Berita

Ilustrasi. (Foto: BPMI Setpres)

Politik

Masih Banyak Celah Korupsi, Pemerintah Perlu Terbuka soal Anggaran MBG

SELASA, 09 JUNI 2026 | 05:38 WIB | LAPORAN: ABDUL ROUF ADE SEGUN

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menghadapi tantangan operasional di lapangan, tetapi juga terkait tata kelola anggaran yang nilainya terus membengkak dari tahun ke tahun.

Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus, menilai pemerintah perlu segera menjelaskan secara terbuka berapa sebenarnya anggaran yang dialokasikan untuk program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut.

“Perbedaan angka sudah cukup menjadi alasan agar pemerintah melakukan rekonsiliasi data anggaran secara terbuka,” kata Iskandar dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.


Ia menyoroti perbedaan data yang disampaikan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

BGN sebelumnya menyebut dukungan APBN untuk MBG pada 2026 mencapai Rp335 triliun yang terdiri dari Rp268 triliun anggaran utama dan Rp67 triliun dana cadangan.

Di sisi lain, KPK dalam kajian dan monitoringnya menyebut alokasi program meningkat dari Rp71 triliun pada 2025 menjadi Rp171 triliun pada 2026. 

Menurut Iskandar, perbedaan angka tersebut harus dijelaskan secara rinci kepada publik agar tidak menimbulkan tanda tanya.

“Publik berhak tahu berapa sebenarnya anggaran murni program, berapa anggaran kelembagaan, berapa dana cadangan, berapa belanja bahan pangan, berapa belanja infrastruktur, berapa untuk operasional, dan berapa benar-benar sampai ke piring anak-anak,” ujarnya.

Lanjut Iskandar, persoalan MBG kini tidak lagi sebatas urusan distribusi makanan, tetapi telah masuk ke wilayah tata kelola keuangan negara yang membutuhkan transparansi dan akuntabilitas tinggi.

“Persoalan BGN adalah apakah lembaga ini sudah memiliki sistem kendali yang cukup kuat untuk mengelola program ratusan triliun rupiah dengan puluhan juta penerima manfaat,” ungkapnya.

Karena itu, Iskandar mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Keuangan segera melakukan rekonsiliasi anggaran secara terbuka agar publik memperoleh gambaran utuh mengenai aliran dana MBG.

“Angka ratusan triliun tidak boleh menjadi kabut. Ia harus menjadi peta,” pungkasnya.

Sementara itu, Koordinator Harian Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK), Sari Angraeni, mengungkapkan masih banyak celah potensi korupsi dalam pengelolaan dan penyaluran anggaran program tersebut.

“Pengelolaan anggaran di pusat, kemudian bagaimana dalam konteks penyaluran anggaran ke daerah, itu yang kami lihat banyak celah yang perlu diperbaiki,” pungkas Sari usai menghadiri kegiatan di Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Senin, 8 Juni 2026.

Sari menjelaskan, berdasarkan temuan yang dikoordinasikan bersama KPK, terdapat sedikitnya delapan titik rawan yang berpotensi memicu penyimpangan dalam pelaksanaan MBG.

“Kemarin, temuan kami di pusat oleh KPK, ada sekitar delapan temuan, lebih banyak di sektor hulu, bagaimana kebijakan ini diperbaiki dari hulu,” tegasnya.

Delapan potensi risiko korupsi yang dipetakan KPK meliputi regulasi yang belum memadai, praktik rente birokrasi, tata kelola yang terlalu sentralistik, konflik kepentingan, lemahnya transparansi, masalah keamanan pangan, indikator keberhasilan yang belum terukur, serta belum adanya pengukuran awal atau baseline status gizi penerima manfaat.

KPK juga menyoroti pendekatan yang terlalu terpusat di BGN yang dinilai berpotensi meminggirkan peran pemerintah daerah sekaligus melemahkan fungsi pengawasan di tingkat lokal. 

Selain itu, kerawanan muncul dalam proses verifikasi mitra, penentuan lokasi dapur, hingga pelaporan keuangan.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya