Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Politik

Stigmatisasi Masih jadi Hambatan Serius Pembangunan Papua

MINGGU, 14 JUNI 2026 | 04:54 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Stigmatisasi terhadap masyarakat Papua masih menjadi persoalan serius yang menghambat upaya membangun kepercayaan, perlindungan warga sipil, dan percepatan pembangunan di Tanah Papua. 

Hal itu disampaikan Koordinator Papua Connection (PACE), Charles Kossay dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Sabtu, 13 Juni 2026.

"Orang Papua sering kali berada dalam posisi yang sulit. Ketika mendukung program pemerintah, mereka bisa dicap sebagai kelompok pro-negara atau 'merah putih'. Namun ketika menyampaikan kritik, mereka justru dicurigai sebagai bagian dari kelompok separatis. Situasi seperti ini tidak sehat bagi kehidupan sosial masyarakat," ujar Charles. 


Ia mengapresiasi langkah Merah Putih Stratejik Institut (MPSI) yang melakukan kunjungan langsung ke Papua untuk melihat kondisi masyarakat secara faktual. 

"Memahami Papua tidak cukup hanya melalui laporan administratif atau narasi yang berkembang di ruang publik, tetapi harus berangkat dari pengalaman dan realitas yang dihadapi masyarakat sehari-hari Papua secara langsung, kita patut apresiasi yang dilakukan MPSI dengan riset advokasi langsung di Papua," ungkapnya. 

Ia menjelaskan bahwa persoalan perlindungan warga sipil di Papua tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang konflik, trauma sosial, ketidakpercayaan antar kelompok, serta persaingan berbagai narasi politik yang selama ini berkembang.

"Ketika stigma terus dipelihara, yang menjadi korban adalah masyarakat sipil. Mereka kehilangan ruang untuk berbicara, kehilangan rasa aman, dan pada akhirnya kehilangan kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan," tegasnya.

Charles menerangkan bahwa pembangunan tidak akan berjalan optimal apabila rasa aman masyarakat belum terjamin. 

"Lihat saja para guru, tenaga kesehatan, pekerja pembangunan, hingga warga yang menjalankan aktivitas ekonomi membutuhkan jaminan keamanan agar dapat berkontribusi secara maksimal," tegasnya lagi. 

Menurut dia, dampak konflik tidak hanya dirasakan dalam aspek keamanan, tetapi juga menyentuh sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat. Sekolah dapat berhenti beroperasi, layanan kesehatan terganggu, aktivitas ekonomi melemah, dan tidak sedikit warga yang terpaksa meninggalkan kampung halamannya untuk mengungsi.

"Di balik setiap pengungsian ada anak-anak yang kehilangan akses pendidikan, ada keluarga yang kehilangan mata pencaharian, dan ada komunitas yang terputus dari kehidupan sosialnya. Karena itu, persoalan pengungsi harus dilihat sebagai isu kemanusiaan yang membutuhkan perhatian serius," ujarnya.

Lebih lanjut, Charles mengingatkan bahwa Papua bukanlah wilayah yang homogen. Setiap daerah memiliki karakter sosial, adat istiadat, sejarah, dan dinamika konflik yang berbeda-beda.

"Situasi di Jayapura tentu berbeda dengan Pegunungan Tengah, berbeda pula dengan Puncak, Wamena, atau Merauke. Karena itu, kebijakan yang diterapkan tidak bisa menggunakan pendekatan yang seragam," ungkap dia.

Ia mendorong agar aparat keamanan non-organik, tenaga pelayanan publik, maupun pihak luar yang bertugas di Papua mendapatkan pembekalan budaya dan pemahaman sosial yang memadai.

"Pengetahuan mengenai struktur adat, sistem marga, peran kepala suku, bahasa sosial masyarakat, hingga trauma kolektif yang pernah dialami warga dinilai penting untuk membangun hubungan yang lebih baik antara negara dan masyarakat," bebernya. 

"Jika kita ingin Papua maju, maka yang pertama harus dibangun adalah kepercayaan. Dan kepercayaan hanya bisa tumbuh ketika masyarakat merasa dihormati, didengar, dan tidak lagi diberi label yang memecah belah," pungkas Charles.


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Negara Hadir, Penanganan Gempa NTT Dilakukan Cepat dan Terkoordinasi

Minggu, 16 Agustus 2026 | 00:26

Legislator PDIP Anggap Semu Keberhasilan Swasembada Pangan Pemerintah

Minggu, 16 Agustus 2026 | 00:18

Anggota PJ91 Gelar Plogging di Lapangan Utama Jamnas 2026

Minggu, 16 Agustus 2026 | 00:01

Dinamika Internal Organisasi Jelang Muktamar NU Makin Panas

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:46

HNI Berkontribusi dalam Gerakan Perekonomian dan Serap Tenaga Kerja

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:38

Program Prabowo Perkuat Layanan Kesehatan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:23

Tantangan Membangun Sistem Pertahanan Udara Nasional

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:00

Transformasi BRI Tuai Pengakuan Global

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:52

Dampak Gempa NTT, Wings Air Batalkan 8 Penerbangan di Ende

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:28

Pemerintah Kerahkan Personel Gabungan ke Daerah Terdampak Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:50

Selengkapnya