Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Tim Mawar dan Tambang

MINGGU, 28 JUNI 2026 | 04:59 WIB

LOYALIS: Satu nama yang disebutkan ini sangat familiar untuk saya. Dia adalah Untung Budiharto. Dia menjadi Direktur Antam (Aneka Tambang). Ini adalah sebuah perusahan BUMN yang menguasai sektor yang sangat strategis untuk perekonomian Indonesia. 

PT Antam bergerak di bidang pertambangan mineral khususnya emas, nikel dan bauksit. Kalau Anda ingat saat divestasi Freeport pada era Jokowi, PT Antam menjadi pemegang saham terbesar. Walaupun sekarang struktur BUMN berubah. PT Antam menjadi bagian dari holding BUMN yang bernama MIND.ID. Namun tetap, core bisnis Antam itulah yang membuatnya menjadi sangat strategis. 

Sementara Untung Budiharto sendiri, sebagian orang mengingatkan sebagai mantan Pangdam Jaya. Sebagai Pangdam dia tidak banyak prestasinya. Dia tidak banyak bicara pada media. Dia jarang muncul di publik. 


Saya kira ini menjadi pola dari orang-orang seperti Untung. Mereka adalah mantan anggota Tim Mawar yang menculik para aktivis antara 1997-98 sebelum kejatuhan Soeharto. Untung dan kawan-kawannya diadili. Hanya satu yang benar-benar dipecat dari dinas militer. 

Sementara komandan mereka yang paling bertanggung jawab diberhentikan. Malah ada upacara pencopotan tanda pangkatnya dan disiarkan secara luas di media massa. Namun takdir berkata lain. Dengan pertolongan Jokowi. komandan ini kemudian menjadi Presiden RI. Anda tentu tahu bahwa dia adalah Prabowo Subianto. 

Dengan naiknya Prabowo maka hampir semua mantan Tim Mawar duduk di jabatan-jabatan strategis. Ada yang menjadi Kepala Badan Sandi Nasional yang mengurusi intelijen. Ada yang terpilih menjadi gubernur di Sulawesi Utara. Dan, Untung Budiharto menjadi Direktur Utama PT Antam. 

Bukankah mereka dipecat dari dinas militer? Kabarnya mereka bebas oleh Putusan Mahkamah Agung. Hingga sekarang saya gagal mendapatkan amar keputusannya. Mereka tetap di dinas militer dan mendapat promosi. 

Prabowo memberikan Untung (dan banyak perwira lainnya) pangkat kehormatan. Sekarang Untung adalah Letjen (Kehormatan). Dia pensiun dengan Mayjen. 

Untuk rezim ini, militer dianggap lebih mampu untuk mengelola apapun. Sehingga mereka ada dimana-mana: mereka memasak, mereka bertani, beternak, memelihara ikan, mengurusi kesehatan, membangun gedung koperasi sekaligus menjadi pembinanya, mengurus kebun sawit, mengurus tambang, dan lain sebagai. 

Kita tidak tahu apakah mereka benar-benar mampu. Yang jelas, mereka tidak dilatih untuk itu. Kepemimpinan dan manajemen adalah sebuah keterampilan yang dipelajari lama. Sehingga kita tidak tahu apakah kultur ketentaraan itu bisa dipakai untuk dunia bisnis dan ekonomi. 

Setahu saya, tidak ada perusahaan apapun di Indonesia ini berhasil karena dipimpin militer. Perusahan-perusahan seperti Indofood, Djarum, Gudang Garam; atau perusahan-perusahan besar yang mengelola perkebunan sawit atau atau tambang (Bumi, Adaro, dll.); atau perusahan-perusahan otomotif. Atau, perusahan berbasis teknologi seperti Tokped atau Gojek, itu semua dirintis dan dibesarkan oleh orang-orang sipil yang punya visi, mampu berinovasi, dan jeli melihat peluang.  

Bahkan saya percaya bahwa militer sebuah negara bisa lebih efektif dan efisien kalau dikelola oleh orang-orang sipil. Ukraina saat ini unggul dalam perang melawan Rusia karena orang-orang sipilnya membantu militer membangun teknologi drone dan membuat organisasi militernya lebih efektif. 

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel tentang perempuan yang menjadi Ombudsman dalam militer Ukraina. Namanya Olha Reshetylova. Dia membantu para prajurit memperjuangkan hak-haknya jika diselewengkan oleh komandannya. Dan, artikel itu menunjukkan bahwa kemampuan militer Ukraina menjadi jauh lebih baik karena prajuritnya terlindungi hak-haknya dan karenanya bisa bertempur dengan lebih baik.  

Bukan saya tidak setuju mantan militer mengurusi perusahaan. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa ia sudah teruji selain karena dia adalah militer semata. Saya sangat yakin bahwa ada banyak orang yang sangat kapabel yang tumbuh dan besar dalam perusahan itu sendiri. 

Hanya saja, sistem dalam rezim ini tidak punya kepercayaan pada orang-orang profesional yang terlatih lama dan berpengalaman. Rejim ini butuh loyalitas bukan profesionalitas. Biasanya rezim yang butuh loyalitas mutlak akan mengandalkan jaringan nepotisme keluarganya. 

Prabowo hanya punya satu anak. Itu pun bisa menjadi liability untuk politiknya. Oleh karena itu, dia menarik mantan anak buahnya. Hanya dari mereka dia bisa dapat loyalitas.

Sekalipun kadang loyalitas ini mahal harganya. Jika dia terlalu percaya maka anak buahnya akan menganggap itu sebagai tiket untuk bisa menyeleweng. Dadan Hindayana dan dua deputinya di BGN, misalnya. Saya sangat yakin bahwa Dadan dkk itu bukan yang terakhir. Rejim ini sangat korup. Kita bisa melihatnya dengan mata kepala telanjang!

Kemudian soal lain. Di negeri ini, bahkan ketika Anda pernah tercoreng dalam perbuatan sangat tercela, Anda akan tetap bisa berkuasa. Masih ingat narapidana korupsi Idrus Marham, politisi Golkar, berceramah soal moralitas?

Made Supriatma
Akademisi dan pemerhati masalah kebangsaan 


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Prabowo Bertemu Wakil Menteri Perang AS Elbrigde Colby, Bahas Apa?

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:22

Aksi Kocak dan Absurd dalam Film Kung Fu Soccer

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:18

KPK Panggil Pejabat Hingga Pegawai Pemkab Langkat

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:05

Polri Klarifikasi Rutan Bareskrim Disebut jadi Sarang Narkoba

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:01

Legislator Nasdem Minta Negara Kasih Insentif ke Ibu Rumah Tangga

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:56

KPK Panggil Direktur Bank DBS Indonesia di Kasus TPPU Andhi Pramono

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:46

Lawyer Sebut Kasus Pelabuhan Tanjung Perak Sarat Kriminalisasi

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:29

UOB Geser Strategi, Fokus Garap Emerging Affluent dan Kebutuhan Nasabah

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:26

Golkar Dukung Wakil Kepala Daerah Tak Dipilih Lewat Pilkada

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:22

24 Persen Penduduk Sumbang 56 Persen Konsumsi, Ekonom Soroti Kelas Menengah

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:03

Selengkapnya