Berita

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa (Foto: Istimewa)

Bisnis

Pengamat: Tekanan Jual IHSG Masih Besar Pascacoretan 4 Saham RI dari FTSE

SELASA, 26 MEI 2026 | 13:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tekanan terhadap pasar modal Indonesia diperkirakan masih berlanjut setelah evaluasi kuartalan FTSE Global Equity Index Series (GEIS) mencoret empat emiten domestik dari indeks global tanpa ada pengganti baru dari Indonesia.

Empat saham yang dikeluarkan masing-masing PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari kategori Large Cap, serta PT Diastika Biotekindo Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) dari kategori Micro Cap. Seluruh perubahan tersebut efektif berlaku mulai 22 Juni 2026.

Menanggapi kondisi tersebut, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai tekanan pasar masih akan terasa dalam jangka pendek, terutama akibat kombinasi efek rebalancing FTSE dan MSCI yang belum sepenuhnya selesai.


Meski begitu, Reydi melihat penurunan tajam saham DSSA justru mulai memunculkan aksi akumulasi dari sebagian investor yang menilai valuasi saham sudah cukup menarik.

“Kalau secara pribadi sih, setelah penurunan DSSA ini kelihatannya investor sudah mulai sadar. Sudah mulai pricing in. Artinya memang sudah ada yang sengaja akumulasi di harga sekarang,” ujar Reydi kepada RMOL, Selasa 26 Mei 2026.

Menurutnya, sebagian pelaku pasar kini mulai melihat saham-saham di Indonesia dari sisi valuasi jangka panjang. Bahkan, dibandingkan bursa saham negara Asia lainnya, valuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih relatif murah untuk kategori emerging market.

“Mau besok turun lagi juga mungkin banyak investor yang sudah tidak terlalu memikirkan, karena mereka melihat dari sisi valuasi. Saham-saham yang dibicarakan itu sekarang kalau dibandingkan dengan bursa Asia lainnya, sebenarnya IHSG masih punya valuasi yang cukup menarik. Bisa dibilang cukup murah untuk kategori emerging market,” katanya.

Namun dalam jangka pendek, Reydi memperkirakan tekanan jual masih akan mendominasi perdagangan. Ia menilai efek rebalancing MSCI sebelumnya belum sepenuhnya selesai, ditambah implementasi perubahan FTSE yang mulai berlaku pada Juni 2026.

“Kalau kita lihat satu hingga dua minggu ke depan, kemungkinan tekanan jualan masih besar dari asing. Karena saat asing keluar, kelihatannya belum selesai efek rebalancing dari MSCI, dan dampaknya FTSE juga sangat berpengaruh,” ujarnya.

Menurut Reydi, IHSG masih sangat sensitif terhadap arus dana asing maupun domestik, sehingga potensi pelemahan indeks masih terbuka dalam beberapa waktu mendatang.

“IHSG yang terpengaruh oleh investasi asing maupun lokal masih akan dibayangi penurunan di minggu-minggu depan,” kata dia.

Selain sentimen rebalancing indeks global, Reydi juga menyoroti faktor libur panjang yang dinilai turut memperbesar tekanan jual di pasar saham pekan ini. Ia mengatakan banyak investor memilih mengurangi posisi saham untuk menghindari risiko ketidakpastian selama pasar tutup.

“Apalagi minggu ini akan ada libur panjang, dan hari terakhir transaksi adalah hari Jumat, jadi tekanan jualan akan jauh lebih besar. Banyak investor yang tidak mau memegang saham atau paling tidak mengurangi posisinya, karena mereka tidak mau bertaruh untuk melewati hari-hari libur tanpa bisa transaksi,” jelasnya.

Menurut Reydi, kekhawatiran investor terutama berkaitan dengan potensi munculnya sentimen global selama libur berlangsung, termasuk kemungkinan pernyataan terbaru dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

“Takutnya besok ada notulen The Fed ngomong apa, atau ada sentimen lain. Karena kita tidak bisa jualan saham saat libur, portofolio mereka bisa terbawa turun,” ujarnya.

Karena itu, ia memperkirakan tekanan jual akan tetap kuat hingga akhir pekan, terutama menjelang implementasi efektif indeks MSCI dan FTSE pada Juni mendatang.

“Makanya saya rasa dari hari ini sampai besok Jumat itu tekanan jualnya cukup kuat," katanya.

“Jualannya banyak karena per bulan Juni itu indeks MSCI sama FTSE sudah efektif berlaku. Jadi passive fund dan manajer investasi benar-benar menggunakan momen ini untuk jualan,” sambung Reydi.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

UPDATE

Fakta Sidang Blueray Cargo: Kode BC1 Mengarah ke Djaka Budi Utama

Senin, 15 Juni 2026 | 18:15

Anak Buah Bahlil Irit Bicara Usai 7 Jam Diperiksa KPK

Senin, 15 Juni 2026 | 18:08

KPU Patok Anggaran Rp4,6 Triliun di Tahapan Awal Pemilu 2029

Senin, 15 Juni 2026 | 17:59

IHSG-Rupiah Menguat Sore Ini Usai AS-Iran Sepakat Damai

Senin, 15 Juni 2026 | 17:47

Demo Mahasiswa Ucapkan Selamat Atas Kegagalan Prabowo-Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 17:46

Wapres Gibran Terima Perwakilan Mahasiswa di Tengah Unjuk Rasa

Senin, 15 Juni 2026 | 17:23

Sifra Kejar Cita-cita di Sekolah Rakyat Demi Bantu Orang Tua Disabilitas

Senin, 15 Juni 2026 | 17:19

Demi Kepercayaan Masyarakat, Mahasiswa UBK Desak MBG Dihentikan

Senin, 15 Juni 2026 | 17:06

Komisi II DPR: KPU dan Bawaslu akan Tetap Eksis di 2027

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

DPR Minta Kejagung Tingkatkan Anggaran Perkara untuk Kejati dan Kejari

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

Selengkapnya