Berita

Gerakan Ibu Plaza de Mayo di Argentina. (Foto: Perpustakaan Online)

Publika

Ketika Ibu Bersatu Padu

RABU, 20 MEI 2026 | 21:43 WIB

PENTHESILEA, orang Amazon dalam mitologi Yunani menghadirkan potret asli pejuang wanita. Mereka adalah masyarakat wanita yang meninggalkan masyarakat pria, kecuali untuk urusan kawin maka suku mereka semuanya wanita.

Banyak cerita tentang keberanian mereka dalam pertempuran, meskipun para penulis Yunani tampaknya menggunakan mereka hanya sebagai musuh yang gagah berani untuk dikalahkan di Amazonomachies ("pertempuran Amazon").

Salah satu pemimpin mereka yang paling berani adalah Penthesilea dengan sabuk emas diikat di bawah dadanya yang terbuka dan berani bertarung dengan laki-laki.


Perang dan Damai

Lysistrata adalah sebuah karya dari Aristophanes yang mengisahkan kaum perempuan yang membawa semangat feminisme di tengah ancaman perang Athena dengan Sparta, kemudian disadur oleh sastrawan kawakan W.S Rendra sehingga kental dengan citarasa Indonesia.

Lysistrata adalah sebuah karya Aristophanes yang mengisahkan kaum perempuan yang membawa semangat feminisme di tengah ancaman perang Athena dengan Sparta, kemudian disadur oleh sastrawan kawakan WS Rendra sehingga kental dengan citarasa Indonesia."Kami merasa harus peka terhadap isu sosial dan politik yang ada."

Teater ini mengisahkan Lysistrata yang membujuk para wanita Yunani untuk mempertahankan hak seksual dari suami dan kekasih mereka sebagai sarana memaksa Athena dan Sparta untuk menegosiasikan perdamaian.

Ini adalah bentuk protes kaum wanita atas perang panjang yang tidak berkesudahan. Di tengah situasi politik dan ekonomi yang dialami oleh masyarakat Athena, mereka masih diliputi ketakutan akan perang yang kapan saja mengancam diri mereka.

Hal itulah yang membuat Lysistrata tergerak hatinya untuk menghentikan perang yang sedang berlangsung.

Lysistrata sebagai pimpinan kaum perempuan merasa bahwa wanita hanya pantas berada di dapur dan tidak pernah dilibatkan dalam perundingan dan perencanaan negara.

Pada saat itu terjadi perundingan dan kejadian jarang sekali mencapai titik tengah sehingga sering terjadi cekcok dan adu pendapat tanpa ada yang mau mengalah. Dengan usahanya dia berhasil menyatukan Sparta dan Athena.

Lysistrata sebagai pemimpin gerakan ini membuktikan bahwa kaum perempuan mampu menaklukan laki-laki dalam mencegah peperangan.

Lysistrata membujuk para wanita dari kota-kota yang bertikai untuk melakukan pemogokan seks sebagai cara untuk memaksa para pria untuk bernegosiasi damai sebuah strategi yang justru memperkeruh pertempuran antara jenis.

Drama ini terkenal karena merupakan salah satu pengungkapan awal tentang hubungan seksual dalam masyarakat yang didominasi laki-laki .

Politisasi seks, dalam lexis dan praxis. Bentuk aksi pemogokan. Kaum perempuan bersuara dan berkuasa. Ruang Publik dan Ruang Private menjadi satu.

Melawan Diktator

Ibu-ibu Plaza de Mayo (bahasa Spanyol: Madres de Plaza de Mayo ) adalah sebuah asosiasi hak asasi manusia Argentina yang dibentuk sebagai tanggapan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Proses Reorganisasi Nasional, kediktatoran militer Jorge Rafael Videla .

Awalnya, asosiasi ini bekerja untuk menemukan para desaparecidos , orang-orang yang menghilang tanpa penangkapan, pengadilan, atau proses peradilan; sebagian besar diyakini telah meninggal.Bendera tersebut bertuliskan "Biarkan 30.000 orang yang hilang muncul dalam keadaan hidup" (desaparecidos dalam bahasa Spanyol).

