Berita

Ilustrasi Rupiah (Imagined by babbe)

Bisnis

Dampak Pelemahan Rupiah: Dari Risiko Kredit hingga Penurunan Daya Beli

SENIN, 18 MEI 2026 | 10:42 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Depresiasi nilai tukar Rupiah yang cukup tajam kini menjadi tantangan berat bagi pasar keuangan domestik. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa situasi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, sehingga memicu efek domino bagi perekonomian global dan nasional.

Secara tidak langsung, sektor perbankan Indonesia turut merasakan imbas dari gejolak tersebut. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa tekanan pada mata uang Garuda berpotensi mendongkrak risiko pasar dan risiko kredit.


“Dampak tidak langsung ke perbankan Indonesia dapat terjadi melalui peningkatan risiko pasar dan risiko kredit. Dari sisi risiko pasar, meningkatnya volatilitas di pasar keuangan global serta tekanan terhadap nilai tukar dapat mempengaruhi kinerja portofolio keuangan perbankan, khususnya bagi yang memiliki eksposur besar pada liabilitas valuta asing,” kata Dian dalam keterangannya, dikutip Senin 18 Mei 2026.

Fokus perhatian tertuju pada pembengkakan risiko kredit. Penurunan nilai tukar Rupiah yang disertai lonjakan harga energi dan tekanan inflasi lambat laun akan mengerek biaya produksi serta distribusi di sektor usaha. 

Akibatnya, profitabilitas perusahaan tergerus, yang pada akhirnya melemahkan kemampuan debitur untuk membayar kewajibannya serta menekan daya beli masyarakat luas.

Meski dibayangi risiko makroekonomi tersebut, Dian menegaskan bahwa kondisi perbankan tanah air secara umum masih menunjukkan kinerja yang solid. 

Fungsi intermediasi tetap berjalan lancar dengan profil risiko yang terkendali, didukung oleh bantalan permodalan yang kuat untuk menghadapi ketidakpastian global.

“Pada Maret 2026, kinerja permodalan perbankan terjaga tinggi tercermin dari rasio CAR (Capital Adequacy Ratio) sebesar 25,09 persen. Kemudian, risiko kredit perbankan juga tetap terjaga dengan baik, tercermin dari rasio NPL (Non-Performing Loan) di bawah 3 persen sebesar 2,14 persen, serta tren coverage pencadangan CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) yang relatif stabil,” jelasnya.

Guna mengukur sejauh mana kekuatan bank dalam meredam potensi syok makroekonomi, OJK bersama industri perbankan rutin menggelar stress test. Pengujian ini menggunakan berbagai skenario buruk, termasuk dinamika harga energi serta fluktuasi politik dan ekonomi global.

Dian optimistis bahwa industri perbankan domestik memiliki daya tahan yang memadai untuk menghadapi skenario terburuk sekalipun.

“Hasil stress test OJK maupun perbankan menunjukkan bahwa tingkat permodalan perbankan saat ini masih memadai untuk menghadapi risiko yang disebabkan oleh perubahan signifikan dalam kondisi makroekonomi Indonesia, antara lain perlambatan pertumbuhan ekonomi, depresiasi nilai tukar Rupiah, maupun peningkatan suku bunga yang mempengaruhi penurunan nilai aset perbankan,” terangnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya