Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Pertumbuhan Ekonomi dalam Dapur Rakyat

SELASA, 05 MEI 2026 | 18:59 WIB

PAGI itu angka-angka tampak rapi, seolah dunia berjalan sebagaimana mestinya. Di layar presentasi, grafik menanjak dengan sopan, memberi kesan bahwa ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi prima. Tidak ada kegaduhan, tidak ada tanda bahaya--hanya statistik yang tersusun elegan.

Di ruang yang sama hari ini, 5 Mei 2026, Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, dengan senyum terukur mengumumkan: pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen (year on year). Tepuk tangan mungkin tidak terdengar, tetapi angka itu cukup untuk menjadi bahan optimisme.

Namun di luar ruangan itu, dapur rakyat tidak membaca grafik. Ia membaca harga.


Pertumbuhan 5,61 persen terdengar seperti kabar baik. Tetapi pertanyaan yang lebih jujur adalah: siapa yang benar-benar tumbuh? Sebab dalam ekonomi, angka agregat sering kali menyembunyikan kenyataan yang lebih tajam.

Data menunjukkan bahwa pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan lonjakan belanja pemerintah. THR mengalir, program Makan Bergizi Gratis (MBG) digelontorkan, dan belanja negara meningkat signifikan. Ekonomi bergerak--tetapi didorong oleh dorongan fiskal.

Dalam logika sederhana, ketika negara membelanjakan uang dalam jumlah besar, aktivitas ekonomi memang meningkat. Warung ramai, jasa bergerak, konsumsi melonjak. Tetapi ini menimbulkan pertanyaan lanjutan: apakah ini pertumbuhan yang berkelanjutan, atau sekadar dorongan sesaat?

Di saat yang sama, nilai tukar rupiah justru menunjukkan arah berbeda. Dalam satu tahun, rupiah melemah dari kisaran Rp16.300 menjadi mendekati Rp17.400 per Dolar AS. Pelemahan ini bukan sekadar angka--ia merembes ke seluruh sendi ekonomi.

Kurs yang melemah berarti impor menjadi lebih mahal. Gandum, kedelai, bahan baku industri--semuanya terdorong naik. Dan pada akhirnya, kenaikan itu berhenti di tempat yang paling sederhana: pasar tradisional.

Ironinya, di tengah pelemahan kurs, inflasi justru tercatat relatif rendah: 2,42 persen (year on year, April 2026). Angka ini berada dalam rentang target stabilitas. Secara makro, ini adalah kabar baik.

Namun inflasi adalah rata-rata. Ia tidak membedakan antara harga cabai yang melonjak dan harga barang elektronik yang stabil. Ia meratakan rasa sakit menjadi angka yang tampak jinak.

Di sinilah paradoks itu muncul. Ekonomi tumbuh 5,61 persen, inflasi terkendali di 2,42 persen, tetapi keluhan tentang mahalnya hidup tidak surut. Ada jarak antara statistik dan pengalaman.

Pertumbuhan berbasis konsumsi memiliki karakter khas: ia cepat muncul, tetapi juga cepat menghilang. Ketika dorongan fiskal berhenti, pertumbuhan berisiko ikut melambat. Tidak ada jaminan bahwa aktivitas yang tercipta hari ini akan bertahan esok.

Lebih jauh, pertumbuhan semacam ini tidak selalu menciptakan kapasitas produksi baru. Tidak otomatis membangun pabrik, tidak serta-merta meningkatkan efisiensi, dan tidak selalu membuka lapangan kerja berkualitas.

Dalam istilah sederhana, ekonomi bergerak--tetapi belum tentu menguat.

Di sisi lain, kurs tidak menunggu. Ia bereaksi terhadap pasar global, terhadap persepsi investor, terhadap ketahanan fundamental. Ketika rupiah melemah, efeknya langsung terasa tanpa perlu menunggu laporan statistik berikutnya.

Dapur rakyat memahami kurs dengan cara yang sangat konkret: harga minyak goreng, ongkos transportasi, dan biaya hidup sehari-hari.

Sementara itu, angka PDB tetap berdiri tegak sebagai simbol keberhasilan. Ia menjadi headline, menjadi bahan pidato, menjadi legitimasi bahwa ekonomi berada di jalur yang benar.

Namun angka tidak pernah memasak nasi. Dalam realitas sehari-hari, rakyat tidak mengonsumsi pertumbuhan ekonomi. Mereka mengonsumsi barang dan jasa yang harganya terus bergerak. Dan di situlah kurs memiliki pengaruh yang lebih nyata dibandingkan PDB.

Inflasi yang rendah pun tidak selalu berarti harga murah. Ia hanya berarti kenaikan harga tidak secepat sebelumnya. Bagi banyak orang, “tidak naik cepat” tetap terasa sebagai “tetap mahal”.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: indikator makro tidak selalu sinkron dengan kesejahteraan mikro.

Ketika negara membelanjakan uang untuk mendorong konsumsi, pertumbuhan memang tercipta. Tetapi tanpa penguatan produksi, tanpa stabilitas kurs, dan tanpa peningkatan daya beli riil, pertumbuhan itu menjadi rapuh.

Pada akhirnya, dapur rakyat menjadi indikator yang paling jujur. Ia tidak mengenal istilah year on year, tidak memahami basis poin, dan tidak peduli pada metodologi statistik.

Ia hanya tahu satu hal: apakah hari ini lebih mudah atau lebih sulit dibanding kemarin.

Dan mungkin di situlah kesimpulan paling tajam bisa ditarik: Pertumbuhan boleh 5,61 persen, inflasi boleh 2,42 persen, tetapi jika kurs melemah dan harga terasa naik, maka yang benar-benar “berbicara” bukanlah angka--melainkan isi piring rakyat.


Dr. Ariadi MSi
Akademisi dan praktisi dari Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU)


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya