DI Timur Indonesia, jauh dari kegaduhan politik, mengendap sumberdaya energi dengan skala besar di negeri ini. Ia tidak tampak di permukaan, tidak hadir dalam statistik harian, dan sering kali luput dari perdebatan publik.
Di bawah laut dalam, di antara lapisan batuan yang terbentuk jutaan tahun lalu terdapat fondasi energi bagi peradaban modern, gas alam. Di timur ada gas dan di atasnya perlahan sedang dibangun kilang-kilang LNG.
Berdasarkan data dari Badan Geologi Kementerian ESDM, Indonesia memiliki 128 cekungan sedimen (sedimentary basin). Cekungan produksi yang berada di wilayah bagian barat saat ini banyak yang memasuki “masa pensiun” (mature field).
Sebaliknya di wilayah timur, terdapat 39 cekungan kaya hidrokarbon yang potensial untuk dieksplorasi melalui produksi tahap kedua (pre-tertiary) dan tahap lanjut (tertiary), disinilah gas alam itu bermukim.
Dimulai dari Bintuni, Papua Barat, Kilang LNG yang pertama di Indonesia Timur melakukan ekspor LNG ke Gwangyang, Korea Selatan pada tahun 2009. Dengan lokasi yang terpencil (frontier), BP perusahaan Migas asal Inggris kemudian melanjutkan dengan membangun kilang LNG Train 2 dan Train 3 yang diresmikan tahun 2023 lalu, sehingga total kapasitas kilang LNG Tangguh mencapai 11,4 juta ton per tahun dengan cadangan gas 14,4 Tcf.
Di Papua Barat juga sedang berproses untuk membangun kilang LNG dengan KKKS Genting Oil Kasuri. Berbeda dengan kilang Tangguh, perusahaan asal Malaysia ini membangun kilang LNG dengan menggunakan fasilitas terapung atau Floating-LNG berkapasitas 1,2 juta ton per tahun dan diperkirakan akan beroperasi tahun 2027.
Sementara itu di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, juga sudah beroperasi kilang LNG Donggi-Senoro yang merupakan kerjasama antara Pertamina dan Medco EP Tomori Sulawesi (Joint Operating Body).
Kilang LNG ini merupakan proyek dengan model yang baru untuk pengembangan Migas, dimana dengan menggunakan skema hilir, yang memisahkan produksi gas di hulu pasokan bahan baku gas alam dengan dengan pengolahan gas di hilir (LNG).
Kilang LNG berjalur satu (single train) ini memiliki total investasi 4,8 miliar Dolar AS dengan kapasitas produksi LNG sebesar 2,1 juta ton per tahun.
Sayangnya perubahan kebijakan dan kompleksitas wilayah kerja terhadap Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) membuat salah satu Blok Migas di Indonesia Timur berjalan tertatih-tatih dan sampai hari ini belum bisa melakukan monetisasi.
Blok Masela yang terletak di Laut Arafura (Kepulauan Tanimbar) dengan operator Inpex Masela Ltd telah menemukan cadangan migas di Sumur Abadi-1 dengan sejak tahun 2000 atau 26 tahun lalu, dan hingga hari ini belum bisa melakukan komersialisasi meski telah mengeluarkan biaya pengembangan lebih dari 2 miliar Dolar AS.
Usulan untuk membuat kilang terapung (FLNG) ditolak pemerintah membuat Inpex harus mencari lokasi baru di darat untuk produksi Kilang LNG. Perubahan lokasi fasilitas kilang ini membuat semua perencanaan harus memulai lagi dan ini memakan waktu termasuk juga persoalan pembebasan lahan di lokasi baru yakni Pulau Yamdena, Kepulauan Tanimbar.
Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungannya ke Jepang pada April 2026 lalu mendorong percepatan proyek raksasa Lapangan Gas Abadi Blok Masela di Maluku. Dengan tambahan sekitar 1 miliar Dolar AS untuk teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) agar lebih ramah lingkungan, total investasi mencapai Blok Masela diperkirakan akan mencapai 20,9 miliar Dolar AS atau lebih dari Rp300 triliun.
Proyek ini memiliki cadangan gas sangat besar, dengan estimasi mencapai 18,54 TCF dan diharapkan dapat memproduksi LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun. Umumnya proyek LNG skala besar memerlukan waktu 5-7 tahun sejak final investment decision (FID) dilakukan.
Secara geologi, Blok Masela berada di tepian benua Australia dalam sistem Bonaparte Basin, satu keluarga dengan lapangan besar seperti Greater Sunrise dan Bayu-Undan.
Wilayah Bonaparte Basin mencakup perairan Barat Laut Australia, sebagian Laut Timor, serta garis pantai di perbatasan Western Australia dan Northern Territory.
Lapangan Abadi merupakan penemuan pertama Indonesia pada Formasi Plover Jura Tengah, berlokasi sekitar 350 km di timur Pulau Timor dan 350 km di utara Darwin, Australia, tepat di utara batas internasional dengan Australia pada kedalaman 400–800 meter.
Reservoirnya berupa batupasir kuarsa laut dangkal dengan kolom gas besar dan kandungan kondensat bernilai tinggi. Secara teknis, Masela memiliki kemiripan dengan Gorgon LNG di Australia karena sama-sama menargetkan Mesozoic Gas Play dan menghadapi tantangan kandungan CO2 yang tinggi.