Berdiri di tahun 1977, di Buenos Aires, Argentina oleh Azucena Villaflor, Esther Ballestrino,Mara Ponce de Bianco,Josefina Garca de Noia,Hebe de Bonafini, Mirta Acua de Baravalle dan lainnya.

Para Ibu mulai berdemonstrasi di Plaza de Mayo, alun-alun publik yang terletak di depan istana kepresidenan Casa Rosada, di kota Buenos Aires , pada tanggal 30 April 1977.

Di atasnya, mereka menyulam nama anak-anak mereka dan menulis tuntutan utama mereka: "Aparicin con Vida" (Bukti kehidupan).

Selama tahun-tahun Perang Kotor (nama yang digunakan oleh junta militer di Argentina dari tahun 1976 hingga 1983 sebagai bagian dari Operasi Condor), pasukan militer dan keamanan menindas para pembangkang politik yang dikenal dan dicurigai.

Yang paling terkenal adalah para pendiri Azucena Villaflot, Esther Ballestrino dan Mara Ponce de Bianco,serta para pendukung biarawati Prancis Alice Domon dan Lonie Duquet, yang menghilang.

Mereka kemudian diketahui telah dibunuh, dilakukan oleh kelompok yang dipimpin oleh Alfredo Astiz, seorang mantan komandan, perwira intelijen, dan komando angkatan laut yang bertugas di Angkatan Laut Argentina selama kediktatoran militer.

Tim Antropologi Forensik Argentina yang dikenal karena telah menemukan dan mengidentifikasi jenazah Che Guevara, kemudian menemukan jasad para wanita ini dan menyimpulkan bahwa mereka telah dibunuh melalui penerbangan maut, ketika mereka dilemparkan dari pesawat untuk mati di laut.

Pada hari-hari pertama bulan Desember 1980, "Pawai Perlawanan" pertama diadakan, yang sebagian besar terdiri dari perempuan yang berbaris mengelilingi alun-alun selama 24 jam.

Meskipun demokrasi ditegakkan kembali dalam pemilihan umum 1983, gerakan ibu-ibu terus mengadakan pawai dan demonstrasi, menuntut pengadilan dan hukuman bagi personel militer yang telah berpartisipasi dalam pemerintahan yang menggulingkan Isabel Pern dalam kudeta 1976. Hal ini akhirnya berpuncak pada Pengadilan Junta tahun 1985 .

Mereka mulai berkumpul untuk tujuan ini pada tahun 1977 setiap hari Kamis di Plaza de Mayo di Buenos Aires, di depan istana kepresidenan Casa Rosada, sebagai bentuk penentangan publik terhadap hukum pemerintah yang melarang pertemuan massal.

Mereka juga percaya bahwa perempuan lebih tak kenal lelah dan memiliki kekuatan emosional yang lebih besar daripada laki-laki.

Beberapa sarjana mempertanyakan apakah gerakan tersebut benar-benar menantang gagasan pasivitas perempuan, dan apakah pesannya akan lebih kuat jika anggota keluarga laki-laki juga terlibat.

Gerakan Ibu-Ibu mengangkat pertanyaan tentang perempuan dalam ruang politik dan batasan-batasan yang mengelilingi ruang tersebut.

Peran gender yang dibangun secara sosial yang lazim di masyarakat Argentina membatasi arena politik, mobilisasi politik , dan konfrontasi hanya pada laki-laki.

Ketika para Ibu memasuki Plaza de Mayo, ruang publik dengan signifikansi historis, mereka mempolitisasi peran mereka sebagai ibu dalam masyarakat dan mendefinisikan kembali nilai-nilai yang terkait dengan politik dan peran ibu itu sendiri.

