Berita

Buku "Dokter Juga Manusia" karya Dokter Wawan Mulyawan. (Foto: Istimewa)

Publika

Dokter Juga Manusia

Mengembalikan Wajah Kemanusiaan Profesi Medis
SENIN, 04 MEI 2026 | 06:21 WIB | OLEH: CHAPPY HAKIM

SIANG tadi, dalam suasana hangat pertemuan halalbihalal keluarga besar TALOA, saya menerima sebuah buku dari seorang dokter. Momen itu terasa sederhana, tanpa seremoni, namun menyisakan kesan yang tidak biasa. 

Di tengah ceramah dan percakapan ringan dan nuansa kebersamaan, buku tersebut seperti membawa ruang refleksi tersendiri, sebuah undangan diam untuk melihat lebih dekat dunia yang selama ini kita kenal, tetapi mungkin belum sepenuhnya kita pahami.  Buku itu berjudul Dokter Juga Manusia tulisan Dokter Wawan Mulyawan.

Di tengah derasnya arus informasi, tidak semua pengetahuan benar-benar sampai sebagai pemahaman. 


Literasi menjadi kunci, terlebih dalam hal kesehatan, bidang yang menyentuh langsung kehidupan setiap orang, namun sering kali dipahami secara setengah-setengah. 

Di sinilah pentingnya literasi kesehatan populer yang bukan sekadar menyederhanakan istilah medis, tetapi menghadirkan pengetahuan yang akurat, mudah dipahami, dan tetap manusiawi. 

Karena tanpa pemahaman yang baik, informasi kesehatan justru berisiko menyesatkan, alih-alih menolong.

Lebih dari itu, literasi kesehatan yang baik membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih bijak tentang kapan harus mencari pertolongan medis, bagaimana memahami risiko, serta bagaimana membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat. 

Dengan pemahaman yang memadai, relasi antara tenaga medis dan masyarakat pun dapat tumbuh lebih setara, dilandasi kepercayaan dan komunikasi yang lebih terbuka. 

Tidak banyak dokter yang memilih menulis buku, apalagi untuk konsumsi publik yang lebih luas. 

Kesibukan klinis yang tinggi, tanggung jawab profesional, serta tuntutan sistem kesehatan sering kali menyisakan sedikit ruang untuk berhenti sejenak dan menuangkan pengalaman ke dalam tulisan. 

Akibatnya, suara dari dalam dunia medis yang sesungguhnya kaya akan cerita, refleksi, dan pelajaran kemanusiaan menjadi jarang terdengar secara utuh.

Di sisi lain, literasi kedokteran populer di masyarakat masih relatif terbatas. Informasi kesehatan sering hadir dalam bentuk yang kering, teknis, atau sebaliknya, terlalu disederhanakan tanpa konteks yang memadai. 

Ruang di antara keduanya yakni ruang yang menjembatani ilmu medis dengan pengalaman manusiawi masih belum banyak diisi.  

Dalam konteks inilah, kehadiran dokter yang bersedia menulis menjadi penting. Bukan sekadar untuk menyampaikan pengetahuan, tetapi juga untuk menghadirkan perspektif yang lebih jernih, empatik, dan membumi tentang dunia kedokteran itu sendiri.

Dalam percakapan publik hari ini, profesi dokter sering ditempatkan dalam dua kutub yang berseberangan. Di satu sisi, ia dihormati sebagai profesi mulia tetapi di sisi lain, tidak jarang muncul keraguan dan kritik terhadap praktik yang dianggap semakin berjarak dari nilai-nilai kemanusiaan. 

Di tengah lanskap persepsi yang kompleks itu, buku Dokter Juga Manusia karya Wawan Mulyawan hadir sebagai upaya sederhana namun penting yakni mengembalikan wajah manusia di balik profesi tersebut.  

Melalui dua puluh cerita pendek, penulis mengajak pembaca memasuki ruang yang jarang terlihat, ruang batin seorang dokter. 

Di sana, keputusan tidak selalu hadir dalam kepastian, melainkan sering kali dalam keraguan. Pilihan-pilihan profesional tidak berdiri sendiri, tetapi berkelindan dengan empati, kelelahan, tanggung jawab, dan kadang juga keterbatasan.  

