Berita

Ribuan mahasiswa demo tertib di depan Gedung DPR, Jakarta, Jumat, 19 Juni 2026. (Foto: RMOL/Faisal Aristama)

Politik

Gelombang Aksi Mahasiswa Buah Kekecewaan yang Menumpuk

MINGGU, 21 JUNI 2026 | 08:13 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Gelombang demonstrasi mahasiswa yang belakangan marak dilakukan merupakan akumulasi dari berbagai persoalan politik dan tata kelola pemerintahan yang selama ini menumpuk tanpa penyelesaian yang memuaskan.

Menurut pengamat politik Ray Rangkuti, kemunculan aksi mahasiswa bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Ia bahkan mengaku telah mengingatkan sejak pecahnya demonstrasi besar pada Agustus 2025 bahwa masyarakat tidak akan begitu saja melupakan berbagai persoalan yang terjadi.

"Saya melihat sejak peristiwa Agustus 2025 yang lalu, berulang kali sudah mengingatkan jangan berpikir masyarakat itu lupa. Banyak sekali persoalan yang menumpuk. Ibarat sebuah wadah yang sudah penuh lalu tumpah, itulah yang terjadi saat demonstrasi Agustus 2025 dan bisa jadi situasi yang sama kembali terjadi sekarang," kata Ray lewat kanal Youtube Abraham Samad, Minggu, 21 Juni 2026.


Karena itu, lanjutnya, aksi mahasiswa yang kembali turun ke jalan merupakan respons yang wajar terhadap berbagai persoalan yang dianggap belum terselesaikan.

Ray menilai pemerintah dan DPR sempat menunjukkan perubahan sikap setelah demonstrasi besar tahun lalu. Namun, perubahan tersebut tidak berlangsung lama dan perlahan kembali pada pola lama alias setelan pabrik.

Menurut Ray, satu-satunya perubahan yang terlihat hanyalah berkurangnya aksi pamer kemewahan di kalangan pejabat dan anggota DPR. Namun dari sisi perilaku politik, ia menilai tidak ada perubahan yang signifikan.

Ia mencontohkan proses pembahasan dan pengesahan Undang-Undang Kepolisian yang dinilai berlangsung sangat cepat meskipun terdapat berbagai masukan dari publik dan tim reformasi.

"Salah satu puncaknya yang membuat publik terkejut adalah pengesahan Undang-Undang Kepolisian yang dilakukan sangat terburu-buru," katanya.

Ray juga menyoroti sejumlah program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, Sekolah Rakyat, hingga pelibatan TNI dan Polri dalam sejumlah urusan sipil yang menurutnya menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat.

Di mata publik, kata Ray, DPR tetap menunjukkan pola yang sama, yakni mampu bergerak cepat untuk mengesahkan regulasi tertentu yang dianggap prioritas pemerintah, sementara sejumlah rancangan undang-undang lain yang dinilai penting justru berjalan lambat. Salah satunya RUU Perampasan Aset.

Selain itu, Ray menilai respons pemerintah dan DPR terhadap kritik publik kerap terkesan meremehkan masyarakat. Kondisi tersebut semakin memperbesar jarak antara pengambil kebijakan dan warga.

"Respon dari pemerintah maupun DPR menempatkan masyarakat seperti nggak tahu apa-apa, semua dianggap bodoh, dianggap ini persoalan Anda puas nggak puas, persoalan Anda kecewa nggak kecewa, maka muncullah ada istilah inflasi pengamat," katanya.

Menurut Ray, rangkaian peristiwa tersebut akhirnya membentuk persepsi publik bahwa tata kelola pemerintahan saat ini berjalan tanpa arah yang jelas. Akumulasi itulah yang pada akhirnya mendorong mahasiswa kembali turun ke jalan.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

BGN Setop Sementara Operasional 1.276 SPPG, Ini Sebabnya

Kamis, 17 September 2026 | 01:56

DPR Apresiasi Kejagung Sita Aset dalam Kasus Febrie Tanpa Pandang Bulu

Kamis, 17 September 2026 | 01:30

Perang Dunia Ketiga Is Coming?

Kamis, 17 September 2026 | 01:04

KKP dan FAO Bidik Sektor Perikanan Genjot Ketahanan Pangan

Kamis, 17 September 2026 | 00:49

Kasus Teror di Papua Bikin Masyarakat Ragu dengan Kemampuan TNI-Polri

Kamis, 17 September 2026 | 00:20

Pemimpin Merupakan Refleksi Sistem Politik yang Dibangun Masyarakat

Kamis, 17 September 2026 | 00:01

Pergantian Menteri Harus Jadi Momentum Perkuat Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 16 September 2026 | 23:35

Ada “Nama Ajaib”, Bos Pajak dan Bea Cukai Minta Rotasi Era Purbaya Dibatalkan

Rabu, 16 September 2026 | 23:08

KPK Didesak Bongkar Jaringan Sistematis Korupsi Layanan ATR/BPN

Rabu, 16 September 2026 | 22:41

Prabowo: PT Timah Untung 900 Persen Berkat Efisiensi BUMN

Rabu, 16 September 2026 | 22:36

Selengkapnya