Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Hukum

Kepastian Hukum Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Bukan Pendekatan Militeristik

RABU, 17 JUNI 2026 | 14:48 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) menilai kepastian hukum merupakan faktor utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi. 

Sebaliknya, pendekatan militeristik dalam pengelolaan sektor-sektor sipil dinilai berpotensi mengganggu iklim usaha dan menurunkan kepercayaan investor.

Ketua Badan Pengurus Nasional PBHI, Kahar Muamalsyah, mengatakan tren militerisasi serta kecenderungan otoritarianisme yang mulai merambah berbagai sektor sipil dapat menciptakan ketidakpastian bagi pelaku usaha.


“Dalam ekonomi modern dibutuhkan kebebasan berusaha, kompetisi yang sehat, dan kepastian hukum. Bagaimana investor mau masuk jika muncul kesan bahwa banyak sektor dikuasai secara dominan dan melibatkan militer dalam berbagai urusan ekonomi? Kondisi seperti itu justru menimbulkan ketidakpastian,” ujar Kahar kepada wartawan di Jakarta, Rabu 17 Juni 2026.

Menurutnya, investor membutuhkan regulasi yang jelas, transparan, dan dapat diprediksi. Karena itu, pemerintah perlu menempatkan penguatan supremasi hukum sebagai prioritas utama untuk menjaga daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi.

PBHI juga mengingatkan bahwa salah satu agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto adalah memperkuat reformasi politik, hukum, dan birokrasi. Agenda tersebut dinilai memiliki hubungan erat dengan upaya menciptakan iklim usaha yang sehat melalui pemberantasan korupsi, peningkatan transparansi, serta kepastian hukum.

“Investor membutuhkan kepastian hukum. Jika mereka melihat terlalu banyak intervensi negara dalam aktivitas ekonomi, maka minat investasi bisa menurun. Kita bisa belajar dari berbagai negara yang mengalami ketidakstabilan akibat lemahnya kepastian hukum,” kata Kahar.

Ia juga menyinggung latar belakang Presiden Prabowo sebagai putra ekonom senior Sumitro Djojohadikusumo yang dikenal dengan gagasan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan tata kelola pemerintahan yang baik.

Karena itu, Kahar mengingatkan agar Indonesia tidak kembali pada pola lama yang menempatkan militer aktif di berbagai jabatan sipil.

“Pada masa Orde Baru banyak posisi pemerintahan diisi oleh militer aktif. Saat ini kita tidak bisa lagi berpikir dengan pola seperti itu. Tantangan ekonomi global membutuhkan tata kelola yang profesional dan berbasis kompetensi,” tegasnya.

Meski demikian, Kahar menegaskan PBHI tidak menolak peran institusi militer. Menurutnya, TNI perlu terus diperkuat profesionalismenya sebagai alat pertahanan negara, sementara fungsi keamanan dan penegakan hukum dijalankan oleh lembaga yang memiliki mandat konstitusional.

Lebih lanjut, PBHI meyakini bahwa penguatan supremasi hukum, reformasi birokrasi, serta pembagian peran yang jelas antar-lembaga merupakan fondasi penting untuk menjaga stabilitas politik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.


Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya