Berita

Mantan Wakil Ketua BGN Sony Sonjaya. (Foto: Bonfilio Mahendra)

Publika

Nyanyian Sony, Ada Membantah, Ada Diam Seribu Bahasa

KAMIS, 11 JUNI 2026 | 14:26 WIB

SONY SONJAYA membocorkan 26 nama. Di antara nama itu ada yang membantah. Ada juga diam-diam baek. Mereka mulai cakar-cakaran. 

Nyanyian Sony Sonjaya, mantan Wakil BGN makin merdu. Melalui kuasa hukumnya, Krisna Murti dan Elza Syarief, Sony mengaku telah menyerahkan 26 nama kepada penyidik dalam Berita Acara Pemeriksaan. 

Nama-nama itu disebut berasal dari kalangan eksekutif, legislatif, hingga yudikatif. Paling banyak dari DPR. Datanya, tersimpan rapi di telepon genggam yang kini sedang menjalani kehidupan baru bersama penyidik Kejaksaan Agung.


Sony menyatakan siap menjadi Justice Collaborator. Bahasa sederhananya, ia tidak mau sendirian naik perahu. Kalau karam, ya ramai-ramai. 

Begitu kabar itu meledak, suasana langsung berubah seperti sarang lebah disiram bensin. Yang paling cepat mengeluarkan jurus bantahan adalah Sumanto, Ketua DPRD Jawa Tengah. 

Sumanto menegaskan informasi yang beredar sama sekali tidak benar. Tidak kenal Sony. Tidak pernah bertemu. Tidak pernah berkomunikasi. Bahkan urusan MBG disebut bukan wilayah DPRD provinsi.

Ini bantahan level dewa. Kurang sedikit lagi mungkin, "Saya baru tahu nama Sony setelah internet ditemukan."

Tak lama kemudian, kubu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, merasa tersindir.  

Mereka menyatakan, AHY tidak mengenal Sony, tidak pernah bertemu, tidak pernah berkomunikasi, dan tidak pernah mengusulkan dua kolonel yang disebut meminta jatah titik dapur. Bersih total. Kinclong. Mengilap. Seperti piring yang dicuci pakai tiga iklan sabun sekaligus.

Bukan cuma itu. Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto, juga ikut mengeluarkan jurus "Ajian Tidak Kenal Sampai Kiamat". 

Fitroh membantah keras narasi media sosial yang mengaitkan dirinya dengan kasus dugaan korupsi di BGN. 

Ia menegaskan tidak mengenal secara personal Sony Sonjaya dan tidak pernah berkomunikasi dengannya. 

Sekarang barisan "Saya Tidak Kenal Sony" sudah bertambah anggota. 

Kalau terus berkembang, bisa-bisa segera terbentuk paduan suara nasional dengan lagu hit berjudul, "Aku Tak Pernah Chat Dia."

Namun yang membuat publik garuk-garuk kepala adalah daftar panjang nama lain yang belum banyak bersuara. Di sana ada Nanik S Deyang, Kepala BGN yang baru. 

Dalam surat terbukanya, Sony bahkan meminta agar Nanik diperiksa karena disebut mengetahui persoalan tersebut. Sampai sekarang belum ada bantahan yang mengguncang langit. Masih tenang. Masih hemat kata. Masih irit suara.

Lalu muncul sederet nama lain yang panjangnya hampir seperti daftar pemain sinetron Ramadan. 

Nama ini beredar luar di medsos, di antaranya; Patris Rumbayan, Suwardi Samiran, Dudung Abdurachman melalui Kepala BGN, Puti Sari dari Gerindra Komisi IX, dr Maharani, Yahya Zaini, Wihadi, Cucun Ahmad Syamsurijal, Bima Arya, Afriansyah Noor atau Ferry Noor, Ahmad Riza Patria, Felly Estelita bersama seluruh wakil ketua Komisi IX kecuali Charles Honoris, seluruh Kapoksi Komisi IX, Dek Gam, Muslim Ayub, Fitroh Basori, Sulvia Dewi Hapsari, Kombes Sumarni, Irma Chaniago, Uya Kuya, Lula Kamal, hingga gabungan GAMBI-Kadin.

Wak, ini bukan daftar tamu nikahan. Ini sudah seperti daftar peserta audisi acara "Siapa Takut Diperiksa?"

Yang lebih gokil lagi, Sony mengatakan, daftar itu masih bisa bertambah karena pemeriksaan baru sebagian. Artinya, episode berikutnya masih mungkin hadir. Season dua. Season tiga. Sampai director's cut.

Sementara Kejagung terus mendalami dugaan penyimpangan penunjukan yayasan mitra SPPG, rakyat cuma bisa duduk sambil menyeruput kopi dan menyaksikan pertunjukan ini dengan wajah antara ngakak dan capek.

Satu orang bernyanyi. Sebagian langsung membantah. Sebagian lagi diam seribu bahasa. Di republik penuh plot twist ini, kadang yang paling berisik bukan yang bicara, melainkan yang mendadak sunyi.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya