Dr. Della Rahmawati (Foto: Istimewa)
Sebuah produk pangan inovatif berupa taburan nasi khas Jepang (furikake) berbahan dasar kelakai, tanaman paku liar khas hutan gambut Palangkaraya, kini resmi dikembangkan menjadi solusi nutrisi siap konsumsi.
Tidak hanya itu, variasi produk tempe non-kedelai berbasis kacang-kacangan lokal dan optimalisasi tempe gembus juga ikut diciptakan sebagai alternatif protein sehat yang ekonomis.
Rangkaian terobosan pangan fungsional ini lahir dari tangan Dr. Della Rahmawati, peneliti sekaligus Kepala Program Studi Food Technology Swiss German University (SGU).
Berkat inovasinya mentransformasi bahan lokal terjangkau menjadi produk kaya gizi untuk ibu dan anak, Dr. Della berhasil menembus daftar Asian Scientist 100 dan meraih L'Oréal-UNESCO For Women in Science Award.
Daftar bergengsi yang diterbitkan setiap tahun oleh Asian Scientist Magazine ini memberikan penghargaan kepada para peneliti terbaik di Asia yang dinilai memiliki kontribusi signifikan dalam bidang sains, inovasi, serta kepemimpinan di dunia akademik maupun industri.
Proses penciptaan produk ini melibatkan riset mendalam sejak tahun 2014. Dr. Della bahkan harus menyusuri kawasan pedalaman Kalimantan menggunakan perahu kecil demi mengambil sampel kelakai langsung dari habitat aslinya.
Penelitiannya yang mencakup pengembangan produk pangan inovatif ini menunjukkan potensi besar kekayaan hayati Indonesia dalam mendukung kesehatan masyarakat.
Kini, melalui pendekatan teknologi pangan modern (metabolomik), inovasi tersebut telah masuk ke tahap hilirisasi nyata. Produk Furikake Kelakai sudah diproduksi dalam skala terbatas melalui teaching factory SGU (PT Tumbuh Sukses Nastari) serta telah mengantongi izin edar resmi dan sertifikasi halal.
"Kami ingin menciptakan produk pangan yang tidak hanya bernutrisi tinggi, tetapi juga praktis dan mudah diakses masyarakat," ujar Dr. Della.
Rektor SGU, Assoc. Prof. Dr. Dipl.-Ing. Samuel P. Kusumocahyo, menegaskan bahwa SGU berkomitmen penuh mendukung komersialisasi riset ini agar manfaat inovasi pangan lokal tersebut bisa langsung dirasakan oleh masyarakat luas.