Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Emas Bertahan di Zona Stabil, Penguatan Dolar Batasi Kenaikan

SELASA, 09 JUNI 2026 | 07:50 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga emas dunia bergerak stabil pada perdagangan terakhir setelah berhasil pulih dari level terendah sejak Maret. Emas spot bertahan di kisaran 4.334,22 Dolar AS per ons, sementara emas berjangka AS kontrak Agustus ditutup nyaris tidak berubah di level 4.363,4 Dolar AS per ons.

Stabilnya harga emas ditopang meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Israel dan Iran sama-sama menginginkan gencatan senjata dalam waktu dekat. 

Prospek de-eskalasi konflik tersebut membantu mengurangi kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga energi yang berpotensi memicu inflasi, sekaligus meredakan tekanan jual pada aset safe haven seperti emas.


Meski demikian, penguatan harga emas masih terbatas. Salah satu faktor penahannya adalah penguatan Dolar AS yang bertahan di level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Kondisi ini membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang selain dolar sehingga mengurangi permintaan.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve juga membatasi ruang kenaikan emas. Data ketenagakerjaan AS yang masih solid mendorong peningkatan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember. 

Suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena investor memiliki alternatif investasi yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, seperti obligasi.

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada rilis data inflasi Amerika Serikat, yakni indeks harga konsumen (CPI) yang akan diumumkan pada Rabu dan indeks harga produsen (PPI) pada Kamis. Kedua data tersebut diperkirakan akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter The Fed dalam beberapa bulan ke depan.

Pergerakan logam mulia lainnya cenderung beragam. Harga perak spot naik 0,6 persen menjadi 68,22 Dolar AS per ons, sedangkan platinum turun 1,6 persen ke 1.747,76 Dolar AS per ons dan paladium melemah 1,7 persen menjadi 1.205,73 Dolar AS per ons. Secara keseluruhan, pasar logam mulia masih dibayangi ketidakpastian arah suku bunga AS meskipun ketegangan geopolitik mulai mereda.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Diam-diam Nusron Wahid Datang ke KPK Tanpa Penjadwalan Pemeriksaan

Rabu, 04 November 2026 | 10:26

Harga Minyak Dunia Turun ke 103 Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 | 10:17

Skandal Listyo Sigit jadi Pintu Masuk Seret Jokowi-Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 10:13

Kapolri Terlama yang Sukses Tanam Jagung jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Mahfud MD: Gila!

Rabu, 04 November 2026 | 09:51

Laporan Keuangan Danantara Ditarget Rampung November 2026

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

PT Djarum Bayar Cukai Tak Semestinya, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

Prabowo Saja Bisa Disadap Apalagi Rakyat Jelata

Rabu, 04 November 2026 | 09:41

Perkuat Hilirisasi, NTB Berpeluang Jadi Sentra Industri Kelapa

Rabu, 04 November 2026 | 09:33

Listyo Sigit Lakukan Kejahatan Paling Jahat

Rabu, 04 November 2026 | 09:30

IHSG Merah, Mayoritas Saham Berguguran

Rabu, 04 November 2026 | 09:20

Selengkapnya