Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Bursa Asia Merah, Kospi dan Nikkei Tertekan

RABU, 10 JUNI 2026 | 09:04 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Mayoritas bursa saham Asia bergerak turun pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran. 

Kekhawatiran investor terhadap dampak konflik terhadap pasokan energi global membuat minat terhadap aset berisiko berkurang. 

Di Korea Selatan, indeks Kospi turun sekitar 1,7 persen, menjadi salah satu pasar dengan pelemahan terbesar di kawasan. Sementara indeks Nikkei 225 Jepang juga bergerak lebih rendah. 


Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong melemah sekitar 0,7 persen.

Berbeda dengan mayoritas bursa Asia yang bergerak melemah, pasar saham Australia justru menguat. Indeks ASX 200 naik 0,43 persen ke level 8.640,90, didukung penguatan sejumlah saham unggulan dan sentimen pasar yang relatif lebih positif.

Tekanan di bursa Asia terutama berasal dari aksi jual saham-saham teknologi dan semikonduktor. Setelah menjadi motor penguatan pasar selama beberapa bulan terakhir, sektor teknologi kini mengalami koreksi karena investor mulai mengurangi eksposur terhadap saham-saham yang dinilai sudah terlalu mahal. Pelemahan saham produsen chip di Wall Street pada sesi sebelumnya turut menekan sentimen di pasar Asia. 

Pergerakan ini terjadi setelah Wall Street mengalami sesi perdagangan yang bergejolak. Indeks Nasdaq 100 yang sarat saham teknologi tercatat turun sekitar 1,1 persen pada perdagangan Selasa, memperpanjang rotasi investor dari sektor teknologi ke sektor-sektor yang lebih defensif. 

Di tengah tekanan pada pasar saham, investor juga terus memantau perkembangan konflik AS-Iran. Kekhawatiran bahwa situasi dapat mengganggu upaya pembukaan kembali Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS. 

Selain itu, pelaku pasar kini menunggu data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat. Data tersebut dinilai penting untuk menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), yang masih menjadi salah satu faktor utama penggerak pasar global.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

KPK Panggil PNS dan Karyawan Swasta di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:21

Kapolda Riau: Penghargaan Nugraha Sakanti Prestasi Seluruh Personel

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:20

Mahfud MD Ajak Masyarakat Tetap Cintai Polri Seburuk Apa Pun Kinerjanya

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:16

KPK Panggil Sejumlah Pejabat Imigrasi di Kasus Pemerasan Silmy Karim

Rabu, 01 Juli 2026 | 14:10

KPK Masih Periksa Bupati Kuansing Suhardiman Amby

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:48

Audit Dugaan Penyimpangan Impor Sianida PPI, KPK dan BPKP Didesak Turun Tangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:39

Komisi I DPR Ungkap Alasan Draf RUU KKS Belum Dibuka ke Publik

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:35

Bos Maktour yang Juga Mertua Dito Ariotedjo Dipanggil KPK

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:21

Masih Penyesuaian Sistem, Pajak Olshop di Marketplace Berlaku Mulai 1 Agustus

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:16

Prabowo Layak Dicontoh Bagi Siapa Pun yang Ingin Jadi Presiden

Rabu, 01 Juli 2026 | 13:01

Selengkapnya