Berita

Pengamat politik Nurul Fatta. (Foto: Dok Pribadi)

Politik

Nasionalisme Jangan Sampai Persempit Ruang Kritik

KAMIS, 21 MEI 2026 | 11:14 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam rapat paripurna DPR RI dinilai banyak menggunakan pendekatan retorika nasionalisme untuk membangun dukungan publik terhadap arah kebijakan pemerintah.

Menurut Pengamat politik Nurul Fatta, narasi sejarah perjuangan bangsa yang disampaikan Presiden merupakan hal yang benar secara historis. Namun, ia melihat pendekatan tersebut juga memiliki dimensi komunikasi politik yang kuat.

“Saya menilai pidato presiden itu instrumentalis. Retorika nasionalisme yang digunakan sebagai instrumen untuk menutup ruang kritik,” ujar Nurul Fata kepada RMOL, Kamis, 21 Mei 2026.


Ia menyoroti bagaimana Presiden menyinggung sejarah penjajahan Belanda, perjuangan para pendiri bangsa, hingga kekayaan Indonesia yang selama ratusan tahun dirampas pihak asing.

Namun demikian, Nurul Fatta mengingatkan agar semangat nasionalisme tidak sampai membuat ruang kritik terhadap kebijakan publik menjadi menyempit.

Ia mengatakan teknik komunikasi semacam itu lazim digunakan banyak pemimpin populis di berbagai negara dan kerap efektif dalam membangun dukungan politik dalam jangka pendek.

“Ini kan teknik retorika yang sering digunakan dan sangat efektif. Soekarno juga melakukan. Banyak pemimpin populis dunia melakukannya. Dan selalu berhasil dalam jangka pendek, karena siapa yang mau dituduh anti nasionalisme?” katanya.

Meski begitu, Nurul Fata berharap pemerintah tetap menjaga ruang demokrasi dan kebebasan berpendapat agar kritik publik tidak dipandang sebagai ancaman terhadap negara.
Menurutnya, demokrasi yang sehat justru membutuhkan ruang debat yang terbuka dan rasional terhadap setiap kebijakan pemerintah.

“Ketika kebijakan publik dibungkus dengan sentimen nasionalisme, ruang debat rasional menjadi sempit. Orang akhirnya takut mengkritik karena khawatir dicap tidak cinta tanah air. Itu bukan demokrasi yang sehat,” ujarnya.

Ia juga menyinggung sejumlah respons aparat terhadap kritik publik yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama agar tidak menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.

“Kalau orang dituduh tidak cinta tanah air, maka negara bisa saja merasa memiliki legitimasi untuk menindak pihak yang dianggap berseberangan. Ini yang perlu dijaga agar demokrasi tetap sehat,” pungkasnya.


Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya