Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Sesat Pikir soal Pelemahan Rupiah

JUMAT, 12 JUNI 2026 | 04:50 WIB

BANYAK pihak melakukan analisa ekonomi yang salah kaprah, tidak pada porsi atau tempatnya atas pelemahan Rupiah. Malah, ada para akademisi yang mengaku pengamat ekonomi atau ekonom menjurus ke arah sesat pikir. 

Entah teori ekonomi apa yang digunakan untuk melakukan penilaian kebijakan ekonomi (economic judgement rule) atas menguatnya kurs Dolar AS atas Rupiah dan anjloknya harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Alih-alih, justru nasionalisme kelompok ekonom kapitalisme inilah yang perlu dipersoalkan. Atas dasar dan motif apa mengkritisi kebijakan kemandirian ekonomi yang ditempuh pemerintah?


Menafikkan adanya keterhubungan perekonomian nasional dengan dunia luar (global) tentu juga naif. Akan tetapi, mengaitkan pengaruh dominan keterhubungannya dengan perekonomian nasional juga membuat analisa yang mengada-ada. 

Menunjukkan, pemahaman atas teori dasar pelajaran ekonomi makro dan mikro yang tidak memadai. Meskipun, ekonom bersangkutan memperoleh derajat nilai yang baik di mata mazhab pemikiran arus utama (mainstream) ekonomi dunia, yaitu sistem ekonomi kapitalisme. Khususnya, motif memegang uang sebagai alat tukar dan transaksi.

Pengaruh pelemahan Rupiah atas Dolar AS itu hanya terjadi pada komoditas dengan impor content yang tinggi. Termasuk dalam hal ini juga yang menyimpan mata uang Dolar AS tersebut dalam jumlah besar. Selain daripada itu, takkan ada pengaruhnya, apalagi terhadap rakyat di desa sebagaimana yang disampaikan sebagian besar pengamat ekonomi. 

Seolah-olah, setiap kebijakan ekonomi pemerintah selalu berhubungan dengan pasar modal di BEI dan pasar uang antara kurs Rupiah dan Dolar AS.

Penjelasan Chatib Basri yang mengaitkan pelemahan Rupiah atas Dolar AS atas kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah juga tak masuk akal. Apalagi, menghubungkannya dengan kepercayaan (trust) pasar yang mempengaruhi pelemahannya. 

Pertanyaannya, apakah kepercayaan (trust) itu instrumen atau alat makro ekonomi? Yang patut dipertanyakan adalah cara Chatib Basri mengukur derajat kepercayaan pasar yang psikologis kaitannya dengan pelemahan Rupiah dimaksud.

Tentu analisa dari Chatib Basri sangat aneh (absurd) jika dikaitkan dengan hukum permintaan (demand) dan penawaran (supply) di pasar uang. Jika, uang adalah komoditas yang diperjualbelikan sudah pasti ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang "mempermainkannya" dan ini bukan terkait kepercayaan (trust) pasar. Lebih tepatnya ada perburuan rente atau hasil (yield) terhadap selisih (rate) mata uang Dolar AS atas Rupiah. Faktor inilah yang mestinya diperhatikan seksama oleh Chatib Basri bukan soal psikologi yang bisa diperdebatkan (debatable).

Defiyan Cori
Ekonom Konstitusi


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya