Prosesi pengambilan api dalam rangkaian ritual menjelang Hari Raya Waisak yang diikuti puluhan biksu dan perwakilan majelis umat Buddha.(Foto: Instagram Walubi Pusat)
Dua energi spiritual terbesar dalam perayaan Waisak yaitu kehangatan Api Alam Mrapen dan keheningan Air Suci Umbul Jumprit kini telah bersatu.
Asap dupa mengepul tipis, membelah udara dingin di lereng Gunung Sindoro. Di kawasan Umbul Jumprit, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, ratusan pasang tangan terkatup khusyuk di depan dada.
Di sana, prosesi sakral pengambilan Air Suci untuk Tri Suci Waisak 2570 BE baru saja purna. Bersama dengan Api Abadi yang sehari sebelumnya diambil dari perut bumi Mrapen, Grobogan, air ini kini bersiap mengalirkan berkah ke jantung spiritual Nusantara: Candi Borobudur.
Air dan api sering kali digambarkan sebagai dua elemen yang saling bertolak belakang dan destruktif jika bertemu. Namun, dalam tradisi Waisak yang diorganisasi oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), keduanya menjelma menjadi lambang keseimbangan kosmis yang harmonis.
Api Mrapen merepresentasikan pancaran tekad, semangat yang menyala, dan penerangan dalam kegelapan batin. Sementara Air Jumprit adalah simbol kesejukan, pembersihan noda spiritual, dan ketenangan pikiran yang jernih.
Di bawah kawalan ketat para biksu dan ribuan umat, kedua unsur utama semesta ini memulai perjalanannya, membawa pesan kedamaian yang mendalam bagi dunia.
Perjalanan ritual ini mula-mula digerakkan dari Grobogan. Di sana, api yang keluar secara alami dari perut bumi disulut ke obor-obor suci, lalu disemayamkan dalam sebuah lentera khusus.
Prosesi ini tidak sekadar menjadi rutinitas ritual tahunan, melainkan sebuah pengingat filosofis bagi setiap insan untuk terus menyalakan api kesadaran dan kebaikan di dalam diri masing-masing.
Dari tanah Grobogan yang hangat, rombongan bergerak menuju mata air purba Umbul Jumprit. Di tempat ini, nuansa berubah seketika menjadi begitu hening dan magis.
Para biksu dari berbagai sangha melafalkan paritta-paritta suci dengan nada yang mengalun rendah, memohon berkah agar air yang diambil mampu menjadi sarana pembersih jiwa manusia dari segala bentuk keserakahan, ego, dan kebencian duniawi.
"Api adalah semangat kita yang tidak boleh padam untuk berbuat kebajikan, sedangkan air adalah kerendahan hati dan kedamaian yang mendinginkan suasana. Pertemuan kedua unsur ini di Borobudur adalah simbol harmoni tertinggi bagi seluruh makhluk hidup," tutur salah satu Bhante Kamsai di sela-sela prosesi seperti diberitakan
RMOLJatim.
Setelah kedua unsur utama semesta ini berhasil dihimpun, iring-iringan kendaraan pembawa api dan air suci langsung bertolak menuju Candi Mendut untuk disemayamkan sementara.
Di candi tersebut, doa-doa akan terus mengalir sebelum nantinya kedua elemen ini dikirab secara megah berjalan kaki menuju Candi Borobudur tepat pada puncak detik-detik Waisak.
Menariknya, sepanjang rute perjalanan dari Temanggung menuju Magelang, masyarakat lintas agama berdiri rapi di tepi jalan. Mereka menyaksikan iring-iringan dengan penuh rasa hormat, lambaian tangan, dan senyuman hangat.
Pemandangan sosiologis ini menegaskan kembali bahwa perayaan Waisak di Indonesia bukan hanya milik umat Buddha semata, melainkan telah menjelma menjadi sebuah festival kebudayaan sekaligus simbol toleransi akar rumput yang sangat kuat di bumi Jawa Tengah.
Kini, lentera api spiritual masih menyala hangat, dan kendi-kendi air suci tetap terjaga sejuk. Keduanya bergerak beriringan, menembus kabut senja, membawa sejuta harapan akan kedamaian dunia yang bertumpu pada keagungan spiritual Borobudur.