Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Jejak Kematian Sel

SENIN, 29 JUNI 2026 | 03:30 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

BAYANGKAN sebuah kota yang penduduknya mencapai tiga puluh triliun jiwa. Setiap hari, miliaran warganya meninggal. Anehnya, kota itu tidak pernah dipenuhi kuburan, tidak pernah berbau bangkai, dan tidak pernah berhenti berdenyut. Bahkan, kehidupan di sana justru terus berjalan dengan tertib.

Kota itu adalah tubuh kita sendiri. Sejak kita mulai membaca tulisan ini, entah sudah berapa juta sel yang mengakhiri hidupnya. Sebagian besar segera digantikan oleh sel-sel baru. Kulit berganti. Darah diperbarui. Dinding usus diperbaiki.


Namun ada pula sel-sel yang hampir tak pernah tergantikan, seperti sebagian sel saraf di otak. Tubuh ternyata bukan benda yang tetap. Ia lebih menyerupai sebuah kota yang siang malam membongkar bangunan lama sambil mendirikan bangunan baru.

Namun ada pula sel-sel yang hampir tak pernah tergantikan, seperti sebagian sel saraf di otak. Tubuh ternyata bukan benda yang tetap. Ia lebih menyerupai sebuah kota yang siang malam membongkar bangunan lama sambil mendirikan bangunan baru.

Lalu muncul pertanyaan yang sederhana, tetapi mengganggu rasa ingin tahu. Ke mana perginya bangkai miliaran sel yang mati itu? Apakah hancur begitu saja? Siapa yang membersihkannya dari dalam tubuh kita?

Selama ini para ilmuwan mengira jawabannya cukup sederhana. Ketika sebuah sel sudah tua, rusak, atau membahayakan tubuh, ia “memutuskan pensiun”. Sel itu membongkar dirinya sendiri dengan sangat tertib. Tidak meledak, tidak merusak tetangganya, dan tidak meninggalkan kekacauan.

Bayangkan seorang pegawai yang sebelum pensiun merapikan meja kerjanya, mengembalikan semua inventaris, lalu berpamitan dengan tenang. Dalam dunia biologi, cara mati yang santun ini mempunyai nama ilmiah: apoptosis.

Sebaliknya, ada pula sel yang mati karena “kecelakaan”. Misalnya akibat benturan keras, racun, infeksi, atau luka berat. Sel seperti ini pecah begitu saja. Isinya tumpah ke mana-mana sehingga jaringan di sekitarnya ikut panik.

Ibarat sebuah rumah yang meledak karena tabung gas, seluruh lingkungan menjadi kacau. Para ilmuwan menyebut kematian yang berantakan ini sebagai nekrosis.

Yang menarik, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bahkan pada kematian yang paling tertib sekalipun, ternyata masih ada pekerjaan lain yang selama ini luput dari perhatian.

Penelitian yang dipimpin Stephanie F. Rutter, kandidat doktor di laboratorium Prof. Ivan K. H. Poon, La Trobe University, Australia, menemukan bahwa sel yang mati ternyata meninggalkan sesuatu yang mereka sebut “footprint of death” atau “jejak kematian”.

Temuan itu dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Nature Communications dan melibatkan kolaborasi dengan WEHI serta Toronto Metropolitan University.

Jejak itu bukanlah bekas kaki seperti di pasir. Yang dimaksud adalah paket-paket sangat kecil yang tertinggal di tempat sel itu mati.

Bayangkan seseorang yang tersesat di hutan lalu meninggalkan remah-remah roti agar tim penyelamat tahu ke mana harus datang. Sel yang mati ternyata melakukan hal serupa. Ia meninggalkan paket-paket mungil sebagai penunjuk lokasi.

Paket-paket itu berisi berbagai pesan kimia. Fungsinya sederhana tetapi sangat penting: memanggil “petugas kebersihan” tubuh.

