Berita

Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus. (Foto: Istimewa)

Politik

Pemerintah Didorong Perhatikan Lima Aspek Tata Kelola Rempang-Galang

SENIN, 29 JUNI 2026 | 06:53 WIB | LAPORAN: ABDUL ROUF ADE SEGUN

Indonesian Audit Watch (IAW) mengidentifikasi sedikitnya lima aspek yang perlu menjadi perhatian pemerintah terkait persoalan investasi di kawasan Rempang-Galang di Kepulauan Riau.

Sekretaris Pendiri IAW, Iskandar Sitorus mengatakan, pertama, kualitas perencanaan kebijakan, yakni memastikan status pertanahan, tata ruang, pengakuan kampung tua, serta kesiapan sosial masyarakat selesai sebelum proyek dimulai.

Kedua, koordinasi antarkementerian dan lembaga. Menurutnya, banyaknya institusi yang terlibat menuntut adanya satu arah kebijakan yang konsisten agar tidak memunculkan tumpang tindih kewenangan.


Ketiga, penguatan sistem pengendalian intern pemerintah. Ia menilai berbagai temuan Badan Pemeriksa Keuangan selama bertahun-tahun mengenai lemahnya perencanaan, koordinasi, dan pengelolaan aset harus dijadikan pelajaran dalam pelaksanaan proyek strategis nasional.

Keempat, manajemen risiko. Menurut Iskandar, pemerintah selama ini cenderung lebih fokus pada risiko investasi dan teknis, sementara risiko sosial belum memperoleh perhatian yang sama.

“Ketika masyarakat merasa tidak didengar, legitimasi sosial akan melemah. Pada akhirnya kondisi itu justru meningkatkan risiko bagi investasi itu sendiri,” kata Iskandar dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu 28 Juni 2026.

Kelima adalah komunikasi publik. Ia menilai pemerintah lebih banyak menonjolkan besarnya nilai investasi dan manfaat ekonomi, tetapi belum memberikan penjelasan yang memadai mengenai status tanah, perlindungan hak masyarakat, maupun penyelesaian persoalan agraria.

Karena itu, Iskandar menilai pengalaman Rempang harus menjadi momentum pembelajaran bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. 

Pemerintah, kata dia, tidak cukup hanya memutuskan apakah proyek dilanjutkan atau dihentikan, melainkan harus membenahi tata kelola secara menyeluruh agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

Ia mendorong pemerintah menindaklanjuti rekomendasi Ombudsman RI, memperjelas status hukum kawasan, menyelesaikan hak-hak masyarakat secara transparan, memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga, serta memastikan setiap investasi baru benar-benar berada di atas lahan yang telah memiliki kepastian hukum.

“Jangan lagi publik hanya disuguhi angka investasi. Yang dibutuhkan masyarakat adalah kepastian hukum, keterbukaan informasi, dan jaminan bahwa hak-hak mereka tetap dilindungi,” kata Iskandar,

Menurut Iskandar, pelajaran terbesar dari Rempang bukan sekadar soal berhasil atau tidaknya menghadirkan investor, melainkan bagaimana negara mampu membangun investasi yang bertumpu pada tata kelola yang baik.

“Investasi yang kuat bukanlah investasi yang paling cepat diumumkan, tetapi investasi yang dibangun di atas kepastian hukum, keadilan sosial, dan kepercayaan publik. Itulah pekerjaan rumah yang kini berada di tangan pemerintahan Presiden Prabowo,” tutup Iskandar. 

pada masa pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo, Rempang Eco-City diposisikan sebagai bagian dari agenda investasi strategis nasional dengan menghadirkan Xinyi Group sebagai investor utama yang digadang-gadang membawa investasi ratusan triliun rupiah serta membuka puluhan ribu lapangan pekerjaan.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

AMMN Cetak Laba Bersih Rp15,9 Triliun hingga September 2026

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:24

Hasto Ingatkan Kader PDIP Tak Boleh Takut Bela Rakyat

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:01

Kapolres Jakbar Obrak-abrik Kampung Boncos, Tiga Orang Dicokok

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:16

Respons Ijazah Gibran, PDIP: Tidak Ada Kebohongan yang Abadi

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:01

Fahira Idris Apresiasi Kepastian Ujian Ulang Siswa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:36

Prajurit Marinir Perbaiki Jembatan di Distrik Aradide

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:11

Diduga Terjerat Kasus Korupsi, AKBP Edy Songkel Dicopot

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:00

Prabowo Didorong Percepat Reformasi Energi Nasional

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:31

Komunitas Pengawas WNA Desak Dirjen Pajak Telaah Dumas PT BCI

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:14

Jogja Cultural Wellness Festival 2026 Usung Wisata Kebugaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:00

Selengkapnya