Berita

Drone Fiber Optik (Foto: AFP)

Dunia

Drone Fiber Optik Hizbullah Bikin Militer Israel Kocar-kacir di Lebanon

MINGGU, 10 MEI 2026 | 13:03 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Militer Israel dilaporkan masih dibuat kewalahan menghadapi serangan drone fiber optik milik Hizbullah yang kian canggih dan efektif menghantam pasukan serta kendaraan tempur mereka di Lebanon Selatan. 

Teknologi udara tanpa awak tersebut kini menjadi ancaman serius yang memaksa Tel Aviv terus mencari cara baru untuk bertahan.

Mengutip laporan media Israel KAN Minggu, 10 Mei 2026, militer Zionis baru-baru ini mulai menerapkan sistem penargetan cerdas di Lebanon Selatan sebagai upaya meningkatkan kemampuan melacak sekaligus mencegat drone-drone Hizbullah yang sulit dideteksi.


Tidak hanya itu, ratusan alat bidik malam “Dagger” juga telah didistribusikan kepada tentara Israel guna memperbaiki akurasi tembakan terhadap target bergerak dalam operasi malam hari, saat serangan drone disebut paling berbahaya.

KAN menegaskan drone fiber optik Hizbullah telah berkembang menjadi salah satu tantangan operasional terbesar bagi militer Israel karena kemampuan deteksi dan intersepsinya sangat terbatas. 

Kondisi ini membuat pasukan Israel kerap berada dalam posisi rentan di tengah operasi darat dan patroli militer di wilayah perbatasan Lebanon.

Serangan-serangan tersebut terus berlangsung di tengah pelanggaran dan penetrasi harian Israel ke Lebanon selatan, meski gencatan senjata yang dimulai sejak 17 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei masih secara resmi berlaku. 

Namun hingga kini, Israel disebut belum memiliki solusi yang benar-benar efektif untuk meredam ancaman tersebut.

Pada akhir April lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan mengakui bahwa rudal dan drone Hizbullah merupakan dua tantangan besar bagi Israel, seraya menekan para komandan militernya agar segera menemukan strategi penangkal yang lebih ampuh.

Sejak serangan Israel ke Lebanon meningkat pada 2 Maret, tak lama setelah perang Iran pecah pada akhir Februari, lebih dari 2.700 orang dilaporkan tewas dan lebih dari satu juta lainnya mengungsi. 

Sementara Amerika Serikat kembali memfasilitasi pembicaraan damai Lebanon-Israel di Washington pada 14-15 Mei, medan perang di Lebanon Selatan justru terus menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari mereda.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Pabrik Bioetanol Bakal Diperbanyak, Pemerintah Siapkan Revisi Perpres 40

Selasa, 08 September 2026 | 18:19

BUK Migas Harus Lebih Gesit Kejar Investasi dan Lifting

Selasa, 08 September 2026 | 17:57

Menimbang Ulang Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 17:41

Pemerintah Harus Antisipasi Kekeringan dan Gagal Panen akibat El Nino

Selasa, 08 September 2026 | 17:34

Purbaya soal Utang Whoosh Dicicil 80 Tahun: Kita Udah Mati, Santai Aja!

Selasa, 08 September 2026 | 17:23

KPK Panggil Anggota DPRD Hingga Pengurus Golkar Jateng di Kasus Bupati Pemalang

Selasa, 08 September 2026 | 17:14

Masa Jabatan Kapolri: Open Legal Policy atau Celah Subjektivitas?

Selasa, 08 September 2026 | 16:47

Rusia dan Korea Utara Buka Jembatan Darat Pertama di Perbatasan

Selasa, 08 September 2026 | 16:40

RUU Pemilu Jangan Keluar dari Filosofi Dasar Demokrasi

Selasa, 08 September 2026 | 16:34

Purbaya Curhat Suka Duka jadi Menkeu, Berat Badan Sempat Turun 14 Kg

Selasa, 08 September 2026 | 16:31

Selengkapnya