalam, ketiga contoh tersebut memperlihatkan pola sejarah yang relatif serupa. 

Simbol gajah sering kali hadir pada masa puncak kejayaan sebuah kekuasaan. Akan tetapi, kejayaan itu pada akhirnya dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari konflik internal, perebutan kekuasaan, fragmentasi politik, hingga perubahan geopolitik dan ekonomi yang tidak dapat dihindari.

Karena itu, akan terlalu sederhana jika simbol gajah hanya dimaknai sebagai lambang kebesaran semata. 

Dalam perspektif sejarah, simbol gajah juga dapat dipahami sebagai pengingat bahwa setiap kejayaan memiliki siklusnya sendiri. 

Sejarah Nusantara menunjukkan bahwa sebesar apa pun sebuah kekuasaan, pada akhirnya tetap akan menghadapi fase kemunduran. 

Di balik kemegahan simbol gajah, tersimpan pelajaran penting bahwa tidak ada kekuasaan yang mampu bertahan selamanya.

*Direktur Jakarta Institute

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya