Tangannya tampak keriput dimakan usia, giginya terlihat tinggal satu. Namun senyum di wajah Rahmah Sali Binti Sali atau yang akrab disapa Mak Ramlah yang saat ini berusia 101 tak pernah pudar.
Pada Jumat pagi, 8 Mei 2026, Mak Ramlah bersama sejumlah jemaah Haji Aceh Kloter 4 menjalani proses keberangkatan.
Di tengah ratusan calon jemaah haji lain yang memadati aula Jeddah Asrama Haji Banda Aceh, perempuan renta itu duduk tenang di kursi roda sambil mengenakan jilbab putih bersih.
Sesekali ia menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan aktivitas para petugas yang sibuk melayani para tamu Allah.
Petugas membantu pemeriksaan kesehatan, pemasangan gelang identitas, pembagian paspor,
living cost Baitul Asyi, hingga kartu Nusuk yang akan digunakan selama berada di Arab Saudi.
Di usianya yang telah mencapai 101 tahun, Mak Ramlah menjadi jemaah haji tertua di Aceh tahun ini. Namun usia senja tak membuat semangatnya surut. Wajahnya justru memancarkan kebahagiaan yang sulit disembunyikan.
“Badan saya juga masih sehat dan kuat, makan pun masih lancar,” kata Mak Ramlah, dikutip dari
RMOLAceh.
Di balik tubuh renta itu, tersimpan perjalanan panjang menuju Baitullah. Perjalanan yang tidak datang secara instan, melainkan dipupuk dari kesabaran dan kebiasaan sederhana yang ia lakukan bertahun-tahun lalu di kampungnya.
Mak Ramlah berasal dari Alue Lhok, Aceh Tamiang. Namun karena salah satu anaknya tinggal di Kota Langsa, ia bergabung bersama jemaah asal Langsa untuk keberangkatan tahun ini.
Hidupnya sehari-hari masih diisi aktivitas rumah tangga seperti biasa. Meski telah melewati satu abad usia, ia mengaku masih memasak sendiri untuk anak-anaknya.
“Anak saya ada 13 orang. Waktu pertama kali diberi tahu oleh orang Kemenhaj Langsa kalau saya berangkat haji tahun ini, saya merasa sangat senang,” ujarnya seraya tersenyum kecil.
Bagi sebagian orang, usia di atas 100 tahun mungkin identik dengan keterbatasan fisik. Namun tidak bagi Mak Ramlah. Ia mengaku masih mampu berjalan sendiri tanpa tongkat. Bahkan pekerjaan rumah seperti menyapu dan mengepel masih sanggup ia kerjakan.
“Sebelum berangkat ke asrama saya cuma minta sama Allah supaya jangan mabuk perjalanan, karena saya tidak biasa naik mobil jauh-jauh, biasanya naik motor. Alhamdulillah selama perjalanan tidak mabuk,” kata Mak Ramlah.
Perjalanan menuju Tanah Suci bukan sekadar perjalanan fisik bagi Mak Ramlah. Itu adalah mimpi panjang yang ia rawat dalam ibadahnya yang panjang.
Mak Ramlah tidak memiliki penghasilan besar. Tabungan hajinya dikumpulkan sedikit demi sedikit dari uang “jajan” yang diberikan anak-anaknya.
Dengan kesabaran seorang ibu, ia memilih menyimpan uang itu ketimbang menghabiskannya untuk kebutuhan lain. Bahkan keinginan membeli makanan kesukaannya pun kerap ia tahan demi cita-cita berhaji.
“Dulu waktu daftar haji saya nabung uang sedikit demi sedikit dari uang jajan yang dikasih sama Anak-anak," kata Mak Ramlah.
Cerita itu menjadi potret sederhana tentang ketekunan seorang ibu perkampungan yang memendam impian besar.
Tidak ada kisah tentang harta melimpah atau usaha besar. Hanya tentang disiplin menyisihkan uang receh dari hari ke hari, dengan tujuan menatap tanah suci.
Semangat Mak Ramlah juga terlihat ketika mengikuti manasik haji sebelum keberangkatan. Ia tetap hadir mengikuti bimbingan meski harus bepergian menggunakan sepeda motor bersama anaknya di Langsa.
“Perginya bonceng-boncengan sama anak naik motor. Hari Minggu juga pergi manasik,” kata Mak Ramlah.
Di asrama haji, para jemaah lain sesekali menoleh ke arah Mak Ramlah. Beberapa tampak menyapa dan tersenyum hormat. Kehadirannya seperti membawa energi tersendiri bagi calon jemaah lain yang jauh lebih muda.
Mak Ramlah sendiri mengaku tidak memiliki permintaan muluk-muluk ketika nantinya berdiri di depan Kabah. Ia hanya ingin diberi kesehatan dan kesempatan untuk terus beribadah.
“Soal resep sehat, saya tidak ada resep khusus. Saya makan apa saja, selain Kangkung sama bayam, karena badan terasa sakit kalau makan itu dua,” kata Mak Ramlah.
Bagi Mak Ramlah, perjalanan ini mungkin bukan hanya tentang memenuhi rukun Islam kelima. Ini adalah jawaban dari doa panjang yang dipelihara dalam diam selama bertahun-tahun.
Dari uang jajan yang ditabung sedikit demi sedikit, dari perjalanan manasik naik motor, hingga doa agar tidak mabuk dalam perjalanan jauh.
Kini, di usia senjanya, perempuan itu akhirnya bersiap menatap Kabah untuk pertama kali.
Semoga Mak Ramlah menjadi haji yang mabrur dan kembali ke tanah air dalam kondisi sehat. Aamiin, aamiin ya rabbal ‘alamin.