Meskipun mereka tidak menantang struktur patriarki masyarakat Argentina, dengan melintasi batas-batas ke dalam ranah politik yang didominasi laki-laki, mereka memperluas ruang representasi bagi perempuan Argentina dan membuka jalan bagi bentuk-bentuk partisipasi sipil yang baru.

Para Ibu berkomitmen pada politik yang berpusat pada anak, yang dilambangkan oleh selendang putih yang mereka kenakan di kepala mereka.  

Selendang tersebut awalnya adalah popok, atau dimaksudkan untuk mewakili popok; selendang tersebut disulam dengan nama anak-anak atau kerabat mereka yang hilang.

Mereka memprotes tidak hanya apa yang telah dilakukan terhadap anak-anak mereka, tetapi juga terhadap diri mereka sendiri sebagai ibu dengan mengambil anak-anak mereka.

Inti dari gerakan ini selalu "perasaan perempuan, perasaan ibu", menurut Hebe de Bonafini. Ia lebih lanjut menyatakan bahwa "kekuatan perempuan, para ibu, yang membuat kami terus maju."

Identitas perempuan sebagai ibu tidak membatasi mereka untuk berpartisipasi atau memberikan dampak dalam ruang politik yang didominasi laki-laki.

Protes publik mereka bertentangan dengan ranah tradisional dan "pribadi" keibuan. Dengan melakukan mobilisasi, mereka mempolitisasi kesadaran mereka sebagai perempuan.  

Mereka menampilkan representasi konservatif tentang keibuan, yang menghindari beberapa kontroversi dan membantu menarik dukungan media internasional.

Mereka menolak konsep bahwa agar dianggap serius atau berhasil, suatu gerakan harus netral gender atau maskulin: feminitas dan keibuan merupakan bagian integral dari protes para Ibu.

Ibu-ibu Plaza de Mayo secara aktif mengubah gagasan tradisional tentang peran ibu dan gender menjadi identitas dan strategi politik, alih-alih hanya bertindak berdasarkan pengalaman bersama mereka sebagai orang tua yang berduka.

Para ibu mengubah rasa sakit pribadi mereka yang terabaikan akibat hilangnya anak-anak mereka menjadi tuntutan politik kolektif tentang keadilan dan kebenaran, dan ekspresi publik dari kesedihan ini memberikan otoritas moral yang kuat pada protes mereka di masyarakat Argentina.

Sepanjang era Neoliberal, para Ibu memperpanjang penggunaan ingatan, ritual publik, dan simbolisme keibuan untuk menyebarkan kesadaran dan menghubungkan kekerasan negara di masa lalu dengan perjuangan yang sedang berlangsung untuk keadilan sosial di Argentina. Selanjutnya, mereka memperluas aktivisme mereka melampaui kediktatoran.

Suara Ibu Peduli

Mengenal Suara Ibu Peduli, Gerakan Perempuan Melawan Rezim Soeharto. Kelompok ibu-ibu menginisiasi gerakan Suara Ibu Indonesia. Gerakan yang diinisiasi oleh aktivis perempuan, buruh, hingga akademisi ini berkonsolidasi.

Aksi demonstrasi Gerakan Suara Ibu Indonesia sebagai dukungan bagi perjuangan mahasiswa di kawasan Sarinah, Jakarta.

Aksi demonstrasi Gerakan Suara Ibu Peduli sebagai dukungan bagi perjuangan mahasiswa di kawasan Sarinah, Jakarta

Gerakan perempuan yang melawan otoritarianisme Soeharto sebelum reformasi 1998. Mereka punya peran krusial saat runtuhnya Soeharto sebagai presiden kala itu.

Gerakan Suara Ibu Peduli bermuara dari diskusi di kalangan redaksi Jurnal Perempuan. Gerakan ini pertama kali dirancang pada November 1997.

Belasan perempuan mematangkan rencana aksi selama tiga bulan. Mereka rapat di kantor Yayasan Jurnal Perempuan, Jakarta pada pertengahan Februari 1998.