Buku ini tidak berupaya mengidealkan dokter sebagai figur tanpa cela. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa justru dalam keterbatasan itulah sisi kemanusiaan menjadi relevan. 

Seorang dokter tidak hanya bekerja dengan pengetahuan medis, tetapi juga dengan hati yang harus terus belajar memahami.

Pengantar penulis memberi petunjuk bahwa karya ini lahir dari kegelisahan yang jujur yaitu tentang bagaimana relasi antara dokter dan masyarakat mengalami perubahan. 

Kepercayaan yang dulu terasa alami kini memerlukan usaha untuk dirawat kembali. Dalam konteks itulah, cerita-cerita ini menjadi jembatan kecil untuk saling memahami.  

Sebagai kumpulan cerpen, intensitas setiap kisah tentu tidak selalu sama. Ada bagian yang terasa sangat kuat dan menyentuh, sementara yang lain lebih tenang dan kontemplatif. 

Namun justru dalam keberagaman itulah buku ini menemukan ritmenya, nada yang tidak tergesa-gesa, memberi ruang bagi pembaca untuk merenung.  

Buku ini tidak menawarkan jawaban yang tegas, melainkan sebuah undangan untuk melihat kembali, dengan lebih jernih dan lebih empatik, profesi yang selama ini begitu dekat dengan kehidupan kita.  

Karena pada titik tertentu, memahami bahwa dokter juga manusia bukanlah bentuk pengurangan makna, melainkan justru cara untuk memulihkan hubungan yang lebih manusiawi.  

Pada akhirnya, kesehatan sering kali baru terasa nilainya ketika ia mulai terganggu. 

Dalam rutinitas sehari-hari, kita kerap menempatkan banyak hal sebagai prioritas, pekerjaan, pencapaian, ambisi, sementara kesehatan dianggap sebagai sesuatu yang akan selalu ada dengan sendirinya. 

Padahal, tanpa fondasi kesehatan yang baik, semua hal lain menjadi sulit dinikmati secara utuh.  

Ungkapan “health is not everything, but without health everything is nothing” mengingatkan kita bahwa kesehatan memang bukan satu-satunya hal dalam hidup, tetapi ia adalah dasar bagi hampir semua hal yang kita jalani. 

Menjaga kesehatan bukan sekadar urusan pribadi, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. 

Karena itu, kepedulian terhadap kesehatan seharusnya tidak menunggu sakit datang. 

Ia perlu dibangun sebagai kesadaran sehari-hari dalam pilihan kecil, kebiasaan sederhana, dan sikap yang lebih menghargai tubuh serta kehidupan itu sendiri.

Selamat untuk Dokter Wawan bagi Buku Barunya, sukses selalu.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Jaksa Agung: Ini Saatnya, Badai Harus Berlalu

Rabu, 02 September 2026 | 22:09

Dugaan Pelanggaran Etik, Perwira Polri Dilaporkan ke Propam

Rabu, 02 September 2026 | 21:49

BPOM Butuh Anggaran Rp2,4 Triliun, Rp509 Miliar Khusus Kawal MBG

Rabu, 02 September 2026 | 21:21

DPR Minta Pelaku Pembakaran Hutan Dihukum Mati

Rabu, 02 September 2026 | 21:04

Halmahera Tengah Diguncang Gempa, Belasan Rumah dan Faskes Rusak

Rabu, 02 September 2026 | 20:45

Polri Ujung Tombak Demokrasi dalam Aksi 27 Agustus

Rabu, 02 September 2026 | 20:22

Keluarga Indonesia Diajak Siapkan Warisan Bermakna

Rabu, 02 September 2026 | 19:46

Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo

Rabu, 02 September 2026 | 19:30

Siswa Tak Libur di Tengah Kabut Asap, Kadisdik Kalteng Diminta Tak Asal Ambil Keputusan

Rabu, 02 September 2026 | 19:23

Indonesia Tak Bisa Akal-akali Alokasi Jemaah Haji dari Arab Saudi

Rabu, 02 September 2026 | 19:17

Selengkapnya