Berita

Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. (Foto: Kementrans)

Politik

Kementrans Ajak Sarjana Turun Tangan Bangun Kawasan Transmigrasi

SENIN, 04 MEI 2026 | 20:10 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Kementerian Transmigrasi (Kementrans) meluncurkan program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) sebagai bagian dari upaya memperkuat pembangunan di wilayah prioritas melalui kehadiran langsung di lapangan, sejalan dengan arah transformasi transmigrasi.

Meski Indonesia memiliki potensi besar berupa tanah subur, kekayaan laut, dan peluang masa depan yang luas, kesenjangan pembangunan masih terjadi di sejumlah wilayah, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Kondisi ini menuntut kehadiran nyata negara, tidak hanya sebatas gagasan.

Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa arah pembangunan nasional harus menjangkau seluruh pelosok negeri, sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.


“Indonesia terlalu besar untuk hanya didiskusikan dari ruang kelas dan ruang ekspresi. Di banyak tempat, tanahnya subur, lautnya kaya, masa depannya besar. Tetapi, kemiskinan masih tinggal di sana. Bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar wacana. Bangsa ini membutuhkan kehadiran,” kata Menteri Iftitah dalam keterangannya, Senin, 4 Mei 2026.

Pada tahun 2026, sebanyak 1.458 Tim Ekspedisi Patriot akan diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Para peserta akan menjalankan kegiatan riset, kajian, serta pendampingan masyarakat secara langsung. 
Program ini dinilai mampu memperkuat kehadiran negara sekaligus menjawab kebutuhan riil masyarakat, sebagaimana telah dirasakan pada pelaksanaan TEP tahun 2025. TEP yang terjun ke lapangan dibagi dua masa pengabdian yaitu empat bulan untuk TEP Non Papua, dan satu tahun untuk TEP yang mengabdi di Papua. 

Para peserta lulusan D4/S1 akan terjun langsung ke masyarakat untuk mendampingi petani dan nelayan, membantu proses pendidikan di sekolah, mendukung layanan kesehatan, hingga berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur dasar dan penguatan ekonomi lokal di kawasan transmigrasi.

“Transmigrasi Patriot adalah panggilan. Satu tahun pengabdian untuk turun langsung ke lapangan, menghadirkan harapan baru, membuka peluang kerja, dan membangun ekonomi masyarakat. Karena Indonesia tidak dibangun oleh para penonton, tetapi oleh mereka yang memilih hadir bersama rakyatnya di garis depan pembangunan,” tegas Mentrans.

Program ini juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia yakni Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, IPB University, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin. 

Mentrans menyebut program ini juga terbuka bagi lulusan sarjana di luar 10 kampus yang telah berkolaborasi dengan Kementerian Transmigrasi. 

“Jika bukan sarjana dari 10 universitas tadi, masih dimungkinkan untuk mendaftar. Ada kolom kesebelasnya, itu adalah kolom perguruan tinggi lainnya, kampus swasta, kampus di manapun di seluruh Indonesia, boleh berpartisipasi dalam program ini,” tegasnya 

Seluruh pendaftar akan melewati tahapan seleksi yang hasilnya akan diumumkan pada bulan Juni. Kemudian bulan Juli akan dilaksanakan pembekalan dan kemudian berangkat menuju daerah penugasan masing-masing di 53 kawasan transmigrasi. 

Menteri Iftitah menekankan pengabdian dalam Transmigrasi Patriot bukan tentang kehebatan individu, melainkan tentang komitmen dan keberanian untuk bertahan dan memberi makna.

“Transmigrasi bukan tentang siapa yang paling hebat. Ini tentang siapa yang tetap tinggal ketika yang lain memilih pergi. Siapa yang bekerja ketika yang lain hanya berbicara. Siapa yang menjawab ketika bangsanya memanggil,” tegasnya.

Kementerian Transmigrasi mengajak seluruh anak muda Indonesia untuk mengambil bagian dalam gerakan ini. Sebab, Indonesia tidak menunggu kesempurnaan Indonesia menunggu kepedulian, kehadiran, dan tindakan nyata.

“Indonesia tidak menunggu kita sempurna. Indonesia menunggu kita peduli. Indonesia menunggu kita hadir. Indonesia menunggu kita berbuat. Indonesia memanggil,” pungkas Menteri Iftitah.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Perlindungan Orang Utan Kalimantan dari Karhutla Terus Diperkuat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:43

Benarkah Hari Kliwon Lebih Rawan Kecelakaan?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:17

Lindungi Kehidupan Nelayan, KKP Segel Tambak Udang Tak Berizin di Karimunjawa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:46

Pasis Dikreg Seskoad Peroleh Doktrin Kepemimpinan dari Wapang TNI

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:20

Dampak MBG Bikin Konsumsi Protein Anak Naik hingga Hampir 80 Persen

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:57

Ekonomi Biru Dijaga, Nelayan Disejahterakan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:40

Peradi Profesional Dukung Langkah Presiden Bersih-bersih Mafia Tambang

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:16

DPR Minta PLN Percepat Pemulihan Listrik di Batam-Bintan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:59

Staf Ahli Kapolri Pastikan Penanganan Maksimal Kabut Asap di Kalteng

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:43

Kepala BRAN dan Menteri PKP Bidik Percepatan Lahan untuk Rumah Rakyat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:20

Selengkapnya