Berita

Wamen ATR/BPN Ossy Dermawan. (Foto: Dok. Pribadi)

Nusantara

Program Prioritas Prabowo Membutuhkan Dukungan Lahan

SELASA, 16 JUNI 2026 | 04:25 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan, menjadi pembicara dalam kegiatan Akademi Politik yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Traning Center Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Dalam forum tersebut, Ossy memaparkan peran strategis sektor pertanahan dalam mendukung agenda pembangunan nasional yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Di hadapan peserta Akademi Politik IMM, Ossy menjelaskan bahwa hampir seluruh program prioritas pemerintah membutuhkan dukungan lahan dan tata ruang yang terkelola dengan baik.


“Semua program tersebut membutuhkan lahan dan tanah. Di situlah peran Kementerian ATR/BPN akan mendorong program Asta Cita terlaksana,” ujar Ossy dalam keterangannya, dikutip Senin 15 Juni 2026.

Selain menjelaskan peran kementeriannya, Ossy juga memaparkan kondisi sumber daya agraria Indonesia. Dari total wilayah Indonesia, sekitar 77 persen merupakan lautan dan 23 persen berupa daratan atau sekitar 189 juta hektare.

Menurutnya, dari luas daratan tersebut sekitar 118,1 juta hektare merupakan kawasan hutan yang berada di bawah kewenangan Kementerian Kehutanan. Sementara areal penggunaan lain (APL) seluas 70,1 juta hektare menjadi kewenangan Kementerian ATR/BPN.

“Sementara itu, areal penggunaan lain (APL) seluas 70,1 juta hektare menjadi bagian dari kewenangan Kementerian ATR/BPN. Hingga saat ini sekitar 79,5 persen area yang menjadi kewenangan ATR/BPN telah terpetakan,” jelas Ossy.

Dalam kesempatan itu, Ossy juga menguraikan upaya Kementerian ATR/BPN menyelesaikan pemetaan bidang tanah yang tersisa, terutama di wilayah perbatasan dan kawasan yang berbatasan dengan hutan. Langkah tersebut menjadi fondasi bagi integrasi data pertanahan melalui Kebijakan Satu Peta.

Menurut Ossy, penyatuan basis data menjadi penting untuk mengurangi potensi tumpang tindih pemanfaatan ruang yang kerap memicu konflik agraria.

"Beberapa permasalahan yang terjadi saat ini merupakan akibat belum adanya kesatuan database yang kita miliki, baik di kawasan hutan dan kawasan APL," pungkasnya.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

UPDATE

PR Gus Kikin: Pembenahan Sektor Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi

Sabtu, 05 September 2026 | 00:27

Tiga Ayat NU

Sabtu, 05 September 2026 | 00:11

Kapasitas PSEL Dinilai Belum Cukup Imbas Penutupan 343 TPA

Jumat, 04 September 2026 | 23:56

Pendekar 08 Perluas Bantuan ke Sekolah Hingga Pengungsi Mandiri di NTT

Jumat, 04 September 2026 | 23:40

Garudayaksa FC Gandeng Zentara Sambut Super League

Jumat, 04 September 2026 | 23:28

Gerilya Diplomasi: Menjahit Kepentingan Nasional di Panggung Global

Jumat, 04 September 2026 | 23:20

SMK Go Global Jadi Strategi Siapkan Calon PMI Masuk Bursa Kerja Dunia

Jumat, 04 September 2026 | 23:01

Pemuda Nganggur adalah Hasil Salah Kebijakan

Jumat, 04 September 2026 | 22:40

AMPI Siap Gelar Rapimnas 8 September, Ini yang Dibahas

Jumat, 04 September 2026 | 21:40

wondr by BNI Jadi Official Banking Partner IdeaFest 2026

Jumat, 04 September 2026 | 21:25

Selengkapnya