Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Politik

Asta Cita Tanpa Konsistensi akan Timbul Moral Hazard

SENIN, 08 JUNI 2026 | 05:48 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam menegakkan sistem ekonomi konstitusi melalui visi-misi Asta Cita harus membutuhkan konsistensi. 

Hal itu disampaikan ekonom konstitusi Defiyan Cori merespons pencapaian visi misi Asta Cita dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

“Hanya konsistensilah yang akan membuat program dan kegiatan pemerintah berhasil mencapai tujuan pembangunan, yaitu pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan berkeadilan,” kata Defiyan dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 8 Juni 2026.


Lanjut dia, setidaknya hal itu dapat dilakukan melalui beberapa penyelesaian permasalahan berikut kaitannya dengan keterbatasan (budget constraint) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Pertama, proporsi alokasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terlalu besar kaitannya dengan sektor pendidikan, kesehatan dan sosial khususnya bagi kelompok masyarakat miskin. Kedua, prioritas pembangunan sektor industri pertanian terpadu (agro industry complex), kaitannya dengan pengembangan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan dan kelautan melalui koperasi dan sinergitas BUMN bagi sasaran swasembada pangan,” jelasnya.

Ketiga, sambung Defiyan, isu dan permasalahan transisi energi dan ketahanan serta kedaulatan energi kaitannya dengan kemandirian sektor energi dan sumber daya mineral (SDA) melalui penguatan posisi BUMN strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak beserta tata kelola laba BUMN oleh Danantara bagi kepentingan swasembada energi.

Keempat, masih kata dia, pembangunan sektor perumahan rakyat yang terkendala adanya aturan SLIK atau BI Checking oleh OJK, Reformasi BI dan perbankan umum kaitannya dengan akses kredit bagi masyarakat kecil, sektor UKM beserta berbagai persyaratannya.

“Kelima, penguatan lembaga perencanaan pembangunan nasional (Bappenas) kaitannya dengan konsistensi visi-misi Asta Cita dalam mencapai sasaran dan tujuannya 10 tahun ke depan beserta upaya mencapai Indonesia Emas 2045,” ungkap dia. 

Defiyan menyebut tanpa memperhatikan berbagai isu dan permasalahan kunci (key problem) tersebut mustahil restrukturisasi perekonomian nasional melalui transformasi kebijakan dan kelembagaan yang tepat akan berhasil di masa depan. 

“Perencanaan strategis melalui visi-misi Asta Cita yang sudah konstitusional tetapi tidak dijalankan melalui kebijakan peraturan dan perundang-undangan serta program yang konsisten akan memunculkan kerusakan moral atau moral hazard,” tegasnya. 

“Apalagi, kemudian tidak didukung oleh postur dan struktur APBN yang alokasi dan distribusinya serampangan. Konsekuensi atas komitmen yang tidak konsisten dijalankan tentulah berdampak pada tujuan yang takkan tercapai,” tambah Defiyan. 

Jadi menurutnya, APBN juga harus mencerminkan kemampuan program sektoral pemerintah dalam mendukung pencapaian visi-misi secara proporsional efektif dan efisien. 

“Jumlah anggota kabinet yang gemuk adalah salah satu kendala terbesar dalam membangun organisasi pemerintahan yang hemat dan berdaya guna bagi APBN,” pungkas Defiyan.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Wall Street Variatif, Nasdaq Naik Ditopang Saham AI

Rabu, 23 September 2026 | 08:21

Kejagung Garap Lima Saksi di Kasus Korupsi MBG, Ada Pegawai SPPG Karawang

Rabu, 23 September 2026 | 08:06

Emas Gagal Bersinar, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Ketat dan Penguatan Dolar AS

Rabu, 23 September 2026 | 07:41

Dolar AS Berfluktuasi Ditopang Ketidakpastian Minyak

Rabu, 23 September 2026 | 07:23

Bursa Eropa Beragam: Dorongan Sektor Teknologi Imbangi Tekanan Sektor Keuangan

Rabu, 23 September 2026 | 07:07

Ruang Amal Indonesia-IFG Life-Kemenko PM Hadirkan Program bagi Ojol Tunarungu

Rabu, 23 September 2026 | 06:40

Sering Kebakaran, Gedung Wajib Miliki Alat Deteksi Dini

Rabu, 23 September 2026 | 06:28

MUI Minta Pelaku Usaha Bersiap Hadapi Wajib Halal 18 Oktober

Rabu, 23 September 2026 | 06:18

Kursi Gibran Goyang

Rabu, 23 September 2026 | 06:03

Dua Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi

Rabu, 23 September 2026 | 05:45

Selengkapnya