Berita

HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy bersama Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar. (Foto: Dok. Pribadi)

Politik

Piagam Jakarta Bisa jadi Rujukan Muktamar NU untuk Keberlanjutan Prabowo-Gibran

KAMIS, 18 JUNI 2026 | 19:51 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan berlangsung awal Agustus 2026 diharapkan menjadi momentum pemurnian arah perjuangan, bukan arena perebutan kekuasaan.

Demikian antara lain disampaikan tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy. Sosok yang biasa disapa Gus Lilur ini menegaskan, hasil pemilihan pemimpin dalam muktamar akan menentukan posisi NU sebagai penjaga keutuhan bangsa, bukan sekadar alat mobilisasi politik.

"NU adalah bagian dari pendiri republik ini. Maka setiap keputusan besar NU harus selalu ditanyakan, apa artinya bagi keutuhan bangsa?" kata Gus Lilur dalam keterangannya, Kamis, 18 Juni 2026.


Muktamar NU tidak dapat dilepaskan dari konteks kebangsaan yang lebih luas. Di tengah dinamika geopolitik global dan tantangan kohesi sosial nasional, kata dia, NU yang memiliki basis massa besar memikul tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan bangsa.

Ia lantas menyinggung Muktamar ke-34 NU di Lampung pada Desember 2021 yang menurutnya harus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh warga nahdliyin.

"Muktamar ke-34 Lampung harus jadi pelajaran pahit yang tidak boleh dilupakan. Salah memilih pemimpin, dampaknya sangat fatal bagi NU, organisasi jadi terpecah, terseret arus korupsi dan nafsu kuasa," jelasnya.

Ia teringat pada semangat para tokoh Islam saat menyepakati perubahan rumusan Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945 demi menjaga persatuan Indonesia.

Menurutnya, keputusan mencoret tujuh kata dalam Piagam Jakarta bukanlah bentuk kekalahan, melainkan cerminan sikap kenegarawanan yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.

"Semangat Piagam Jakarta itu adalah cara berpikir seorang pemimpin Islam, memilih kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan diri dan golongannya. Semangat itulah yang harus hadir di bilik pemilihan muktamar," tuturnya.

Dalam konteks tersebut, Gus Lilur menilai kepemimpinan NU ke depan perlu mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Ia beralasan, pasangan Prabowo-Gibran berhasil meredam berbagai potensi polarisasi yang sempat muncul di tengah masyarakat.

"Kita sudah melihat jejaknya, polarisasi antara yang disebut cebong dan kampret, serta rivalitas antarinstitusi keamanan negara, yaitu TNI dan Polri. Prabowo dan Gibran menyatukan itu semua," urai Gus Lilur.

Lebih lanjut, Gus Lilur secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Prof Nasaruddin Umar untuk menduduki kursi Ketua Umum PBNU. Sementara posisi Rais Aam dinilainya layak diisi Prof Said Aqil Siradj.

Menurut dia, keduanya merupakan figur ulama dan cendekiawan yang memiliki kapasitas membawa NU semakin diperhitungkan di tingkat global.

"Keduanya profesor asli, ulama tulen, cendekia sejati yang bisa mengharumkan NU di panggung global. NU ini kaya tokoh, jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik," tandasnya.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya