Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Emas dan Perak Terpukul Sentimen Damai AS-Iran

SABTU, 13 JUNI 2026 | 07:43 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga emas dan perak kembali berada di bawah tekanan pada akhir perdagangan Jumat 12 Juni 2026, seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. 

Sentimen tersebut mengurangi permintaan terhadap aset safe haven, sementara ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama turut membebani logam mulia.

Emas diperdagangkan di kisaran 4.200 Dolar AS per ons dan berada di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut. 


Sementara itu, perak bergerak di sekitar 67 Dolar AS per ons dan berpotensi mencatat penurunan mingguan kelima secara beruntun.

Sentimen pasar membaik setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa kesepakatan dengan Iran dapat tercapai dalam waktu dekat. Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan belum ada keputusan final terkait pembicaraan tersebut.

Harapan meredanya konflik di Timur Tengah turut menekan harga minyak, sehingga mengurangi kebutuhan investor untuk mencari perlindungan pada aset-aset aman seperti emas dan perak. Namun, faktor utama yang masih membebani kedua logam mulia tersebut adalah meningkatnya ekspektasi bahwa bank-bank sentral global akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kekhawatiran inflasi kembali menguat setelah lonjakan biaya energi akibat konflik Timur Tengah mendorong kenaikan harga di berbagai sektor. Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis lalu bahkan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 dan merevisi naik proyeksi inflasi untuk 2026 dan 2027.

Dari Amerika Serikat, data terbaru menunjukkan harga produsen (PPI) naik 6,5 persen secara tahunan pada Mei. Angka tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi masih tinggi dan meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga tahun ini.

Kondisi suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas dan perak karena kedua aset tersebut tidak memberikan imbal hasil. Akibatnya, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan keuntungan lebih menarik ketika suku bunga meningkat.


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Selamatkan Aset Negara, UIN Jakarta Jalankan Integrasi SMA/SMK Triguna

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:16

KPK Sita Uang Rp1 Miliar Lebih dan Puluhan Kg Platinum Hasil Korupsi Bupati Langkat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:00

UI Angkat Bicara soal Kajian LGBT Mahasiswa, Begini Tanggapannya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:48

Kronologi OTT Bupati Langkat, Mantan Anggota DPRD Sumut jadi Kurir Uang Suap

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:32

Badko HMI Sulbar Siap Kawal Kasus Kapolres Pasangkayu

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:16

Bupati Langkat juga Terima Cuan Jual Beli Jabatan Camat hingga Kepsek, Segini Nilainya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:56

Sinergi Kemensos-ITB Visi Nusantara Serap Lulusan Sekolah Rakyat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:37

Bupati Langkat Diduga Minta Fee 17 Persen ke Timses Usai Raup Proyek Rp10,2 Miliar

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:12

Arief Poyuono Apresiasi Danantara Gandeng KPK Bersih-bersih BUMN

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:03

Bupati Langkat Syah Afandin dan Tim Sukses Tersandung Kasus Suap

Jumat, 03 Juli 2026 | 23:48

Selengkapnya