Kandungan CO2 yang tinggi membuat kilang LNG di Maluku ini harus dilengkapi dengan teknologi carbon capture storage (CCS) di mana karbon (CO2) yang keluar dari perut bumi dilakukan penangkapan, pemampatan, dan penyuntikan kembali gas CO2 ke dalam bumi, dan ini memerlukan tenaga (energi) yang dilakukan oleh pembangkit listrik tenaga gas (PLTG).
Setiap kilang LNG memerlukan pembangkit listrik yang tenaga penggeraknya biasanya dilakukan oleh gas turbin. Gas turbin memegang peranan yang sangat krusial dalam kilang LNG karena berfungsi sebagai "jantung" penggerak seluruh proses pencairan gas dan fasilitas kilang lainnya.
Fungsi utama gas turbin dalam kilang LNG adalah menyediakan tenaga mekanis untuk memutar kompresor pendingin (refrigerant compressors). Proses mengubah gas alam menjadi cair (LNG) membutuhkan penurunan suhu hingga -1600C.
Gas turbin memberikan daya yang sangat besar yang dibutuhkan oleh kompresor untuk mensirkulasikan zat pendingin (seperti propana, etilena, atau metana) dalam siklus pendinginan yang kompleks.
Gas turbin di kilang LNG umumnya menggunakan sebagian kecil dari gas alam yang masuk sebagai bahan bakar. Ini menciptakan sistem yang efisien di mana kilang "memakan" sebagian kecil energinya sendiri untuk memproses sisanya menjadi produk cair.
Repotnya saat ini gas turbin adalah barang langka dan diperebutkan oleh industri digital khususnya dalam pengembangan data center dan kenaikan harga yang sangat tinggi sejak tahun 2019.
Jika hanya ingin bertumpu pada produsen turbin yang dominan “Triumvirat”, GE Vernova, Siemens dan Mitsubishi dipastikan proyek ini akan sangat terlambat, mengingat kapasitas produksi turbin penuh hingga tahun 2030, dan karenanya Inpex Masela maupun SKK Migas harus lebih teliti untuk meneropong produsen turbin yang lain untuk proyek Masela.
Revolusi shale oil di Amerika dan banyaknya penemuan cadangan gas alam di belahan dunia lain membuat kompetisi untuk memperebutkan “jantung” fasilitas pemrosesan gas alam menjadi LNG, yakni Air Separation Unit (ASU) juga tidak mudah.
Waktu tunggu (lead time) untuk memproduksi satu unit ASU skala mega, dari penandatanganan kontrak hingga commissioning operasional, adalah tiga hingga empat tahun dan hanya ada 5 perusahaan yang mampu membuat ASU ini, Linde (Jerman), Air Liquid (Perancis), Air Products and Chemicals (Amerika), Hangyang (Cina) dan SIAD Macchine Impianti (Italia).
Unit ini (ASU) bekerja memisahkan udara atmosfer menjadi gas murni—terutama Nitrogen N2 dan Oksigen O2—melalui proses distilasi fraksionasi pada suhu ekstrem (kriogenik) mendekati -1960C. Sebelum gas bisa didinginkan menjadi LNG pada -1620C, seluruh sistem harus bebas dari udara dan kelembaban yang bisa membeku dan menyumbat.
Nitrogen yang tidak mudah bereaksi (inert) dari ASU adalah satu-satunya cara untuk mencapai kondisi bersih itu secara aman. Selain itu, nitrogen digunakan untuk mengatur heating value-nilai kalori LNG agar memenuhi spesifikasi kontrak pembeli.
Pasar Jepang dan Korea memiliki standar kualitas LNG yang sangat ketat, nitrogen diinjeksikan untuk "mengencerkan" LNG yang terlalu kaya metana agar sesuai spesifikasi.
Banyaknya penemuan ladang migas di Timur sayangnya tidak diimbangi dengan penyediaan infrastruktur receiving terminal (darat).
Selama ini pengiriman LNG dilakan ship-to ship dimana terdapat FSRU (floating storage regasification unit) di Lampung, Jawa Barat dan Bali dengan kapasitas terbatas karena hanya digunakan untuk pembangkit listrik.
Neraca gas di pulau Jawa (Barat dan Tengah) yang kekurangan suplai membutuhkan tambahan gas yang lebih besar, dan LNG diharapkan dapat mengisi kekurangan gas tersebut.
Sayangnya dalam hal pembangunan receiving terminal LNG yang berlaku adalah teori “akan”. Meski Tangguh kilang 3 sudah diresmikan beberapa tahun lalu, hingga hari ini belum ada “hilal” bahwa receiving terminal LNG di Indonesia akan dibangun. PLN yang rencananya akan mengganti PLTD dengan LNG juga tidak terlihat antusias untuk membangun kilang penerima LNG.
Demikian juga dengan Pertamina yang akan membangun terminal penerima gas alam cair di Bojonegoro sebesar sampai hari ini tidak tentu rimba.
Proyek Kilang LNG di Masela penuh paradoks, bolak-balik dibanggakan oleh para presiden sebagai proyek terbesar di tanah air, namun tidak jelas apakah produksinya akan digunakan di Indonesia. Proyek Masela adalah bentuk lain dari proyek energi yang kaya seremonial namun minim infrastruktur.
Energy Investment & PPP Specialist ENRI Indonesia