Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi. (Foto: Tangkapan Layar)
Indonesia dinilai memiliki kemampuan ekspor yang kuat karena didukung berbagai komoditas unggulan yang selama ini menjadi andalan pasar global, mulai dari batu bara, timah, nikel, hingga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, posisi Indonesia sebagai salah satu produsen komoditas terbesar di dunia menjadi modal penting bagi perekonomian nasional.
"Kalau untuk ekspor kita masih cukup bagus karena kita punya batu bara, timah, nikel, dan CPO yang merupakan salah satu ekspor unggulan," kata Ibrahim di Kanal Youtube Bambang Widjojanto, Kamis, 18 Juni 2026.
Selain itu, Indonesia juga memiliki potensi besar di sektor gas alam yang saat ini tengah dikembangkan pemerintah untuk memperkuat sektor energi dan ekspor nasional.
Meski demikian, Ibrahim menyoroti fakta bahwa Indonesia hingga kini belum memiliki pengaruh besar dalam menentukan harga komoditas yang diproduksinya sendiri di pasar internasional.
Ia mengingatkan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia merupakan salah satu penghasil komoditas terbesar di dunia, tetapi belum memiliki kewenangan menentukan harga komoditas tersebut.
"Indonesia memang salah satu penghasil komoditas terbesar di dunia, tetapi harganya tidak bisa ditentukan oleh Indonesia. Yang menentukan adalah negara lain karena pusat bursanya bukan berada di Indonesia," ujarnya.
Menurut Ibrahim, Indonesia selama ini lebih berperan sebagai pemasok atau tempat pengambilan barang bagi negara-negara yang memiliki bursa komoditas internasional.
Ia mencontohkan perdagangan CPO yang masih mengacu pada bursa di Malaysia. Sementara harga timah dan nikel banyak ditentukan oleh perdagangan di London Metal Exchange (LME), Inggris.
"Ketika kita menjual komoditas tersebut, harga yang digunakan adalah harga yang sudah ditentukan oleh bursa-bursa internasional itu," jelasnya.
Hal serupa juga terjadi pada perdagangan batu bara yang mengacu pada mekanisme pasar global yang berpusat di berbagai bursa komoditas dunia.
Karena itu, meskipun Indonesia merupakan salah satu eksportir terbesar batu bara, timah, nikel, dan CPO, komoditas-komoditas tersebut belum dapat menggunakan harga acuan yang ditetapkan sendiri oleh Indonesia.
Ibrahim juga menegaskan bahwa transaksi perdagangan komoditas global hingga saat ini masih didominasi penggunaan dolar Amerika Serikat sebagai mata uang utama.
"Walaupun Indonesia salah satu negara ekspor penghasil batubara kemudian timah, nikel, dan CPO terbesar tetapi tidak bisa dijadikan sebagai acuan apalagi menggunakan mata uang rupiah tapi tetap harus menggunakan mata uang dolar karena dolar itu yang ditransaksikan di pasar global," pungkasnya.