Berita

Perayaan Persib Bandung juara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Foto: RMOLJabar/Gilang)

Publika

Rahasia Persib Bandung Cetak Hattrick

SENIN, 25 MEI 2026 | 12:47 WIB

TIGA kali juara secara beruntun (hattrick) sebuah prestasi luar biasa Persib Bandung. Saya ingin mengungkap kisah sukses di balik pencapaian tersebut. 

Persib Bandung sekarang bukan lagi klub sepak bola. Ini sudah berubah jadi makhluk mitologi Sunda. Separuh harimau, separuh mesin penghasil pusing bagi lawan. 

Tiga kali juara beruntun Liga Indonesia musim 2023/24, 2024/25, dan 2025/26 membuat Maung Bandung seperti Braga saat malam minggu. Macet, penuh manusia, dan geulis pisan.


Musim ini Persib menutup liga dengan 79 poin, sama dengan Borneo FC. Tapi unggul head-to-head. Nah, ini bukti, hidup di Indonesia itu kadang mirip antrean seblak. Datang bareng, lapar bareng, tapi yang kenal tukang jualan tetap duluan dapat kursi.

Bandung langsung meledak. Jalan Asia Afrika penuh lautan biru. Flyover Pasupati sampai mungkin bingung kenapa tiap tahun harus menopang ribuan Bobotoh yang konvoi sambil knalpotnya berbunyi seperti genderang perang kerajaan Pajajaran. 

Bahkan, Gedung Sate kelihatannya ikut bangga. Itu tusuk sate di atas gedung seperti antena yang menangkap sinyal teriakan “Persib Juara!” dari seluruh galaksi.

Yang paling bikin banyak orang melongo sambil garuk kepala, Persib ini sehat. Gaji pemain tak telat. Klub modern. Tak hidup dari APBD. Persib berdiri di atas kaki sendiri. 

Bonus Rp1 miliar dari Gubernur Jawa Barat cuma jadi pemanis, bukan infus kehidupan. Ini klub bola atau startup unicorn? Bedanya, kalau startup rugi, Persib malah bagi trofi.

Bobotoh? Waduh. Itu bukan suporter lagi. Itu koloni semut biru yang kalau Persib main bisa membuat Bandung berubah jadi planet lain. Stadion GBLA terasa seperti kawah Gunung Tangkuban Perahu yang meletus, bedanya yang keluar bukan lava, tapi flare dan teriakan “Aing Persib!”. 

Anak bayi mendadak hafal formasi 4-3-3 sebelum hafal huruf hijaiyah. Tukang cuanki pun bisa mendadak jadi analis taktik level Eropa sambil nyendok kuah.

Andrew Jung? Itu manusia atau cheat code PlayStation? Tiap dia cetak gol, suasana Bandung seperti odading Mang Oleh yang lagi viral, mendadak semua orang lompat-lompat tak jelas sambil teriak.

Tapi beginilah hidup, kang. Persib kalau di liga domestik itu seperti jagoan tongkrongan Dago. Jalan tegak, rambut klimis, lawan ciut. 

Tapi begitu masuk AFC Champions League Two, eh mulai kelihatan seperti mahasiswa baru salah jurusan. Memang mereka lolos fase grup dengan menumbangkan Bangkok United dan Selangor FC. Bobotoh langsung merasa Asia Tenggara tinggal formalitas. Tapi masuk 16 besar, jebret… pulang.

Masalahnya klasik. Persib bisa menang lawan tim besar, lalu kalah lawan Persijap Jepara atau Persita Tangerang seperti orang yang sanggup beli iPhone tapi lupa bayar kontrakan. Inkonsistensi ini bikin emosi Bobotoh naik turun lebih cepat dari tanjakan Lembang saat musim liburan.

Skuad Persib juga belum sedalam dompet sultan Johor Darul Ta’zim atau Buriram United. Klub ASEAN itu cadangannya masuk lapangan masih kelihatan seperti aktor drama Korea naik moge. 

Persib? Habis main di Asia, tiga hari kemudian pemainnya sudah lari-lari lagi di liga domestik dengan kaki yang mungkin masih minta direndam air hangat dan minyak kayu putih.

Bojan Hodak pasti paham. Di Asia Tenggara, sepak bola itu bukan cuma soal semangat. Ini soal efisiensi. Salah oper sedikit, lawan langsung menghukum seperti emak-emak menemukan nilai matematika anaknya merah.

Namun di situlah lucunya. Persib sudah jadi simbol modernisasi sepak bola Indonesia. Klub sehat, finansial aman, suporter loyal, manajemen rapi. Mereka seperti kafe estetik Bandung. Kelihatan santai, tapi isi rekeningnya bikin iri.

Persib sudah menjadi raja Nusantara. Tinggal satu langkah lagi, berhenti jadi harimau lokal dan mulai mengaum sampai Thailand, Malaysia, Vietnam, bahkan bikin Singapura mendadak belajar bahasa Sunda.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Sandy Rio Kuahaty Nakhodai GAMKI Jakut 2026-2029

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:26

Bawaslu Dorong Transformasi Digital dari Administrasi ke Pengawasan Berbasis Risiko

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:23

Kementerian HAM Perluas Akses Pendidikan Tak Hanya untuk ASN

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:14

Reformasi Kelistrikan Penting untuk Capai Ekonomi 8 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:01

Menkop Kukuhkan Yudi Azis sebagai Rektor IKOPIN Periode 2026–2031

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:44

Bahas Keamanan hingga Lapangan Kerja

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:42

Meracik Horor Komedi di Film Ghosthing, Ini Pandangan Peter Surya Wijaya

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:41

Tanggapi Survei Celios, Gibran Janji Kerja Lebih Baik

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:35

Mantan Pj Gubernur Sulsel Bantah Cawe-cawe Pengadaan Bibit Nanas

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:31

APBD DKI 2027 Diusulkan Rp82,89 Triliun, Naik 4,18 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:20

Selengkapnya