Berita

Ilustrasi (Imagined by Babbe)

Bisnis

Harga Minyak Anjlok ke Level Terendah

SABTU, 13 JUNI 2026 | 09:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia turun tajam dipicu kuatnya keyakinan pasar bahwa Amerika Serikat dan Iran akan segera mencapai kesepakatan untuk meredakan konflik di kawasan Teluk Persia.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 11 Juni, waktu Amerika, harga minyak mentah Brent ditutup turun 3,05 Dolar AS atau 3,37 persen ke level 87,33 Dolar AS per barel, menjadi harga terendah sejak awal Maret. Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) merosot 2,83 Dolar AS atau 3,23 persen ke 84,88 per barel, level terendah sejak 17 April.

Penurunan harga terjadi setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran berpeluang menandatangani nota kesepahaman penghentian konflik paling cepat pada akhir pekan ini. Harapan tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan pasokan minyak global akan kembali lancar dan risiko gangguan pengiriman energi dari Timur Tengah berkurang.


Sebelumnya, Presiden Donald Trump membatalkan ancaman serangan udara terhadap Iran. Media Iran juga melaporkan bahwa pembahasan akhir kesepakatan akan berfokus pada isu nuklir dan ekonomi, tanpa membahas program rudal Iran.

Optimisme pasar semakin menguat karena ada harapan bahwa Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia, dapat kembali beroperasi normal.

Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan bahwa risiko kenaikan harga belum sepenuhnya hilang. Persediaan minyak global masih relatif rendah, sementara permintaan energi biasanya meningkat selama musim panas di belahan bumi utara.

Di sisi lain, proyeksi jangka panjang menunjukkan permintaan minyak global mulai melambat. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia tahun 2026 menjadi 970.000 barel per hari, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 1,17 juta barel per hari.

Namun OPEC tetap optimistis konsumsi minyak akan kembali menguat pada 2027. Kartel produsen minyak tersebut memperkirakan permintaan global akan meningkat 1,73 juta barel per hari pada tahun itu, lebih tinggi dibanding perkiraan sebelumnya.

Sementara bank investasi Goldman Sachs menurunkan proyeksi rata-rata harga Brent untuk 2027 menjadi 80 Dolar AS per barel karena ekspektasi pasokan yang lebih besar dan pertumbuhan permintaan yang lebih rendah.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Sandy Rio Kuahaty Nakhodai GAMKI Jakut 2026-2029

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:26

Bawaslu Dorong Transformasi Digital dari Administrasi ke Pengawasan Berbasis Risiko

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:23

Kementerian HAM Perluas Akses Pendidikan Tak Hanya untuk ASN

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:14

Reformasi Kelistrikan Penting untuk Capai Ekonomi 8 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:01

Menkop Kukuhkan Yudi Azis sebagai Rektor IKOPIN Periode 2026–2031

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:44

Bahas Keamanan hingga Lapangan Kerja

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:42

Meracik Horor Komedi di Film Ghosthing, Ini Pandangan Peter Surya Wijaya

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:41

Tanggapi Survei Celios, Gibran Janji Kerja Lebih Baik

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:35

Mantan Pj Gubernur Sulsel Bantah Cawe-cawe Pengadaan Bibit Nanas

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:31

APBD DKI 2027 Diusulkan Rp82,89 Triliun, Naik 4,18 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:20

Selengkapnya