Tubuh kita memang mempunyai pasukan kebersihan yang luar biasa. Mereka berkeliling tanpa henti mencari sampah biologis, membersihkan bangkai sel, mendaur ulang bagian-bagian yang masih berguna, lalu memastikan semuanya tetap rapi.

Kalau pekerjaan itu gagal dilakukan, sisa-sisa bangkai sel akan menumpuk dan memicu “alarm darurat” tubuh berupa peradangan. Dalam jangka panjang, keadaan ini bahkan dapat memicu penyakit autoimun seperti lupus, ketika tubuh justru menyerang dirinya sendiri.

Selama ini para ilmuwan mengira paket-paket penunjuk jalan itu hanyalah bagian kecil dari proses pembersihan. Ternyata tidak. Paket-paket itu justru memainkan peran yang sangat penting agar pasukan kebersihan menemukan lokasi yang tepat.

Namun, seperti banyak kisah dalam kehidupan, niat baik sering kali dimanfaatkan pihak lain. Tim peneliti menemukan bahwa virus influenza ternyata mampu menyelinap ke dalam paket-paket kecil tersebut.

Bayangkan seorang penyelundup yang bersembunyi di dalam truk pengangkut sampah kota. Petugas mengira mereka sedang mengangkut limbah biasa, padahal di dalamnya ada penjahat yang sedang mencari jalan masuk ke lingkungan berikutnya.

Begitulah kira-kira yang dilakukan virus. Ia memanfaatkan sistem kebersihan tubuh untuk berpindah dari satu sel ke sel lainnya tanpa segera dikenali. Dengan kata lain, virus menggunakan mekanisme yang semula diciptakan untuk menjaga kehidupan sebagai kendaraan untuk menyebarkan penyakit.

Ironisnya di situlah. Alam hampir tidak pernah menciptakan sesuatu yang hanya memiliki satu wajah. Mekanisme yang melindungi kehidupan bisa sekaligus menjadi celah yang dimanfaatkan musuh. Semakin canggih sebuah sistem, semakin cerdik pula cara virus mencari jalan memanfaatkannya.

Bagi dunia kedokteran, penemuan ini jauh lebih penting daripada sekadar menemukan “kantong kecil” yang sebelumnya tidak dikenal.

Jika para ilmuwan memahami bagaimana paket-paket penunjuk jalan itu dibentuk, dikirim, dan dikenali, mereka mungkin dapat merancang obat yang membantu tubuh membersihkan bangkai sel lebih cepat, mengurangi peradangan, sekaligus menutup “jalan tikus” yang selama ini dipakai virus.

Prof. Ivan Poon mengatakan bahwa miliaran sel memang mati setiap hari sebagai bagian dari kehidupan yang normal. Yang mengejutkan, proses kematian itu ternyata bukan pembongkaran yang acak, melainkan sebuah pekerjaan yang sangat teratur. Bahkan setelah mati pun, sebuah sel masih menjalankan tugas terakhirnya: memastikan tubuh tetap bersih.

Mungkin di situlah pelajaran yang paling menyentuh. Sel-sel di tubuh kita tidak berebut hidup selamanya. Mereka tahu kapan waktunya tumbuh, kapan waktunya bekerja, dan kapan harus memberi tempat bagi yang baru. Bahkan ketika pergi, mereka masih meninggalkan petunjuk agar tidak menyusahkan yang ditinggalkan.

Manusia sering kali melakukan sebaliknya. Kita ingin terus bertahan, enggan memberi ruang bagi generasi berikutnya, bahkan kadang meninggalkan begitu banyak “sampah” yang harus dibersihkan orang lain.

Tubuh kita ternyata lebih bijaksana daripada diri kita sendiri. Ia mengajarkan bahwa kematian bukan sekadar akhir kehidupan. Kematian juga bisa menjadi bentuk pengabdian terakhir.

Karena bahkan setelah mati, sebuah sel masih sempat berkata kepada tubuhnya, “Aku sudah selesai. Sekarang, silakan bersihkan tempat ini, agar kehidupan dapat terus berjalan.”

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya