Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Negeri di Ujung Napas

RABU, 20 MEI 2026 | 05:11 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

ADA satu kalimat yang mendadak membuat ruang fiskal terasa seperti ruang ICU, survival mode. Ia bukan keluar dari mulut aktivis jalanan, bukan pula dari ekonom pinggiran yang gemar menabuh genderang krisis.

Ia justru diucapkan oleh Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, orang yang memegang dompet negara, sekaligus penjaga denyut nadi anggaran. Maka kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia seperti alarm yang berbunyi bukan di telinga, tapi langsung di dada.

Namun, lucunya negeri ini seperti pasien yang dipuji dokter luar negeri,  “Kondisinya stabil kok, bagus!” kata International Monetary Fund (IMF). Stabil? Di saat yang sama, di dalam negeri sendiri petingginya bicara soal bertahan hidup.


Ini seperti orang yang tersenyum di foto keluarga, padahal semalam belum makan. Atau seperti rumah yang dicat ulang di bagian depan, sementara fondasinya diam-diam retak dimakan rayap.

Di titik ini, kita perlu jujur bahwa survival mode bukan berarti tinggal menunggu mati, tapi jelas bukan pula hidup nyaman.

Ia adalah fase ketika setiap kesalahan kecil bisa menjadi fatal. Ketika pemborosan bukan lagi sekadar kebodohan, tapi bentuk bunuh diri berjamaah. Ketika kebocoran anggaran bukan lagi “kecolongan”, tapi sabotase terhadap masa depan.

Masalahnya, negeri ini punya kebiasaan aneh yaitu lubang besar ditutup dengan menggali lubang baru. Hutang lama dilunasi dengan hutang baru. Seperti orang yang menambal atap bocor dengan membuka genteng lain.

Ironisnya, di bawah sana, tikus-tikus anggaran ikut berpesta. Mereka tidak peduli apakah ini survival mode atau festival mode. Selama ada celah, mereka akan tetap menggerogoti.

Lalu kita melihat ke luar. Ada satu negara yang selama hampir setengah abad hidup dalam kondisi yang bahkan lebih brutal dari sekadar survival mode yaitu Iran. Ditekan, diembargo, diisolasi. Tapi anehnya, dari tekanan itu lahir ketahanan. Dari keterbatasan lahir inovasi.

Mereka tidak punya kemewahan untuk salah, maka mereka belajar untuk tepat. Tidak punya ruang untuk boros, maka mereka menjadi efisien. Dan akhirnya, mereka bisa berdiri, bahkan menantang kekuatan sebesar Amerika Serikat dalam bidang teknologi tertentu, terutama teknologi militer modern.

Bandingkan dengan kita. Kita tidak diembargo. Kita tidak diisolasi. Kita bahkan dipuji. Tapi justru di tengah kelonggaran itu, kita sering lalai.

Terlalu banyak program yang “bagus di atas kertas”, tapi bocor di lapangan. Terlalu banyak kebijakan yang terlihat heroik di podium, tapi melempem saat eksekusi.

Di sinilah sense of crisis seharusnya tidak berhenti sebagai jargon. Ia harus menjelma menjadi tindakan yang konkret dan, kalau perlu, brutal terhadap inefisiensi. Semua program harus diaudit ulang. Semua kebijakan harus diuji, apakah ini benar-benar perlu, atau sekadar proyek yang mencari alasan untuk hidup?

Karena dalam survival mode, tidak ada ruang untuk basa-basi. Tidak ada ruang untuk proyek titipan. Tidak ada ruang untuk kompromi dengan ketidakjujuran. Bahkan satu persen kebocoran bisa berarti hilangnya oksigen bagi jutaan rakyat.

Dan satu hal lagi yang sering kita lupakan: pujian dari luar tidak selalu berarti keselamatan.

Sejarah kita pernah mencatat bagaimana manisnya kata-kata lembaga global bisa berubah menjadi pahitnya ketergantungan gombal. Kita pernah terbuai, lalu tersandung. Maka hari ini, pujian itu harus disaring, bukan ditelan mentah-mentah.

Akhirnya, negeri ini memang belum mati. Tapi jelas sedang diuji, apakah ia akan sekadar bertahan, atau benar-benar berbenah.

Karena dalam kamus kehidupan bangsa, survival hanyalah fase. Ia bisa menjadi jalan menuju kebangkitan, atau justru pintu menuju kejatuhan, tergantung apakah kita berani berubah, atau tetap nyaman dalam ilusi.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

KPK Terbitkan Sprindik Baru Terkait TPPU Wali Kota Madiun Maidi

Rabu, 23 September 2026 | 18:27

Pemerintah Sediakan Pendidikan Gratis Mulai TK hingga SMA Lewat Dana BOS

Rabu, 23 September 2026 | 18:19

IHSG-Rupiah Kompak Parkir di Zona Hijau Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 23 September 2026 | 17:58

Beli Tiket MotoGP Indonesia 2026 via wondr by BNI Diskon hingga Rp300 Ribu

Rabu, 23 September 2026 | 17:41

Anggota DPRD Hingga Petinggi LSM Diperiksa KPK dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 23 September 2026 | 17:38

Prabowo Bentuk Tim Khusus Kaji Rencana Gratiskan Kuliah di PTN

Rabu, 23 September 2026 | 17:34

Bos BI Ungkap Investasi Asing Masuk RI Rp7,1Triliun, Ditopang SBN

Rabu, 23 September 2026 | 17:18

Legislator Nasdem Dorong Pembenahan Pelayaran, Belajar dari Kereta Api

Rabu, 23 September 2026 | 17:09

Pemerintah Bisa Lebih Repot Bila Daya Beli Kelas Menengah Terus Tertekan

Rabu, 23 September 2026 | 17:01

Prabowo Pantau Karhutla Sumatra-Kalimantan, 209,78 Hektare Masih Dipadamkan

Rabu, 23 September 2026 | 16:52

Selengkapnya