Sepekan berselang, Karlina Supelli bersama 14 perempuan yang lain berunjuk rasa di sekitar bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Para perempuan itu memprotes harga susu yang kelewat mahal karena krisis ekonomi.

Isu yang dibawa dalam aksi hari itu hanya sebagai kamuflase. "Kami sadar akan langsung ditangkap kalau terang-terangan menuntut pelengseran Soeharto," ujar Karlina yang kala itu sebagai dosen di Universitas Indonesia, dalam sebuah wawancara pada Selasa, 16 Mei 2023.

Isu kelangkaan susu itu diusulkan oleh Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan Gadis Arivia. Dia memperhatikan stok susu yang kerap habis di toko swalayan sekitar rumahnya. Isu kelangkaan susu juga dinilai dekat dengan ibu-ibu, sehingga mudah menarik simpati dari perempuan lain.

Ide sebenarnya dari aksi tersebut ialah memprotes kepemimpinan Soeharto. Kelompok perempuan itu menilai, bahwa kepemimpinan Presiden ke-2 otoriter.

Karlina dan Gadis diangkut oleh polisi setelah baru setengah jam berdemonstrasi. Keduanya dituduh sebagai motor demonstrasi Suara Ibu Peduli. Dalam mobil patroli itu, juga sudah ada aktivis perempuan asal Salatiga, Wilasih Nophiana.

Mereka menginap semalam di Polda Metro Jaya, sebelum akhirnya diperintahkan untuk wajib lapor. Di sana, ketiganya diinterogasi oleh polisi ihwal alasan berunjuk rasa.

Saat gelombang demonstrasi mahasiswa pecah pada Mei 1998, Suara Ibu Peduli mendirikan pos logistik di titik unjuk rasa, yaitu gedung DPR. Pos logistik itu juga mereka dirikan di kantor Yayasan Jurnal Perempuan.

Aksi itu mendapat reaksi positif dari publik. Beberapa bantuan berdatangan ke markas Suara Ibu Peduli. Kala bantuan mengalir deras, Suara Ibu Peduli membangun pos khusus di halaman gedung DPR.

Di titik itulah, Karlina bersama mayoritas anggota Suara Ibu Peduli berada saat Soeharto membacakan surat pengunduran diri sebagai presiden pada 21 Mei 1998. Kini ada gerakan Suara Ibu Indonesia sebagai reinkarnasi Suara Ibu Peduli.

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78


Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Anak SMA Peserta Cerdas Cermat MPR Ramai-ramai Dibully Juri dan MC

Senin, 11 Mei 2026 | 14:27

UPDATE

Muktamar NU: Menjaga Sang Pendiri NKRI dari Intervensi

Rabu, 20 Mei 2026 | 22:07

Jazzscape: Malam Intim Jazz dari Rooftop Jakarta

Rabu, 20 Mei 2026 | 22:06

KDKMP Kembalikan Hak Rakyat Secara Fair

Rabu, 20 Mei 2026 | 21:54

Prabowo Sapa Ribuan Massa Aksi Damai Pendukung Ekonomi Kerakyatan di DPR

Rabu, 20 Mei 2026 | 21:52

Ketika Ibu Bersatu Padu

Rabu, 20 Mei 2026 | 21:43

Tak Sesuai Keputusan Presiden, DPR Heran Realisasi Bantuan Pangan Ditunda

Rabu, 20 Mei 2026 | 21:33

TNI Bantah jadi Penyebab Ledakan Depan Gereja di Intan Jaya

Rabu, 20 Mei 2026 | 21:26

BPOM Bali Bongkar Peredaran Obat Keras Ilegal, 15 Tersangka Ditangkap

Rabu, 20 Mei 2026 | 21:04

Pembentukan BUMN Ekspor Dinilai Belum Sentuh Akar Masalah

Rabu, 20 Mei 2026 | 20:59

Mercy Barends: Hentikan Kriminalisasi Masyarakat Adat Halmahera Utara

Rabu, 20 Mei 2026 | 20:55

Selengkapnya