Berita

Ilustrasi. (Foto: Instagram RMOL)

Nusantara

Pengguna Yamaha Vixion Mulai Hitung Budget Harian Imbas Kenaikan Pertamax

KAMIS, 11 JUNI 2026 | 05:59 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter yang mulai berlaku pada Rabu, 10 Juni 2026 memantik beragam reaksi dari masyarakat Kota Tasikmalaya.

Selisih harga yang kini mencapai Rp6.250 per liter dibandingkan Pertalite membuat banyak pengguna mulai mempertimbangkan kembali pilihan bahan bakar untuk kendaraan mereka.

Bagi sebagian warga, keputusan di depan nosel SPBU kini bukan hanya soal kualitas bahan bakar, tetapi juga menyangkut kemampuan menjaga keseimbangan pengeluaran rumah tangga.


Di sejumlah SPBU di Kota Tasikmalaya, informasi kenaikan harga tersebut menjadi perbincangan hangat di kalangan pengendara.

Banyak konsumen mengaku terkejut lantaran lonjakan harga Pertamax kali ini mencapai hampir Rp4.000 per liter dibandingkan harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp12.300.

Salah seorang warga Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Asep Ahmad (33), mengaku selama ini setia menggunakan Pertamax untuk sepeda motor Yamaha Vixion miliknya. Namun, kenaikan harga terbaru membuatnya harus kembali menghitung anggaran bulanan.

"Biasanya saya isi sekitar Rp100 ribu sekali mengisi, kurang lebih delapan liter. Dalam sebulan bisa habis sekitar Rp300 ribuan untuk Pertamax," kata Asep kepada wartawan usai mengisi BBM di SPBU 34.46131 Jalan Siliwangi, Kota Tasikmalaya, dikutip Kantor Berita RMOLJabar, Rabu, 10 Juni 2026

Menurutnya, Pertamax selama ini memberikan performa yang lebih baik untuk kendaraannya. Mesin terasa lebih halus dan konsumsi bahan bakar dinilai lebih efisien dibandingkan alternatif lainnya.

"Kalau pindah ke Pertalite sebenarnya sayang. Pertamax memang lebih nyaman buat mesin dan lumayan irit. Tapi kenaikannya sekarang cukup drastis, hampir Rp4.000 per liter, jadi mau tidak mau harus dipertimbangkan lagi," jelasnya.

Apa yang dirasakan Asep menjadi potret dilema yang kini dihadapi banyak pengguna BBM non-subsidi. 

Di satu sisi mereka ingin mempertahankan kualitas bahan bakar demi menjaga performa kendaraan, namun di sisi lain harus menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi dan kebutuhan keluarga yang terus meningkat.

"Ketika harga terus bergerak naik, pilihan di depan pompa BBM bukan lagi sekadar memilih bahan bakar, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan kemampuan ekonomi," ucapnya.

Sementara itu, Pertamina Patra Niaga menjelaskan, penyesuaian harga dilakukan terhadap produk BBM non-subsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Green, setelah melalui mekanisme evaluasi berkala dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian dan telah dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun menyampaikan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi untuk menjaga keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, serta kepastian pasokan energi nasional.

"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan bersama pemerintah sebagai regulator," ujarnya dalam siaran pers resmi.

Di sisi lain, Pertamina memastikan harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sementara Biosolar bertahan di angka Rp6.800 per liter.

Tak hanya Pertamax, Pertamax Green 95 juga mengalami penyesuaian harga menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter. Sementara itu, Pertamax Turbo tetap berada di level Rp20.750 per liter.

Untuk produk diesel non-subsidi, Dexlite dipasarkan seharga Rp23.000 per liter, sedangkan Pertamina Dex berada di angka Rp24.800 per liter. 

Pertamina juga memastikan seluruh pasokan BBM di jaringan SPBU nasional tetap aman dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Biodigester Komunal Sampah Organik Dibangun di Rusunawa

Rabu, 12 Agustus 2026 | 06:11

Polisi Harus Usut Promosi Miras Berkedok Challenge Hafalan Al-Qur'an

Rabu, 12 Agustus 2026 | 06:06

Wisata Probolinggo Jadi Alternatif Usai Bromo Ditutup

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:48

Peluang Besar Jakarta Gaet Investor Lewat JAFEX 2026

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:25

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Layanan Publik Pemda Harus Tetap Berjalan Meski Keadaan Sulit

Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:31

Jangan-jangan Gibran Punya Ijazah Sarjana Tanpa Ijazah SMA

Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:27

Challenge Hafalan Qur'an demi Miras Melukai Hati Umat Islam

Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:10

Abdoel Moeis: Sastrawan, Wartawan, Pahlawan

Rabu, 12 Agustus 2026 | 03:34

Dokter Tifa Ajak Rakyat Hadiri Sidang Praperadilan di PN Jaksel

Rabu, 12 Agustus 2026 | 03:06

Selengkapnya